Syaikh Abu Ya’qub al-‘Asqalani

Beliau adalah Abu Ya’qub al-Kharrath al-‘Asqalani. Saya tidak menemukan data yang mencatat tahun kelahiran dan wafatnya. Saya pun tidak mendapatkan keterangan yang berkaitan dengan di mana tempat kelahiran dan wafatnya. Tapi jelas bahwa beliau hidup sezaman dengan Syaikh Abu al-Husin an-Nuri yang wafat pada tahun 907 Masehi.

Tentang gambaran mengenai pertumbuhan spiritualitas beliau yang cukup signifikan, diawali ketika beliau datang bertamu ke rumah Syaikh Abu al-Husin an-Nuri. “Waktu itu,” tutur Syaikh Abu Ya’qub al-‘Asqalani mengisahkan tentang dirinya, “aku datang menjumpai Syaikh an-Nuri sembari membawa sebuah pena.

Syaikh an-Nuri rupanya sudah tahu maksud kedatanganku dengan membawa sebuah pena. ‘Wahai anakku, kau datang ke sini untuk mencatat?’ tanya beliau kepadaku. ‘Ya,’ jawabku dengan singkat, polos dan penuh penghormatan.

Syaikh an-Nuri kemudian mengimlakkan beberapa kalimat dengan sangat gamblang untuk kutulis. Kalimat-kalimat itu berbunyi sebagaimana berikut:

1. Segala sesuatu yang kau tulis di atas kertas akan kuhapus.

2. Dapat dipastikan bahwa dengan pengetahuan dan pemahaman yang kau tulis itu, kau akan terhalang dari tujuan.

3. Allah Ta’ala telah membukakan pintu-pintu pemahaman dan pengetahuan untukku tentang hakikat tujuan karena aku menghapus tulisan-tulisan di kertas-kertas itu.

4. Yang sanggup membangkitkan peringatan untukmu adalah kesungguhanmu untuk mendapatkan faidah dari peringatan itu.

5. Aku melihatmu terhijab dari hakikat tujuan lantaran engkau terpaku terhadap tulisan-tulisan di lembar-lembar kertas itu.

Hiruk pikuk dunia sufisme di samping berjibaku dengan latihan demi latihan rohani yang dikenal dengan sebutan riyadhah, juga tidak sepi dari adanya berbagai telaah terhadap kitab-kitab tasawuf. Hal itu dalam rangka memperdalam sekaligus memperluas jangkauan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan seluk-beluk suluk atau pengembaraan rohani menuju kepada Tuhan semesta alam.

Sebagaimana halnya latihan demi latihan rohani yang tidak lain “hanyalah” merupakan sarana dan perantara, sama sekali bukanlah merupakan tujuan apalagi penentu, demikian pula dengan kegiatan memperdalam sekaligus memperluas jangkauan ilmu pengetahuan spiritual yang jelas tidak dapat dipastikan sebanding lurus dengan tingkatan rohani seseorang.

Karena itu, ketika tebersit di dalam benak seseorang untuk bersandar kepada berbagai keterangan dan catatan tentang pengalaman rohani sebagaimana yang secara tersirat dialami oleh Syaikh Abu Ya’qub al-‘Asqalani, maka muncullah kalimat yang terlontar dengan gamblang dari Syaikh Abu al-Husin an-Nuri: “Segala sesuatu yang kau tulis di atas kertas akan kuhapus.”

Hal itu tidak secara otomatis mengindikasikan kepada kita semua bahwa memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan rohani itu sama sekali tidak penting. Sungguh tidak demikian. Yang menjadi masalah krusial di situ tak lain adalah kebersandaran yang kuat terhadap berbagai ilmu pengetahuan rohani tersebut.

Alasannya jelas bahwa ilmu pengetahuan rohani merupakan satu hal, sementara pengalaman rohani merupakan hal yang lain. Keduanya tidak secara otomatis menemukan konvergensi. Walaupun juga dimungkinkan bahwa keduanya bisa menyatu. Tentu saja dengan perkenan hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.