Syaikh Abu ‘Ali Al-Jurjani

Beliau adalah Hasan bin ‘Ali Abu ‘Ali al-Jurjani. Termasuk sufi agung di Khurasan pada zamannya. Sangat alim dan tidak ada tandingannya. Bersahabat dengan Syaikh Muhammad bin ‘Ali at-Tirmidzi dan Syaikh Muhammad bin al-Fadhl al-Balkhi. Umur beliau tidak jauh terpaut dengan umur kedua sahabatnya itu.

Menurut beliau, ada tiga untaian ketauhidan yang semestinya senantiasa menyala di diri setiap salik yang sedang menempuh perjalanan panjang rohani menuju kepada Tuhan semesta alam. Yaitu, adanya kecemasan, pengharapan dan cinta.

Kecemasan itu muncul ketika si salik menyaksikan rangkaian dosa-dosanya sendiri di satu sisi, sementara pada sisi yang lain dia melihat adanya kemungkinan dirinya mendapatkan siksa lantaran dosa-dosanya tersebut. Artinya adalah bahwa yang dikhawatirkan dengan adanya dosa-dosa itu tidak lain adalah kalau Allah Ta’ala menghadapinya kelak dengan keadilan.

Sekecil apa pun dosa itu, kalau hadiratNya menghadapinya dengan keadilan, pasti menjadi sandungan dan masalah besar bagi keselamatan seseorang. Itulah sebabnya, kenapa dosa itu mesti memunculkan adanya kecemasan. Karena tidak ada siapa pun yang kuasa memaksa Allah Ta’ala untuk tidak menggunakan keadilan di dalam menghadapi dosa seseorang.

Sementara pengharapan itu muncul ketika seorang salik menyaksikan perbuatan-perbuatan baiknya di satu sisi, dan pada sisi yang lain dia berbahagia lantaran terbayang adanya janji-janji pahala yang menghablur dari arah kemurahan hadiratNya.

Baik kecemasan maupun pengharapan sama-sama pentingnya di dalam diri setiap salik. Andaikan tidak ada kecemasan yang disebabkan oleh dosa-dosa, niscaya seseorang akan terus melakukan kelancangan demi kelancangan di dalam menumpuk dosa-dosa.

Andaikan tidak ada pengharapan terhadap ampunan dan janji-janji pahala dari Allah Ta’ala, niscaya seseorang akan senantiasa berputus asa atau bahkan sama sekali tidak hirau terhadap keselamatannya sendiri, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Kecemasan dan pengharapan semestinya menjelma sebagai dua sayap rohani yang senantiasa dikepakkan untuk melipat jarak spiritual yang membentang antara para salik dengan hadiratNya. Dengan sayap kecemasan, siapa pun tidak akan pernah lalai di dalam menabung berbagai macam kebaikan. Dan dengan sayap pengharapan, siapa pun tidak akan putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah Ta’ala.

Sedangkan cinta itu muncul dari adanya penglihatan batin yang cemerlang terhadap berbagai guyuran karunia yang datang dari hadiratNya. Betapa Allah Ta’ala menganugerahkan aneka ragam nikmat yang tidak terhitung jumlahnya kepada para hamba dengan sama sekali tidak karena mengharapkan pamrih apa pun. Tapi murni karena cintaNya semata.

Cinta yang tak lain merupakan cahaya di atas segala cahaya, dengan demikian, dapat kita saksikan dan rasakan sepenuhnya merupakan gelombang yang senantiasa menderu-deru datang dari arah hadiratNya. Dan kita yang sesungguhnya tak lain merupakan teofani-teofani Allah Ta’ala, wajib untuk senantiasa menderas pelajaran-pelajaran cintaNya agar hidup kita terjaga kualitasnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.