Syaikh ‘Ali al-Ghadhairi

(Enchanting Whirling Sufi Dervishes Canvas Print by Adam Asar)

 

 

Beliau adalah ‘Ali bin ‘Abdul Hamid al-Ghadhairi. Termasuk sufi pada generasi awal. Seorang mujtahid. Seorang peziarah yang tangguh. Memiliki kondisi rohani yang begitu indah. Juga amal-amal yang terpuji dan nilainya sangat tinggi.

Tentang salah satu dari pengalaman spiritualnya, beliau bertutur: “Pada suatu hari, saya pernah mengetuk pintu rumah Syaikh Sari as-Saqati. Dari balik pintu, saya mendengar beliau merespons ketukan pintu itu dengan berdoa, ‘Ya Allah, siapa pun yang menyibukkanku dari hadiratMu, tolong sibukkan dia denganMu dariku’.

Lantaran barokah doa beliau itulah, saya kemudian bisa menunaikan ibadah haji selama empat puluh (40) kali dengan berjalan kaki dari Aleppo.”

Peristiwa doa yang sangat sakral dan mustajab itu mengajarkan beberapa hal sekaligus kepada kita. Pertama, betapa dengan penuh kasih-sayang Allah Ta’ala telah menggiring Syaikh ‘Ali untuk melangkahkan kakinya menuju gerbang rahmat rohani yang tak lain adalah pintu rumah Syaikh Sari as-Saqati. Dihalaulah beliau untuk menuju rumah kekasihNya itu semata agar terjadi keterbuhulan spiritual di antara keduanya.

Dari situ kita juga berharap kepada hadiratNya agar dipertalikan dengan salah satu atau bahkan sekian orang dari kalangan kekasihNya. Tersambung secara spiritual dengan mereka sesungguhnya berarti tersambung secara rohani dengan Allah Ta’ala. Bagaimana mungkin tidak, sedangkan secara substansial mereka tidak lain merupakan “alamat” Ilahi.

Kedua, doa seorang kekasih Allah Ta’ala tidak mungkin tidak diijabahi. Alasannya jelas bahwa doa seorang wali itu laksana doa Allah terhadap dirinya sendiri. Bagaimana mungkin tidak dikabulkan? Seorang wali itu sudah merdeka dari apa pun selain hadiratNya. Sehingga keseluruhan dari dirinya tak lain merupakan keutuhan tawajjuh kepada Allah Ta’ala semata, tidak secuil pun terhadap sesuatu yang lain.

Karena itu, betapa sangat penting kita menitipkan nama-nama kita kepada para kekasihNya untuk senantiasa didoakan agar perjalanan rohani selalu lancar dengan adanya kemudahan demi kemudahan dalam menggapai kedudukan-kedudukan spiritual yang indah dan terpuji.

Ketiga, menyibukkan diri dengan segala sesuatu selain Allah Ta’ala adalah berarti menjadikan diri sendiri terlempar dari kedekatan dengan hadiratNya. Karena itu, adanya dorongan yang kuat atau hasrat kepada apa saja yang disebut sebagai yang lain itu mesti kita tepis jauh-jauh. Segala rayuan dan godaan yang menipu sama sekali bukanlah untuk dipatuhi, tapi murni harus diingkari.

Akan tetapi jika ada seseorang di antara kawan-kawan kita yang sengaja akan menarik kita ke tengah hiruk-pikuk kesibukan dengan apa pun selain hadiratNya, bukan lantas kita mesti meresponsnya dengan hardikan atau apalagi kutukan. Sama sekali tidak demikian. Namun, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Syaikh Sari as-Saqati, kita mesti mendoakannya agar dia ditarik oleh Allah Ta’ala pada berbagai aktivitas dan kesibukan dengan hadiratNya semata, baik secara langsung maupun melalui perantara makhluk-makhluk yang lain.

Betapa sangat indah perilaku dan doa sang wali di atas itu. Dan hal itu mengindikasikan bahwa betapa sangat cemerlang dan sangat anggun cahaya rohani yang dikandung di dalam batinnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.