Syaikh ‘Ali Al-Hallaj

Come Come whoever you are by Hayrettin Karaerkek

 

Idiom “al-Hallaj” pada akhir nama beliau bermakna tukang tenun. Tapi beliau sama sekali bukanlah tukang tenun benang atau kain apa pun. Sebagaimana juga Syaikh Husain bin Manshur al-Hallaj yang jelas bukan tukang tenun dalam pengertiannya secara lahiriah. Mereka berdua tidak lain adalah tukang tenun rahasia-rahasia keilahian yang membentang luas tak bertepi di seluruh alam raya ini, juga di kedalaman dunia rohani mereka berdua.

Beliau termasuk salah satu murid dari Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Banna’ di Ashfihan. Tidak diketahui, setidaknya oleh saya pribadi, di mana dan kapan beliau dilahirkan, juga di mana dan kapan beliau wafat. Sebagaimana pula banyak dari para sufi yang memang demikian.

Tentang salah satu perjalanan rohaninya sendiri, Syaikh ‘Ali bin Hamzah pernah menuturkan kisah sebagaimana berikut ini: “Selama beberapa waktu, saya pernah tinggal di dekat guru spiritual saya, Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Banna’, di Ashfihan. Pada waktu itu, yang sering kali dibicarakan oleh beliau adalah bab tentang halal. Pembicaraan beliau itu saya tulis dengan telaten dan saya kumpulkan.

Dari rumah beliau, saya berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan pulang ketika sampai di Basrah, saya mendengar kabar mengenai kewafatan beliau. Betul-betul terpukul saya oleh martil kesedihan.

Di Basrah, saya bergabung dengan para santri Syaikh Sahl at-Tustari. Mereka banyak sekali menuturkan tentang berbagai macam hikayat yang penuh makna dan keutamaan. Kata-kata mereka membuat saya takjub. “Tolong ini semua tuliskan untuk saya. Karena saya tidak bisa menulis dengan baik.”

Suatu hari saya berwudhu di pinggir sungai. Dan semua yang mereka tuliskan untuk saya lalu jatuh dan lenyap di dalam air sungai. Saya sangat gundah karenanya. Betul-betul sedih.

Pada malam hari, saya bermimpi melihat Syaikh Sahl at-Tustari. “Wahai orang yang diberkati, kau sangat sedih karena catatan-catatanmu yang jatuh di sungai itu?” tanya beliau kepada saya. “Ya, Guru,” jawab saya. “Demi kebenaran cinta terhadap ungkapan-ungkapan itu, demi kebenaran Allah Ta’ala, demi kebenaran para waliNya, janganlah kau cari lembaran-lembaran kertas itu,” ungkap beliau. “Saya tidak kuat, Guru,” jawab saya.

Di dalam mimpi itu, saya lalu melihat Nabi Muhammad Saw. datang bersama kaum Shuffah. Saya berlari menuju Kanjeng Rasulullah Saw. dengan perasaan yang sangat senang. Beliau tersenyum dan bersabda kepada saya: “Kenapa tidak kau katakan kepada Sahl at-Tustari itu: ‘Cinta kaum Shuffah. Kata-kata mereka merupakan realitas hakikat’.”

“Saya mohon ampun kepada Allah, ya Rasulullah,” respons Syaikh Sahl at-Tustari. Nabi Muhammad Saw. lalu tertawa. Kemudian saya terbangun dengan penuh bahagia.”

Itulah perjalanan dan lika-liku rohani dari sang sufi yang sangat mengagumkan, menggembirakan, dan penuh dengan petunjuk dan bimbingan. Melalui perantara tangan-tangan para wali dan mereka yang telah menikmati proses-proses taqarrub di jalan yang menuju kepada hadiratNya belaka. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.