Syaikh Abu Al-‘Abbas an-Nahawandi

Beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin al-Fadhl Abu al-‘Abbas an-Nahawandi. Berasal dari kota Nahawand, Hamadan, Iran. Beliau termasuk salah seorang murid Syaikh Ja’far al-Khaldi. Termasuk salah satu guru rohani Syaikh ‘Ammu. Beliau wafat pada tahun 331 Hijriah.

Beliau merupakan seorang sufi dengan semangat rohani yang senantiasa membara. Gairah spiritualnya selalu menyala-nyala. Mutlak tertuju kepada Allah Ta’ala. Sama sekali tidak tertuju terhadap apa atau siapa pun yang lain.

Dalam konteks heroisme rohani itu, dengan tegas beliau pernah menyatakan: “Seseorang yang memiliki semangat rohani yang tinggi, jika tangan kirinya memalingkan dia dari Allah Ta’ala, maka dia akan memotong tangan kirinya itu dengan tangan kanannya.”

Tentu saja kalimat tersebut bernada simbolis yang tidak bisa ditelan dengan pemahaman secara harfiah belaka. Artinya adalah bahwa sang sufi atau siapa pun yang mempunyai kobaran rohani sebagaimana beliau, tidak akan membiarkan adanya kelengahan sedikit pun yang dengan seenaknya sendiri mencaplok hatinya sehingga dia mengalami “keterputusan” dengan Allah Ta’ala.

Bagi sang sufi, keterputusan spiritual dengan hadirat-Nya, walaupun hanya sejenak, tidak lain adalah keterperosokan sekaligus kerugian. Sebaliknya, relasi spiritual yang kuat dan kukuh dengan Allah Ta’ala merupakan keberuntungan yang tidak ada duanya.

Karena itu, beliau atau siapa pun yang heroisme rohaninya seperti beliau, akan terus berusaha mati-matian untuk tidak terlepas sejenak pun secara spiritual dari adanya relasi yang tangguh dengan hadirat-Nya. Alasannya jelas bahwa keterlepasan itu sesungguhnya merupakan nama lain dari malapetaka rohani. Dan siapa pun yang telah mengerti harga dari martabat rohani, pasti tak ingin terlempar ke dalam jurang bencana itu.

Termasuk di antara “keterputusan” seseorang dengan Allah Ta’ala itu adalah adanya kebanggaan dengan suatu kelebihan yang dititipkan Rabbul’alamin pada dirinya. Karena semestinya adanya kelebihan itu memang bukan untuk dibangga-banggakan, tapi mutlak untuk disyukuri semata dengan penuh ketulusan.

Di kota Nahawand, Provinsi Hamadan, Iran, pernah ada seorang lelaki yang profesinya sebagai penjual minyak. Dia begitu perhatian terhadap para fakir-miskin. Tapi kemudian dia ditinggalkan oleh mereka. Para fakir-miskin itu tidak mau lagi menerima apa pun dari si penjual minyak.

Ketika persoalan tersebut ditanyakan oleh seseorang kepada Syaikh Abu al-‘Abbas an-Nahawandi, dengan tegas dan penuh kepastian beliau memberikan sebuah jawaban: “Si penjual minyak itu merasa bangga dengan pemberiannya kepada para fakir-miskin. Sehingga pemberiannya tertolak oleh mereka.” Perbuatan baik apa pun, dengan demikian, mesti dikembalikan kepada pelakunya yang hakiki yang tidak lain adalah Allah Ta’ala. Sedangkan kita atau siapa pun yang secara lahiriah melakukan kebaikan, ketahuilah bahwa sebenarnya secara substansial kita hanyalah dipakai oleh hadirat-Nya di dalam mengerjakan kebaikan itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.