Syaikh Abu Ya’qub bin Zizi

Nama beliau adalah persis sebagaimana judul di atas. Saya tidak berhasil menemukan data yang mencatat tentang waktu kelahiran dan wafatnya. Pun, saya tidak mendapatkan keterangan tentang tempat kelahiran dan wafatnya. Tapi jelas bahwa hidup beliau sezaman dengan Syaikh Ibrahim al-Khawwash yang wafat pada tahun 904 Masehi.

Tentang salah satu peristiwa spiritual yang dialami oleh beliau adalah apa yang dituturkan oleh Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif bahwa pada suatu waktu beliau bersama Syaikh Abu ‘Abdillah bin Khafif menghadiri majelis sema yang menyelenggarakan acara musik sekaligus nyanyian-nyanyian rohani.

Ketika sang vokalis menyenandungkan bait berikut ini dengan suaranya yang merdu dan terasa menyayat-nyayat hati, “Andaikan perempuan itu menyandarkan si mayat pada pangkuannya, niscaya dia akan hidup kembali dan tidak jadi dibawa ke pemakaman,” seketika itu juga berjalannya waktu terasa begitu berat bagi beliau. Seolah beliau sedang menyunggi sebuah gunung.

Beliau lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah di belakang pinggangnya. Mengangkat dadanya. Sembari memandang ke langit, dengan suara lirih beliau berucap, “Katakanlah, demi Allah, tidak ada seorang pun selainku yang menyimaknya.”

Sementara darah mengucur dari urat leher beliau seakan beliau sedang difasdu. Lalu beliau pingsan. Orang-orang menolongnya. Membasuh darahnya. Dan membaluti lukanya dengan kain.

Apa yang sebenarnya terjadi pada diri beliau dalam perspektif spiritualitas Islam? Di dalam dunia sema atau pagelaran musik rohani zaman dulu, apa yang dialami oleh Syaikh Abu Ya’qub bin Zizi itu sesungguhnya merupakan hal yang sering kali terjadi.

Artinya adalah bahwa dunia musik rohani itu memang memiliki sejenis kekuatan yang luar biasa di dalam merobek-robek kesadaran spiritual para sufi yang menghadirinya. Tentu tidak setiap orang yang menghadiri acara sema lantas secara otomatis mengalami pingsan sebagaimana yang telah dialami Syaikh Abu Ya’qub bin Zizi. Tidak. Hanya para sufi yang begitu rawan hatinya oleh gemuruh keagungan Allah Ta’ala yang mempunyai kemungkinan untuk pingsan atau tak sadarkan diri ketika menenggak jamuan-jamuan musik rohani.

Dalam peristiwa pingsan yang dialami oleh sang sufi, sebagaimana yang juga dialami oleh para sufi yang lain, setidaknya ada tiga komponen yang menjadi penyebabnya. Pertama, kenikmatan suara musik rohani yang bercampur dengan ketulusan para pemainnya. Hal itu menjadikan sebuah musik semakin memiliki daya gugah.

Kedua, adanya kalimat puitik yang memiliki nilai-nilai transendental sebagaimana yang telah disuarakan dengan merdu dan menyayat-nyayat hati oleh seorang vokalis. Kalimat tersebut memiliki kemiripan dengan sebait puisi Maulana Jalaluddin Rumi (1207–1273) di dalam kitab Rubaiyatnya: “Jika aku mati, bawalah aku pada Kekasihku. Jika Dia mengecup bibirku dan aku hidup lagi, janganlah kau heran.”Ketiga, adanya kesiapan sang sufi untuk menafikan seluruh kediriannya yang partikular yang merupakan hijab antara dirinya dengan Allah Ta’ala. Sehingga setiap saat ketika hijab itu mulai tersingkap oleh suatu getar keagungan, sang sufi bisa dengan seketika bergabung dengan kemahaan hadirat-Nya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.