Syaikh Abu’ Abdillah an-Nabaji

aydinsemazen.com

 

Beliau adalah Sa’id bin Buraid Abu ‘Abdillah an-Nabaji. Namanya dinisbahkan kepada sebuah desa di pedalaman Basrah yang bernama Nabaj. Termasuk salah seorang sufi dari masa awal. Segenerasi dengan Syaikh Dzun Nun al-Mishri. Hidup pada sekitar paruh terakhir abad kedua sampai paruh pertama abad ketiga Hijriah. Beliau adalah salah satu guru rohani dari Syaikh Ahmad bin Abi al-Hawari.

Dalam kitab Hilyah al-Awliya, Syaikh Abu Nu’aim al-Ashfihani menyatakan bahwa Syaikh Abu ‘Abdillah an-Nabaji adalah seorang sufi yang senantiasa bersorak gembira di hadapan Tuhannya, senantiasa berkeluh-kesah, merintih, dan gaduh lantaran menanggung beban kerinduan yang begitu dahsyat kepada Allah Ta’ala. Semuanya bercampur aduk menjadi gemuruh cinta yang sempurna dan tidak terkira kepada hadiratNya.

Kebahagiaan dan penderitaan bersatu di dalam diri beliau. Berbahagia karena merasa memiliki yang paling mulia sekaligus paling agung. Yakni, memiliki Tuhannya. Menderita karena cinta dan kerinduan teramat sakral yang mesti ditanggungnya terlampau berat untuk ukuran dan kapasitas seorang hamba seperti dirinya. Andaikan tidak ditopang sama sekali oleh pertolongan Allah Ta’ala, pastilah beliau akan binasa lantaran tergencet oleh beban cinta dan kerinduan yang tidak tepermanai itu.

Bagi Syaikh Abu ‘Abdillah an-Nabaji, agar seseorang sampai pada tingkatan rohani yang sempurna, yang seluruh sembah sujudnya dilandasi dengan ketulusan, cinta, dan kerinduan itu, minimal dia mesti menuntaskan lima perkara sebagaimana berikut ini: makrifat kepada Allah Ta’ala, mengetahui kebenaran, ikhlas di dalam beramal karena hadiratNya, mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw., mengonsumsi makanan yang halal.

Seseorang yang “makrifat” tapi tidak mengetahui kebenaran, maka makrifatnya tidak berguna. Seseorang yang makrifat tapi tidak ikhlas di dalam beramal, maka makrifatnya tidak berguna. Seseorang yang makrifat tapi tidak mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw., maka makrifatnya tidak berguna. Seseorang yang makrifat tapi tidak mengonsumsi makanan yang halal, maka semua yang disebutkan di atas itu juga tidak berguna.

Dalam konteks pemahaman di atas, apa yang disebut sebagai makrifat itu sudah dapat dipastikan tidak menunjuk kepada pengertiannya yang ideal sebagaimana yang didedahkan di dalam kitab-kitab tasawuf, tapi murni mengacu kepada pemahamannya yang paling sederhana dan permukaan. Sebab, kalau dipahami secara ideal, di dalam makrifat itu sebenarnya sudah terkandung adanya pengetahuan akan kebenaran, keikhlasan, dan lain sebagainya.

Sudah dapat dipastikan bahwa Syaikh Abu ‘Abdillah an-Nabaji telah mengalami makrifat sebagaimana yang telah dialami oleh para wali dan sufi. Bagaimana mungkin tidak, beliau itu sudah betul-betul merdeka dari segala macam keterpukauan terhadap apa pun selain Allah Ta’ala. Dan, karena rasa merdeka yang sedemikian sakral itu, beliau sangat menjunjung moralitas di dalam setiap perilaku dan tindakannya.

Dengan tegas beliau menyatakan bahwa moralitas itu sesungguhnya merupakan perhiasan yang sangat anggun bagi orang-orang yang telah terbebaskan dari seluruh pesona makhluk. Dan, beliau sendiri sudah membuktikan bahwa seluruh keterpesonaannya mutlak tertuju kepada asal-usul segala keindahan dan kenikmatan yang tidak lain adalah hadiratNya semata.

Beliau yang tidak pernah menolak satu pun dari hukum-hukum Allah Ta’ala, tidak pernah menyimpan apa pun selain Tuhannya, dan tidak pernah meminta apa pun kepada selain hadiratNya, merasa sangat bergembira ketika mengingat atau menyebut “al-Wahhab” yang merupakan salah satu namaNya.

Ketika mengingat atau menyebut nama sakral tersebut, beliau tidak hanya paham maknanya, tapi benar-benar merasakan bahwa Allah Ta’ala itu memang Maha Pemberi. Ketika menyebut nama itu, di saat itu juga beliau merasakan adanya kemurahan dan pemberianNya dengan begitu nyata. Hidup beliau betul-betul penuh dengan rasa keilahian. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.