Syaikh Abu ‘Abdillah as-Sijzi

Nama beliau adalah sebagaimana judul di atas. Termasuk salah seorang sufi agung yang dilahirkan Kharasan. Bersahabat dengan Syaikh Abu Hafsh al-Haddad yang wafat pada tahun 264 Hijriah.

Beliau sering kali bepergian dengan hanya bertawakkal murni. Yakni, tidak membawa perbekalan apa pun yang memang sepantasnya dibawa di dalam perjalanannya. Satu-satunya yang senantiasa beliau bawa di dalam hati dan keyakinannya adalah Allah Ta’ala, Tuhannya.

Salah seorang sufi menuturkan kisah pengalaman perjalanannya bersama beliau sebagaimana berikut ini: “Pada suatu hari, saya bersama Syaikh Abu ‘Abdillah as-Sijzi bepergian dengan berangkat dari Tripoli. Selama beberapa hari berjalan kaki, saya tidak makan apa pun.

Lalu, saya melihat sebuah labu yang tergeletak di jalan. Saya memungutnya untuk dimakan. Beliau melihat saya. Saya paham kalau beliau tidak suka. Maka saya buang labu itu.

Setelah itu, beliau mendapatkan uang sebanyak lima dinar, entah dari mana datangnya uang itu. Sampailah kemudian kami di sebuah perkampungan. Hati saya berbisik: ‘Boleh jadi beliau akan membeli makanan.’ Kami melewati perkampungan itu dan ternyata beliau tidak membeli sedikit pun makanan.

Beliau berkata kepada saya: ‘Mungkin kau berkata, ‘Saya berjalan kaki dan saya lapar. Sementara beliau tidak membeli makanan.’ Di perkampungan sebelah sana itu ada seseorang yang memiliki keluarga. Ketika kita sampai di sana, kita berikan dinar-dinar ini.’

Setelah kami keluar dari perkampungan itu, beliau bertanya kepada saya: ‘Kau akan pergi ke mana?’ Saya jawab: ‘Saya akan menemanimu.’ Beliau berkata: ‘Saya tidak mau berteman denganmu. Karena engkau telah berkhianat di dalam perkara sebuah labu.’ Maka saya pun meninggalkan beliau.”

Kisah di atas itu jelas bukan sekadar kisah omong-kosong. Namun mengindikasikan setidaknya dua hal penting dalam dunia spiritualitas. Pertama, kesungguhan Syaikh Abu ‘Abdillah as-Sijzi di dalam menempuh kehidupan dengan murni berbekal Allah Ta’ala. Keberpihakan beliau terhadap hadiratNya betul-betul mencapai puncak rohani tertinggi yang memungkinkan bagi beliau untuk digapai.

Ditutuplah ruang kemungkinan nafsu amarahnya, sehalus dan sesamar apa pun, untuk terimplementasi di dalam kehidupannya. Dan pada saat yang bersamaan, dibukalah secara lebar-lebar ruang kemungkinan bagi rohnya untuk sebanyak dan seleluasa mungkin dalam menumpahkan berbagai macam kebaikan.

Kedua, di dalam konteks kehidupan sosial, beliau jelas lebih mendahulukan kepentingan dan kebutuhan orang lain dibandingkan kepentingan dan kebutuhannya sendiri. Hal itu merupakan indikasi yang konkret bahwa beliau tak lain adalah orang yang telah “selesai” dengan dirinya sendiri. Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana dengan ketidakpedulian beliau terhadap sufi yang seperjalanan sebagaimana yang digambarkan dalam kisah di atas? Ketahuilah bahwa sikap beliau yang terkesan “pelit” terhadap teman seperjalanannya itu sesungguhnya merupakan bentuk kepedulian tersendiri di dalam dunia rohani. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.