Syaikh Akhu Faraj az-Zanjani

Beliau adalah sebagaimana judul di atas, persis. Salah seorang murid dari Syaikh Abu al-‘Abbas an-Nahawandi. Beliau wafat pada hari Rabu, bulan Rajab, tahun 457 Hijriah. Kuburan beliau berada di Zanjan, sebuah kota di barat laut Iran.

Sufi ini sangat menarik. Setidaknya bagi saya pribadi. Dari saking kuatnya beliau menempuh jalan kepatuhan dan kesetiaan kepada Allah Ta’ala, beliau dianugerahi binatang peliharaan yang sangat patuh dan setia kepada beliau selaku tuannya.

Beliau memiliki seekor kucing yang begitu istimewa. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap hari sang sufi kedatangan tamu untuk berbagai keperluan. Terutama mereka yang datang untuk mendapatkan berkah hadirat-Nya melalui perjumpaan dengan beliau. Dan kucing peliharaannya itu begitu respons terhadap tamu-tamu yang datang.

Seberapa banyak tamu-tamu yang datang, kucing itu mengeong sesuai dengan jumlah tamu. Kalau tamunya sepuluh, kucing itu mengeong sepuluh kali. Tidak lebih. Tidak kurang. Mengagumkan, bukan?

Pada suatu hari, ada beberapa tamu datang untuk menemui sang sufi. Sebagaimana biasa, si kucing mengeong beberapa kali sesuai dengan jumlah tamu yang datang. Tak seberapa lama kemudian, hewan jinak itu masuk ke tengah lingkaran para tamu. Diciumlah masing-masing tamu itu satu per satu. Persis ketika sampai pada seseorang di antara para tamu, kucing itu lalu kencing.

Orang-orang yang ada di situ pada heran, kenapa si kucing kencing pada orang itu. Akhirnya orang-orang yang ada di situ tahu bahwa orang yang dikencingi si kucing tersebut adalah orang Yahudi. Seolah si kucing itu memberikan peringatan secara spesifik terhadap si Yahudi.

Pernah pada suatu hari, seorang juru masak di rumah Syaikh Akhu Faraj az-Zanjani membeli susu yang ditaruh di dalam guci. Seekor ular berbisa jatuh ke dalam guci berisi susu itu. Si kucing melihatnya. Ia memutari guci itu sambil mengeong-ngeong. Sang juru masak tidak tahu maksudnya.

Si kucing nekat menceburkan dirinya ke dalam guci. Lalu mati. Setelah orang-orang menuangkan susu dari guci, ternyata di dalamnya ada ular berbisa. Itulah sebabnya kenapa dari tadi kucing itu mengeong. Sang sufi kemudian memerintahkan orang-orang untuk menguburkan kucingnya.

Sampai hari ini, kuburan kucing itu sering diziarahi. Hal itu sama sekali tidaklah mengherankan. Bukankah si kucing sudah mengorbankan dirinya demi keselamatan para pecinta Ilahi? Bukankah si kucing telah menunjukkan kepada orang-orang di sana bahwa dirinya sama sekali tidak penting dibandingkan para sufi? Dan “diri yang tidak penting” itulah yang telah menyelamatkan orang banyak.

Itulah kucing yang sangat istimewa. Perilakunya tidak lain merupakan cerminan konkret dari dimensi rohani tuannya. Ketika sang tuan begitu getol mempersembahkan seluruh kebaikan kepada Tuhannya, seperti itulah perlakuan si kucing kepada tuannya.

Bahkan ketika sang tuan berada di puncak ketulusan dan rida mempersembahkan seluruh hidup dan matinya, demikian pula pertaruhan si kucing mempersembahkan seluruh hidup dan matinya kepada sang tuan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.