Syaikh Abu ‘Utsman al-Maghribi

irmagrant.com

 

Beliau adalah Sa’id bin Sallam Abu ‘Utsman al-Maghribi, salah seorang murid dari Syaikh Abu al-Hasan ash-Shaigh ad-Daynuri. Berasal dari kota Kairouan, Tunisia. Tinggal di Mekkah selama beberapa tahun. Kemudian pindah ke Nisapur. Bersahabat dengan Syaikh Abu ‘Ali bin al-Katib, Syaikh Habib al-Maghribi, dan Syaikh Abu ‘Amr az-Zujaji. Wafat di sana pada tahun 373 Hijriah. Kuburan beliau berada di samping kuburan Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri dan Syaikh Abu ‘Utsman an-Nashibi.

Tentang peristiwa yang menyebabkan diri sang sufi menempuh jalan keilahian, beliau menuturkan sendiri kisahnya sebagaimana berikut ini: “Yang menjadi pemicu tobat dan permulaanku memasuki lorong rohani adalah bahwa aku memiliki kuda dan anjing. Dengan kedua binatang itu, setiap hari aku pergi untuk berburu. Di dalam berburu, aku membawa sebuah kendi yang kuisi susu untuk diminum.

Pada suatu hari, aku ingin minum susu dalam kendi itu. Seketika itu juga anjingku menggonggong dengan sangat keras. Aku mau minum susu lagi, anjingku malah menggonggong lagi dengan lebih keras. Saat aku mau meminum lagi untuk ketiga kalinya, dengan cepat anjingku lalu mendahului minum susu di kendiku.

Setelah itu, seluruh tubuh anjingku menjadi bengkak. Tak lama kemudian, ia lalu mati. Ternyata anjingku berbuat demikian lantaran ia telah melihat seekor ular minum dari susu dalam kendiku. Ia telah rela menggantikan diriku dengan dirinya sendiri. Setelah peristiwa itu, aku langsung bertobat dan memasuki jalan rohani ini.”

Ada beberapa pelajaran spiritual yang bisa kita ambil dan renungi dari kisah Syaikh Abu ‘Utsman al-Maghribi tersebut. Pertama, dalam kondisi yang sangat lalai dan jauh dari Allah Ta’ala, dalam kondisi kalah dan terkapar di bawah taring dan keberingasan nafsu, siapa pun tidak boleh putus asa untuk mendapatkan karunia rohani. Sebab, boleh jadi sebentar lagi mereka akan mendapatkan pancaran cahaya Ilahi sebagaimana yang telah dialami oleh sang sufi.

Kedua, makhluk apa saja, termasuk yang sering kali dipojokkan dan dihina oleh banyak orang seperti anjing, dengan penuh kasih-sayang bisa digunakan oleh hadiratNya untuk menolong siapa pun yang dikehendaki. Dalam konteks ini, apa saja bisa menjelma sebagai pertolongan Tuhan semesta alam. Karena itu, pandanglah segala sesuatu sebagai kemungkinan yang bisa menjelma “tangan” kemahaanNya.

Ketiga, peristiwa apa pun, baik yang spektakuler maupun yang remeh-temeh di pandangan kita, bisa menjadi pintu pembuka bagi siapa pun untuk memasuki babakan kesadaran baru di dalam dunia rohani. Berbagai peristiwa pembuka itu tidak lain hanyalah merupakan lantaran yang sebenarnya tidak mempunyai kekuatan apa pun untuk menggetarkan hati manusia agar menempuh lorong rohani. Allah Ta’ala itulah yang sesungguhnya merupakan satu-satunya dalang secara hakiki yang berada di balik peristiwa migrasi rohani tersebut.

Semenjak peristiwa ular berbisa dan kesetiaan seekor anjing itu, Syaikh Abu ‘Utsman al-Maghribi betul-betul suntuk memfokuskan diri di dalam berbagai macam sembah sujud kepada hadiratNya. Tidak asal-asalan, tapi juga penuh dengan sikap yang sangat terpuji di dalam menjalani umurnya yang sarat dengan penghambaan itu. Sampai-sampai dituturkan oleh Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi bahwa ketika bermukim di Mekkah selama tiga puluh tahun, Syaikh Abu ‘Utsman al-Maghribi tidak pernah kencing di Tanah Haram yang luasnya kurang lebih 550 km persegi itu. Hal itu dilakukan demi penghormatan beliau terhadap Baitullah.

Sedemikian cemerlang reputasi spiritual yang diberikan kepada beliau. Pun, Allah Ta’ala menganugerahkan firasat yang sangat tajam dan karamah yang beraneka ragam kepada beliau. Di antaranya adalah ramalan beliau yang sangat titis tentang kematiannya sendiri. “Pada suatu hari ketika aku mati, para malaikat akan ikut serta menimbuni jenazahku dengan debu.”

Dan, betul sebagaimana kesaksian Syaikh Abu al-Husin: “Aku termasuk orang yang menghadiri kematiannya. Setelah jasad beliau dikubur, debu-debu jadi beterbangan dengan sangat pekat sehingga seseorang tidak dapat menyaksikan kawannya yang berada di sekitar kuburan beliau itu.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.