Syaikh Abu Shalih al-Muzayyin

Berbagai literatur tentang biografi para sufi yang saya miliki, hanya Kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami yang menyebut nama beliau. Itu pun dengan keterangan yang sangat minim. Tak lebih dari lima baris.

Nama beliau persis sebagaimana judul di atas. Tidak lebih dan tidak kurang. Tapi saya meyakini bahwa karena nama di atas adalah kun-yah semata, pastilah beliau mempunyai nama lahir yang tidak sama dengan nama di atas. Tapi saya tidak tahu karena berbagai referensi yang saya miliki tidak menyodorkan hal itu.

Beliau wafat kurang lebih pada sekitar tahun 300 Hijriah. Hal ini diasumsikan karena beliau bersahabat dengan Syaikh Abu al-‘Abbas bin ‘Atha’ yang wafat pada tahun 309 Hijriah.

Beliau termasuk di antara deretan para sufi agung. Sepanjang hidupnya, beliau memilih khalwat, menepi ke pojok-pojok sunyi kehidupan, menghindari gemuruh kehidupan sosial, tidak berbaur dengan siapa pun. Kalau demikian, apakah beliau atau siapa pun yang seperti beliau bisa dikatakan tidak bermanfaat bagi berlangsungnya kehidupan?

Sebentar dulu. Jalur kemanfaatan bagi kehidupan itu ada dua. Pertama, seseorang terlibat langsung baik secara fisik, psikis maupun rohaninya, di dalam memberikan kontribusi bagi berputarnya roda kehidupan. Hal itu yang ditempuh oleh banyak orang. Kedua, tidak terlibat langsung secara fisik, tapi dimensi psikis dan rohaninya jelas dicurahkan untuk berlangsungnya kehidupan yang damai, tenteram dan berhiaskan keberkahan.

Dan jelas bahwa sang sufi menempuh jalur yang kedua tersebut. Semakin tinggi derajat rohani seseorang di hadapan Allah Ta’ala, maka semakin besar dan semakin bermutu kontribusinya bagi kehidupan, walaupun kontribusi itu tidak mesti empirik seperti pembangunan jalan dan jembatan.

Syaikh Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari pernah menuturkan tentang keinginannya untuk bersahabat dengan Syaikh Abu Shalih al-Muzayyin. “Aku melihat beliau di Tanah Haram, Makkah,” tuturnya. “Aku ingin sekali untuk menemani beliau. Beliau lalu bilang: ‘Wahai Sahl, jika besok Abu Shalih meninggal, kau akan berteman dengan siapa?’ Aku jawab: ‘Tidak tahu.’ Beliau berkata: ‘Jika demikian, perhitungkanlah perkara itu.’  Secara mendadak beliau seketika lalu hilang dari hadapanku.”

Sangat menarik kalimat yang disampaikan oleh Syaikh Abu Shalih al-Muzayyin di atas. Makna hakiki di dalam kalimat itu menghendaki tidak adanya pertalian antara beliau dengan siapa atau apa pun dari kalangan makhluk. Pertaliannya murni terhubung dengan Allah Ta’ala. Tidak direcoki oleh adanya “main mata” dengan segala sesuatu yang selain hadirat-Nya.

Yang tidak kalah menarik dibandingkan dengan hal itu adalah lenyapnya beliau secara misterius dari hadapan Syaikh Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari. Hal itu mengindikasikan secara konkret bahwa beliau sama sekali tidak ingin terkurangi fokusnya kepada Allah Ta’ala walaupun hanya secuil. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa dimensi batiniah beliau telah jauh melampaui dan mendominasi dimensi lahiriahnya. Sehingga dimensi lahiriahnya itu bisa dengan sangat mudah ditekuk dengan cara seketika dilenyapkan dari pandangan orang yang ada di depannya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.