Syaikh Abu Turob an-Nakhsyabi

(Whirling Dervish Painting by Faruk Koksal)

 

 

Itu kun-yah beliau. Sedangkan namanya adalah ‘Askar bin Muhammad bin al-Hushin. Beliau merupakan kebanggaan Kharasan dan termasuk sufi agung di antara sufi-sufi yang lain. Beliau sangat andal di bidang ketangguhan spiritual, di bidang asketisme, dan di bidang tawakal.

Pada zamannya, ada sekitar seratus orang sufi yang memasuki padang pasir dengan bertawakal secara murni, tanpa membawa bekal sedikit pun, tanpa ikhtiar untuk mendapatkan rezeki, mutlak hanya bersandar secara langsung kepada Allah Ta’ala. Semua sufi itu gagal, dengan segera mereka kembali ke rumah masing-masing, kecuali hanya tiga orang: Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi, Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Jala’, dan Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri.

Beliau bersahabat dengan Syaikh Abu Hatim al-‘Aththar al-Bashri dan Syaikh Hatim al-Asham al-Balkhi. Beliau adalah guru rohani bagi Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Jala’ dan Syaikh Abu ‘Ubaid al-Busri.

Beliau wafat di tahun yang sama dengan wafatnya Syaikh Dzunnun al-Mishri, 245 Hijriah, dengan cara yang sangat menakjubkan. Yakni, beliau shalat di padang pasir dengan sedemikian khusyuk, dengan sedemikian lezat, dengan sedemikian meluap-luap cintanya kepada Allah Ta’ala sehingga sengatan panas matahari tak dirisaukan sama sekali. Saat shalat itulah beliau wafat dalam keadaan berdiri. Dan terus berdiri walaupun dalam keadaan wafat hingga setahun kemudian. Subhanallah.

Berangkat dari pengalaman spiritual yang telah ditekuninya dengan penuh kesungguhan dan ketulusan, beliau menyatakan bahwa seseorang yang makrifat kepada hadiratNya tidak akan pernah terkeruhkan oleh apa pun, baik yang terasa begitu getir maupun yang sangat manis dan penuh dengan godaan.

Bahkan, menurut beliau, yang terjadi malah sebaliknya. Yakni, dalam kondisi apa saja seseorang yang makrifat itu akan senantiasa menyinari segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Menjadi pengurai bagi berbagai persoalan yang kusut dan menjadi solusi bagi berbagai problem kehidupan yang mendera.

Rahasia apa gerangan yang tersimpan di balik kemakrifatan itu sehingga orang yang mengalaminya tidak bisa terkeruhkan oleh apa pun? Jawabannya tidak lain adalah bahwa orang yang makrifat itu telah sepenuhnya ditopang oleh pertolongan dan kemahaanNya sehingga dia tidak tergoyahkan oleh segala yang remeh-temeh dari persoalan-persoalan dunia.

Dalam rangka menyongsong pertolongan Allah Ta’ala itu, seseorang yang makrifat terlebih dahulu membaca dan menyaksikan dirinya sendiri secara saksama. Apa yang ditemukan? Ternyata yang ada pada dirinya tak lain adalah tumpukan ketidakberdayaan yang sama sekali tidak bisa diandalkan untuk apa pun. Termasuk terhadap hal-hal yang kecil dan sepele.

Bersamaan dengan penyaksian yang tandas terhadap dirinya itu, dia juga menyaksikan kemutlakan Tuhannya yang murni berlawanan dengan dirinya sendiri. Betapa Dia Maha Sempurna. Maha Absolut. Maha Mutlak. Berlepotan dengan cinta dan kasih-sayang kepada seluruh makhlukNya.

Di saat itulah orang yang makrifat itu sepenuhnya mengenakan jubah kefakiran dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Yakni, dia merasa tidak akan pernah bisa eksis tanpa keterlibatan rahmat dan pertolongan hadiratNya. Dan di saat itu pula Allah Ta’ala menopang keseluruhan dirinya dengan ketangguhan, cinta, dan kasih-sayang. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. MUHIMMATUL IFADAH Reply

    Berharap dapat bertatap muka dengan Beliau :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published.