Syaikh Abu Bakar al-Kisai

Beliau adalah Abu Bakar al-Kisai ad-Daynuri. Berasal dari Qohestan, Iraq. Menetap di Denivar, Iran. Beliau adalah seorang sufi yang agung. Bagian terdepan di antara para sahabat Syaikh Junaid al-Baghdadi. Selain menekuni sejumlah latihan rohani, beliau juga sebagai seorang sufi yang gemar mengembara.

Di antara testimoni tentang beliau adalah apa yang dilontarkan oleh Syaikh Junaid al-Baghdadi: “Jika bukan karena Syaikh Abu Bakar al-Kisai, aku tidak akan ada di Iraq.” Di antara keduanya memang terjalin hubungan spiritual yang sangat akrab. Mereka saling berkirim surat. Dan beliau wafat sebelum Syaikh Junaid al-Baghdadi.

Lewat surat menyurat itu, Syaikh Junaid al-Baghdadi mengajukan sekitar seribu persoalan kepada Syaikh Abu Bakar al-Kisai, dan semuanya dijawab oleh beliau dengan sangat memuaskan. Hal itu menunjukkan adanya reputasi beliau, baik di bidang intelektualitas maupun spiritualitas.

Saat menjelang wafat, beliau membasuh seluruh surat yang pernah dikirim oleh Syaikh Junaid al-Baghdadi agar tidak bisa dibaca lagi oleh siapa pun. Ketika kabar wafatnya beliau akhirnya sampai juga kepada Syaikh Junaid, dengan spontan Syaikh Junaid merespons: “Semoga beliau tidak lupa membasuh surat-surat yang datang dariku.”

Ketika orang-orang memberikan kesaksian tentang telah dibasuhnya surat-surat itu oleh si sufi sebelum disongsong oleh ajal, Syaikh Junaid menjadi sangat bergembira sekali mendengarnya. Sebuah kegembiraan yang mengindikasikan bahwa jiwa Syaikh Junaid betul-betul merasa plong karenanya.

Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam: “Sesungguhnya Syaikh Junaid tidak khawatir surat-suratnya itu akan diambil oleh para ulama dan para penguasa. Tapi beliau khawatir kalau surat-surat itu diambil oleh para “sufi” gadungan. Dengan surat-surat itu, mereka bisa ngoceh di sana-sini agar bisa diterima dan diberi pangkat oleh orang-orang bodoh.”

Kembali ke Syaikh Abu Bakar al-Kisai. Beliau adalah seorang sufi yang sedemikian akrab dengan Tuhannya, terutama melalui pintu Qur’an. Betapa intensifnya beliau menekuni pembacaan kalam-kalam hadiratNya, baik secara lahir maupun secara batin. Seolah bacaan Qur’an sampai mendarah daging bagi beliau.

Dari saking kuatnya bercengkerama dengan Allah Ta’ala lewat bacaan-bacaan Qur’an yang tidak pernah berhenti, sampai-sampai ketika beliau tidur, terdengar dari arah dadanya bacaan Qur’an sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh Abu al-Khair al-‘Asqalani.

Sungguh, betapa adanya “kemanunggalan” beliau dengan kalam-kalam hadiratNya itu merupakan karunia rohani yang sangat dahsyat dan luar biasa. Itu artinya adalah bahwa beliau sudah betul-betul merasakan Qur’an sebagai hidangan yang paling lezat yang disuguhkan langsung dari Allah Ta’ala.

Itulah orang yang telah bermahkotakan kemuliaan dan keagungan kalam-kalam hadiratNya. Berbagai macam perspektifnya, berbagai macam kalimatnya, berbagai macam perilakunya, dan lain sebagainya: semuanya tentu saja telah bernuansa Qur’ani. Sungguh, sangat menyenangkan sekaligus menenteramkan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Sheel Reply

    Masya Allah… Semoga kita senantiasa diberi kenikmatan tersebut. Bisa begitu dekat dan akrab dengan Al Qur’an.. aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.