Syaikh Abu Dzar at-Tirmidzi

Nama beliau adalah persis sebagaimana judul di atas. Saya tidak menemukan referensi yang lebih tentang namanya. Juga tentang kapan beliau lahir dan wafat, saya tidak menemukan datanya. Dalam referensi yang saya miliki, kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami, hanya disebutkan bahwa beliau termasuk salah satu sufi dari Kharasan yang memiliki banyak karamah.

Tentang keunggulan dan reputasi spiritual sang sufi, Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif memberikan testimoni sebagaimana berikut ini: “Aku bersahabat dengan Syaikh Abu Dzar,” tuturnya. “Beliau memiliki jemaah yang jumlahnya sangat banyak. Setiap kali dimintai tolong tentang apa saja oleh jemaahnya itu, beliau langsung berdiri melaksanakan shalat. Setelah itu, apa saja yang menjadi hajat jemaahnya itu langsung terlaksana.”

Ada setidaknya dua poin penting yang disampaikan secara tersirat di dalam testimoni tersebut. Pertama, adanya kedudukan rohani yang istimewa bagi Syaikh Abu Dzar at-Tirmidzi di hadapan Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin tidak, shalat beliau telah dijadikan sebagai sarana yang ampuh di dalam berkomunikasi dengan hadiratNya.

Sungguh hal itu merupakan karunia rohani yang luar biasa. Dengan karunia itu, berarti Allah Ta’ala senantiasa mengundang sang sufi untuk selalu menemuiNya, baik datang hanya dengan degup-degup cinta semata maupun sambil membawa serta berbagai persoalan jemaahnya.

Bagi beliau, shalat merupakan gerbang paling sakral yang juga dipakai oleh beliau untuk meluruhkan keseluruhan dirinya di tengah hamparan samudra keilahian sehingga beliau terbebaskan dari adanya cengkeraman dualisme. Yaitu, adanya keyakinan terhadap wujud Allah Ta’ala di satu sisi dan adanya penglihatan terhadap dirinya sendiri di sisi yang lain.

Kedua, di puncak transendensi diri itu, sang sufi dijadikan oleh hadiratNya sebagai duta pertolongan bagi orang-orang lain, utamanya bagi jemaahnya sendiri. Di puncak kebersamaan dengan Allah Ta’ala lewat pintu shalat, beliau tidak melupakan berbagai persoalan jemaahnya.

Dengan demikian, hati beliau terkesan terbelah menjadi dua. Yang satu tertuju kepada hadiratNya secara murni, sementara yang satunya lagi tertuju kepada berbagai persoalan jemaahnya. Tapi benarkah memang demikian?

Tidak. Sama sekali tidak. Karena dalam kosmologi profetik kaum sufi, menjumpai Allah Ta’ala itu tidak saja ditunjukkan dengan adanya distansi dengan segenap makhluk, tapi pada saat yang bersamaan juga diekspresikan dengan adanya cinta dan kasih sayang terhadap makhluk.

Seolah berlawanan. Di satu sisi mengambil jarak dari makhluk. Tapi di sisi yang lain justru terlibat dengan nasib makhluk. Maksudnya tak lain bahwa yang disebut mengambil jarak dari makhluk adalah menjadikan hati bebas dari hasrat terhadap mereka secara an sich. Sedangkan terlibat dengan mereka lewat sapaan cinta dan kasih sayang murni merupakan pengejawantahan dari perintah hadiratNya.

Sebagaimana Syaikh Abu Dzar at-Tirmidzi, kita mesti senantiasa melakukan ikhtiar spiritual dengan memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dalam setiap kondisi kita. Setelah itu, moga hadiratNya menganugerahkan kepada kita curahan cinta dan kasih sayang yang meluap-luap kepada segenap makhlukNya. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.