Syaikh Abu Ja’far as-Samani

(avifahve)

Inilah seorang sufi yang saya betul-betul tidak tahu identitasnya selain nama yang merupakan judul di atas. Berasal-usul dari mana beliau? Di sekitar tahun berapa beliau menjalani kehidupannya? Saya sungguh tidak tahu. Kitab utama rujukan saya di dalam penulisan biografi singkat para sufi, Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurrahman al-Jami, sama sekali tidak mengabarkan biodata beliau.

Saya tergerak untuk menulis sepenggal substansi kisah perjalanan hidup beliau karena saya tergugah oleh apa yang dituturkannya sendiri. “Pada suatu waktu di masa silamku,” tutur beliau dengan sangat mengesankan, “aku menempuh sebuah perjalanan panjang hingga akhirnya aku sampai di sebuah gunung di Lebanon.

Di sana, aku berjumpa dengan sekelompok Wali Abdal. Di antara mereka, ada seorang pemuda yang kelihatan setia menjadi pelayan mereka. Dia senantiasa memasak makanan untuk mereka. Aku berada di antara mereka selama tiga hari. Di pagi hari yang keempat, mereka bilang kepadaku: ‘Engkau telah melihat sendiri penghidupan kami? Pergilah dari sini. Karena engkau tidak akan sanggup menemani kami.’ Mereka membiarkan aku. Lalu, kutinggalkan mereka.

Setelah sekian lama dari peristiwa itu, aku pergi ke Baghdad. Aku terkejut. Di sana, aku menyaksikan sang pemuda yang dulu pernah menjadi pelayan bagi para Wali Abdal di sebuah gunung di Lebanon. Sekarang dia menjadi tukang lelang. ‘Siapa yang berani menaikkan tawaran lagi?’ katanya kepada orang-orang di sekitarnya.

Terus kupandangi orang itu. Apakah dia si pemuda yang pernah aku temui di sebuah gunung di Lebanon atau bukan. ‘Kenapa kau terus memandangiku?’ tanyanya. ‘Demi kebenaran Allah Ta’ala dan orang-orang terkasihNya, apakah engkau si pemuda yang pernah menjadi pelayan bagi para Wali Abdal di sebuah gunung di Lebanon itu?’ tanyaku dengan penuh penasaran. ‘Ya,’ jawabnya singkat.

‘Kenapa engkau terlempar ke sini? Bagaimana kondisimu sekarang?’ tanyaku dengan masih penasaran. ‘Begini ceritanya. Pada suatu hari ketika itu, aku memasak ikan untuk dihidangkan kepada para Wali Abdal. Ketika ikan-ikan itu sudah matang dan mau kubagikan untuk mereka, sengaja bagian yang terbaik dari ikan-ikan itu kujatahkan untuk diriku sendiri. Dan inilah akibatnya, aku terpelanting ke sini sebagaimana yang kau saksikan’.”

Tentu saja sudah dapat kita pastikan bahwa sebuah kisah yang dituturkan oleh sang sufi itu sama sekali bukanlah merupakan himpunan kalimat semata. Tapi penuh dengan iktibar dan pelajaran rohani yang sangat berharga. Termasuk bagi kita yang senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengalami pendakian spiritual dan menabung bekal-bekal rohani untuk hari-hari keabadian.

Pelajaran pertama adalah bahwa betapa pentingnya bagi kita untuk senantiasa bepergian demi semakin memperluas wawasan spiritual tentang kemahaan Allah Ta’ala lewat pembacaan kita terhadap berbagai macam makhluk dan sekian peristiwa yang kita jumpai di sepanjang perjalanan. Kalau kita jeli, semua itu pastilah terlihat menampung kehadiran hadiratNya yang akan semakin memperkaya dan menggetarkan batin kita.

Kedua, perjumpaan dengan orang-orang terkasih di hadapan Allah Ta’ala sesungguhnya tak lain merupakan perjumpaan dengan karunia-karunia agung di dalam dunia rohani. Andaikan kita mengalami hal itu, tentu saja tugas yang paling pokok bagi kita adalah mengambil faidah spiritual sebanyak mungkin dari mereka sesuai dengan kesanggupan yang kita miliki.

Ketiga, untuk mendapatkan faidah dan barokah sebanyak mungkin dari mereka, tentu kita harus bersikap sopan dan penuh takzim terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang pilihan hadiratNya. Dengan demikian, cinta dan penghormatan kita kepada mereka, sejatinya secara hakiki tidak lain merupakan cinta dan penghormatan kita kepada Allah Ta’ala.

Jangan sampai yang kita persembahkan kepada mereka adalah kebalikannya. Yaitu, tidak sopan dan tidak hormat terhadap mereka. Peristiwa getir yang telah dialami oleh si pemuda sebagaimana yang termaktub di dalam kisah di atas, tentu telah menjadi warning bagi kita agar kita tidak mengalaminya juga. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!