Syaikh Abu Ya’qub al-Midani

Nama beliau persis sebagaimana judul di atas. Saya tidak menemukan tambahannya lagi. Beliau berasal dari Nusaybin yang di zaman dulu dikenal dengan sebutan Nasibis, sebuah kota yang di zaman sekarang termasuk Provinsi Mardin, Turki, yang kebanyakan penduduknya adalah orang-orang Kurdi. Beliau sezaman dengan Syaikh Abu Bakar asy-Syibli (861-946 M).

Berkaitan dengan siapa sesungguhnya beliau, kisah berikut ini bisa dijadikan sebagai pintu pembuka untuk sedikit mengenalnya. Pada suatu hari, Syaikh Abu Bakar asy-Syibli bertolak dari Baghdad menuju Mesir untuk mengembalikan barang-barang yang diperoleh secara tidak benar.

Di tengah perjalanan itu, ketika berada di atas hamparan tanah yang lapang, beliau sejenak melepaskan kuda tunggangannya. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba penglihatan beliau tertuju kepada seseorang yang tak lain adalah Syaikh Abu Ya’qub al-Midani.

Waktu itu sang sufi baru memulai menempuh perjalanan rohani. Badannya gemuk. Sang sufi bergegas menuju ke arah Syaikh Abu Bakar asy-Syibli yang memandangnya. Ketika sudah mendekat, sahabat karib Syaikh Husin bin Manshur al-Hallaj itu meletakkan tangannya di kepala sang sufi sambil mendoakan: “Moga Allah Ta’ala memperbaikimu.” Sang sufi dengan penuh khusyuk menimpali: “Amin.”

Syaikh Abu Bakar asy-Syibli mengatakan: “Ketika kuletakkan tanganku di kepalanya sembari mendoakan, kudengar seluruh bulu kuduk di sekujur badannya mengucap amin.” Dan memang, setelah perjumpaan yang sangat sakral itu, doa Syaikh Abu Bakar asy-Syibli betul-betul menjadi kenyataan pada diri sang sufi.

Bagi sang sufi, perjumpaan dengan Syaikh Abu Bakar asy-Syibli itu tidak lain merupakan sebuah momen paling sakral dalam hidupnya yang sangat penting bagi pendakian dan kemajuan pesat rohaninya. Ibarat tanah yang teramat subur yang mendapatkan guyuran hujan yang penuh dengan keberkahan. Lalu ditanamlah aneka pepohonan yang terus tumbuh untuk kemudian menjadi rindang dan bermanfaat bagi lingkungannya.

Tentu saja tindakan Syaikh Abu Bakar asy-Syibli yang kebak dengan berkah itu mutlak diperankan oleh Allah Ta’ala. Tidak mungkin tidak. Karenanya, perjumpaan “guru-murid” itu menjadi sangat efektif bagi keduanya. Si guru berperan sebagai hujan sekaligus penanam pepohonan. Sedangkan si murid adalah sebidang tanah yang kesiapannya sangat prima di dalam menumbuhkembangkan aneka pepohonan.

Seandainya hujan itu mengguyur tanah yang tandus dan mati, walaupun di atasnya ditanami berbagai macam pepohonan, tentu saja tetap tidak akan lahir sebuah kebun yang rindang. Tapi akan tetap menjalani takdirnya sebagai tanah yang senantiasa setia pada kekerontangan. Tetap kering dan merana.

Bercermin kepada sang sufi itu, kita mesti senantiasa mempersiapkan diri untuk setiap saat diguyuri oleh hujan yang berlimpahkan keberkahan. Seberapa tingkat kesiapan rohani kita, seperti itu jugalah aneka ragam pepohonan yang bisa kita tumbuhkan.

Semakin tangguh tingkat kesiapan rohani kita, maka akan semakin lebat pula kebun kemuliaan yang sanggup kita julangkan. Di saat itu, hidup kita tidak saja bermanfaat dan memberkati diri sendiri, tapi juga menjadi tempat bernaung dan berteduh bagi siapa pun yang mendambakan kedamaian dan ketentraman, baik untuk di kehidupan ini maupun untuk di kehidupan yang akan datang. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.