SYAIKH ABU ‘ALI AL-HADDAD

 

Beliau adalah salah seorang murid dari Syaikh Abu Hafsh al-Haddad. Juga merupakan kebanggaan sekaligus salah satu di antara keajaiban-keajaiban Nisapur.

Dikisahkan bahwa ketika pertama kali beliau datang kepada Syaikh Abu Hafsh al-Haddad untuk berguru di bidang rohani dan penyucian diri secara spiritual, Sang Guru itu langsung menerima beliau. Sejak perjumpaan yang pertama kali itu juga Sang Guru memerintahkan kepada beliau untuk menekuni dunia perbesian atau pekerjaan-pekerjaan seorang pandai besi.

Sang Guru memerintahkan agar upah dari pekerjaannya itu diberikan sepenuhnya kepada para fakir-miskin. Beliau tidak boleh mencicipi sedikit pun. Sedangkan untuk makan dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari yang lain, beliau diperintahkan oleh gurunya itu untuk menjadi seorang pengemis dengan cara meminta-minta kepada para tetangga.

Perintah Sang Guru itu langsung dilaksanakan oleh beliau dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Walaupun terus mendapatkan cibiran dari orang-orang karena dirinya yang tidak lazim itu: bekerja dengan tekun yang jelas-jelas menghasilkan uang tapi juga sekaligus menjadi seorang pengemis. Betul-betul tidak masuk akal bagi mereka.

Sampai akhirnya mereka berkomentar dengan sangat sinis: “Coba perhatikan orang itu. Sungguh, betapa tamak dia. Sibuk bekerja sekaligus menjadi seorang pengemis. Tidak tahu malu.”

Setelah pada akhirnya mereka tahu dan sadar bahwa hasil pekerjaan beliau sepenuhnya diberikan kepada para fakir-miskin dan beliau meminta-minta semata untuk menekan egonya sendiri atas nama perintah gurunya, mereka kemudian sepenuhnya memberikan hormat dan takzim yang penuh keikhlasan kepada beliau. Beliau menjadi sangat terpuji di hadapan mereka.

Allah Ta’ala telah menyingkapkan kemahaanNya kepada beliau. Di saat itulah Sang Guru juga melarang beliau untuk meneruskan pekerjaan “palsunya” sebagai seorang peminta-minta. Tirakat rohaninya, berkat bimbingan Sang Guru yang terkesan ganjil itu, akhirnya disongsong oleh karunia rohani dari kemurahan hadiratNya.

Berarti dengan demikian, untuk sampai pada kecemerlangan spiritual yang sangat memukau itu mutlak diperlukan adanya kepatuhan yang tulus kepada Sang Guru pembimbing yang hatinya telah merdeka dari segala pamrih duniawi dan sekaligus pamrih ukhrowi. Patuh kepada Sang Guru yang sepenuhnya sudah terpukau kepada Allah Ta’ala, tak bercabang harsatnya kepada yang lain.

Jalur kepatuhan seperti itu adalah jalur rohani yang paling efektif untuk menempa dan memproses diri agar merasakan kebahagiaan tak terpermanai lantaran merasa dekat dan diistimewakan oleh hadiratNya.

Jalur kepatuhan seperti itu bahkan jauh lebih efektif dibandingkan dengan melakukan petualangan leterer ke halaman demi halaman kitab-kitab tasawuf yang dihasilkan oleh para wali dan sufi. Biarpun di dalam kitab-kitab itu denahnya sudah jelas bagaimana para musafir rohani itu bisa wushul atau sampai kepada Allah Ta’ala.

Dengan demikian, menjadi gamblang bagi kita bahwa ketersambungan sanad rohani itu merupakan suatu keniscayaan yang sama sekali tidak boleh diabaikan. Bukan apa-apa. Semata agar kita mengalami proses rohani yang efektif dan menyenangkan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.