Syaikh Ahmad al-Musuhi

SOLANCHA MAGAZINE

 

Beliau adalah Ahmad bin Ibrahim al-Musuhi. Termasuk sufi agung di Baghdad pada zamannya. Bersahabat dengan Syaikh Sari as-Saqati. Meriwayatkan hadits darinya, juga dari Syaikh Hasan al-Musuhi. Wafat pada tahun 900-an Masehi.

Dituturkan di dalam kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami bahwa beliau pernah menempuh perjalanan panjang untuk menunaikan ibadah haji dengan hanya memakai satu baju gamis, satu serban, dan dua sandal. Itu saja. Sama sekali tidak lebih dari itu.

Kalau para sufi yang lain banyak yang membawa kendi atau ceret yang diisi air untuk wudhu dan minum di dalam menyusuri perjalanan atau pengembaraan, sufi yang satu ini sama sekali tidak membawa keduanya. Bukan lantaran tidak punya wadah air itu, tapi memang dengan sengaja beliau tidak ingin diganduli sarana tersebut.

Sedangkan yang berkaitan dengan bekal yang berupa makanan, beliau hanya membawa sebuah apel yang harum yang kadang-kadang diciumnya di tengah perjalanan. Hanya dicium belaka. Tidak sampai dimakan itu buah. Itulah satu-satunya “makanan” beliau sejak mulai berangkat dari rumahnya sampai kembali lagi ke rumahnya di dalam melaksanakan ibadah haji itu.

Pelajaran spiritual macam apa yang bisa kita ambil dari kisah perjalanan beliau di atas? Sebuah bentangan iktibar tidak boleh tidak mesti kita pecahkan agar saripati yang terkandung di dalamnya bisa kita pungut untuk kemudian kita kelola di dalam pencernaan rohani kita supaya muncul sebagai energi produktif yang sanggup melahirkan amal-amal baik dan cemerlang.

Pertama, di dalam “syarat” tawakal di perjalanan, ada dimensi luar dan ada dimensi dalam. Dimensi luar menunjuk kepada barang-barang bawaan yang dibutuhkan di sepanjang perjalanan. Seperti makanan, minuman, dan pakaian secukupnya. Atau kalau memungkinkan, semua itu bisa diganti dengan uang. Sedangkan dimensi dalam mengacu pada adanya kesiapan psikis dan spiritual di dalam menyusuri perjalanan itu, apa pun risiko yang mungkin terjadi.

Kita tahu, betapa dimensi luar tawakal beliau di dalam perjalanan itu betul-betul ala kadarnya, sama sekali tidak memenuhi standar yang semestinya. Secara akal sehat, tidak mungkin orang kebanyakan memiliki kesanggupan pulang-pergi dengan berjalan kaki dari Iraq menuju Mekkah. Itu terlalu berat, bahkan nyaris bisa dikatakan mustahil bagi mereka.

Kedua, di sini kita bisa memastikan bahwa tawakal beliau tersebut tentulah terutama ditopang oleh dimensi dalamnya, bukan dimensi luarnya yang gampang kocar-kacir dan musnah oleh batu-batu dan debu-debu perjalanan. Dan ketika dimensi dalam dari sebuah tawakal itu bekerja dengan saksama dan sempurna, ia akan menjadi penyokong yang sangat kuat untuk menjadikan siapa pun yang mengalaminya senantiasa berada dalam kondisi survive dan eksis dengan tanpa merasakan kurang suatu apa pun.

Itulah kehebatan dari dimensi dalam dari sebuah tawakal. Orang lain mungkin menyangka dan mengatakan bahwa tindakan sang sufi itu tidak lain adalah perbuatan nekat yang mendorong pada penghancuran terhadap dirinya sendiri. Tapi beliau sendiri yakin, bahkan merasa haqqul yaqin, bahwa kelembutan tangan kemahaanNya akan senantiasa menjaga dan melindungi perjalanan beliau yang sangat penting dan sakral itu.

Dan kita tahu, setidaknya lewat catatan historis tentang perjalanan spiritual beliau, bahwa keyakinannya itu benar-benar telah menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan. Sungguh, Allah Ta’ala tidak pernah mengecewakan pengharapan dan keyakinan hamba-hambaNya yang tulus dan penuh kesungguhan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Hyemi Reply

    Memang para sufi itu luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published.