Syaikh Abu Tsabit Ar-Razi

Hira Qazi

 

Beliau termasuk di dalam tiga golongan manusia sekaligus: salah seorang ulama yang sangat mumpuni, qurra’ atau orang yang ahli di bidang kefasihan dan kemerduan membaca Qur’an, dan termasuk di antara mereka yang fakir. Beliau sezaman dengan Syaikh Yusuf bin al-Husin ar-Razi yang wafat pada tahun 303 Hijriah.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang sufi yang satu ini. Saya memasukkan beliau ke dalam kumpulan pembahasan biografi para sufi karena saya tertarik terhadap salah satu kisahnya sebagaimana termaktub di dalam kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami. Dan itu merupakan kisah satu-satunya yang berkaitan dengan beliau. Bagi saya pribadi, kisah berikut ini cukup menarik.

“Pada suatu hari,” kata Syaikh Abu Tsabit ar-Razi, “saya duduk di masjid mengajari anak kecil membaca Qur’an. Selang beberapa waktu yang tidak lama, Syaikh Yusuf bin al-Husin melintas di depan kami. Sebelum melanjutkan langkah-langkahnya, beliau mengatakan: ‘Tidakkah engkau malu mengajarkan Qur’an kepada seorang yang banci?’

Di dalam batin, saya berujar: ‘Subhanallah. Kenapa dia menyebut anak kecil yang merupakan burung pipit surga sebagai orang banci?’ Waktu demi waktu berlalu. Dan saya betul-betul menyaksikan anak kecil yang dulu saya ajari Qur’an itu benar-benar telah menjadi bagian dan bergabung dengan para banci. Maka saya pergi menemui Syaikh Yusuf bin al-Husin, saya pun lalu berbai’at kepada beliau.”

Bagi saya pribadi, minimal ada dua hal yang semestinya kita dalami dari kisah tersebut, tidak saja dengan ilmu pengetahuan yang tersedia untuk diri kita, tapi juga dengan penghayatan dan perenungan agar kita bisa merasakan kenikmatan spiritual sebagaimana yang telah dialami oleh sufi tersebut.

Pertama, tentang ketajaman penglihatan yang ada pada diri Syaikh Yusuf bin al-Husin yang bisa memastikan bahwa anak kecil yang diajari Qur’an oleh Syaikh Abu Tsabit ar-Razi akan “menjadi” banci. Ini merupakan ketajaman penglihatan yang sanggup menembus tembok-tembok waktu. Dan ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan kesanggupan menembus tembok-tembok ruang. Untuk yang kedua ini, jin pun bisa melakukannya.

Ketajaman penglihatan seperti itu muncul dari kesucian batin si sufi. Yaitu, ketika hati si sufi tersebut telah terbebaskan dari berbagai kegandrungan kepada segala sesuatu selain Allah Ta’ala. Pelajaran spiritual yang bisa kita ambil di sini adalah bahwa tidak ada apa pun yang lebih penting dan lebih menarik dibandingkan dengan hadiratNya. Segala sesuatu menjadi pudar dan bahkan secara hakiki tiada di hadapan Allah Ta’ala.

Kedua, tentang perkara kebancian seseorang. Di dalam kepustakaan spiritual kaum sufi, secara simbolik adanya kebancian itu menunjuk kepada ketidakberesan seseorang di dalam mengatasi rintangan-rintangan rohani yang menghadang di hadapannya. Karena itu, di dalam spiritualitas pantangan bagi kita untuk menjadi banci, menjadi orang yang tidak punya ketegasan di dalam memastikan keberpihakan kepada hadiratNya.

Sebaliknya, secara rohani kita mesti tampil sebagai laki-laki biarpun kelamin kita perempuan. Yaitu, dengan mengerahkan seluruh kekuatan kita, baik secara lahir maupun batin, untuk senantiasa siaga menumpas begal-begal rohani, menerjang berbagai rintangan dengan penuh siasat dan ketulusan, serta belajar melipat jarak yang membentang luas antara kita dengan Rabbul’alamin.

Dengan adanya kesungguhan, ketulusan, dan pertolongan dari Allah Ta’ala, kita akan tampil di medan kehidupan ini sebagai para lelaki rohani yang senantiasa siap membentangkan berbagai pertolongan hadiratNya kepada mereka yang lemah secara spiritual dan mengulurkan tangan pengharapan mereka demi kemajuan rohani. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.