Syaikh Abu Al-‘Abbas as-Suhrawardi

Beliau adalah Ahmad Abu al-‘Abbas as-Suhrawardi. Referensi utama yang menjadi tumpuan saya dalam penulisan esai yang berupa biografi singkat ini, Kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurrahman al-Jami, hanya menuturkan sesingkat itu tentang beliau. Sama sekali tidak menyebutkan tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Juga tidak menuturkan tentang di mana lahir dan wafat beliau.

Tapi tak apalah. Karena kisah spiritual tentang beliau yang dituturkannya sendiri mengandung beberapa pelajaran rohani yang sangat bermakna. Minimal untuk saya pribadi. Syukur-syukur juga untuk orang-orang lain dari kalangan para pembaca.

Pada masa hidupnya, beliau tinggal di Makkah bersama para sufi lain di waktu itu, seperti Syaikh as-Sayrawani dan lain sebagainya. Beliau bertutur tentang sepenggal pengalaman rohaninya di Makkah. “Pada hari penyembelihan binatang-binatang korban, saya berada di Mina waktu itu,” ungkapnya dengan sangat meyakinkan.

“Para sufi berkumpul, termasuk Syaikh as-Sayrawani. Seorang vokalis lalu bersenandung. Merdu sekali suaranya. Sedemikian khusyuk mendengarkan, Syaikh as-Sayrawani tiba-tiba menangis, lalu pergi meninggalkan para sufi yang lain di situ. Para sufi bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Syaikh as-Sayrawani, apakah beliau tidak suka terhadap sema alias musik kaum sufi atau karena alasan yang lain.

Syaikh Abu al-Husin as-Sarki juga hadir di situ pada waktu itu. Sedemikian percaya beliau pada kredibilitas rohani Syaikh as-Sayrawani. Beliau menyatakan bahwa seandainya Syaikh as-Sayrawani memang tidak suka terhadap sema, maka untuk selamanya beliau tidak akan pernah menghadiri lagi majelis musik kaum sufi tersebut.”

Syaikh Abu al-‘Abbas as-Suhrawardi menyatakan sependapat dengan Syaikh Abu al-Husin as-Sarki. Pada keesokan harinya, mereka berdua beserta para jama’ah yang lain berangkat untuk menemui Syaikh as-Sayrawani.

Sesampainya di tempat yang dituju, mereka mengucap salam dan hendak menyampaikan pertanyaan kepada Syaikh as-Sayrawani. Tapi sebelum mereka mengajukan pertanyaan, beliau sudah merespons duluan: “Sekian lama aku tidur di atas pasir dan batu-batu, berbantal lenganku, bekas pasir dan batu-batu menempel hampir di sekujur tubuhku. Waktu itu aku sudah terbiasa menghadiri majelis sema.

Sekarang nasibku berubah. Aku sudah duduk di atas permadani. Tidak seperti dulu lagi. Sementara nasib kalian tetap sebagaimana dulu. Bagaimana mungkin aku tidak tersiksa duduk bersama kalian di dalam kebersamaan menikmati sema.”

Sungguh betapa rawan jiwa kaum sufi. Mereka gampang tergetar oleh berbagai macam peristiwa, termasuk oleh alunan musik di antara mereka. Jiwa mereka lalu “terbang” menuju kepada Allah Ta’ala, asal-usul mereka yang sudah sedemikian lama dirindukan.

Mereka telah menjadikan bentangan kehidupan yang fana ini betul-betul bukan sebagai kediaman permanen. Tapi hanyalah merupakan tempat persinggahan di mana mereka berlomba-lomba mengasah cinta dan kerinduan sehingga sepenuhnya menjadi runcing kepada hadirat-Nya.

Di samping itu, di dalam konteks sosial, mereka mudah merasa miris ketika menyaksikan nasib orang lain yang lebih terpuruk ketimbang mereka. Berurailah air mata mereka. Guncanglah jiwa mereka. Lalu didermakan apa yang mereka miliki terhadap orang yang lebih papa itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.