Syaikh ‘Ali as-Saqqa’

 

Beliau adalah ‘Ali bin Syu’aib as-Saqqa’, berasal dari Nisapur. Beliau bersahabat dengan Syaikh Abu Hafsh al-Haddad. Hal ini menunjukkan bahwa beliau termasuk salah seorang sufi dari generasi awal. Karena mengingat bahwa Syaikh Abu Hafsh al-Haddad sendiri wafat pada tahun 264 Hijriah.

Kisah tentang beliau sungguh sangat menakjubkan. Bagaimana mungkin tidak, beliau melaksanakan ibadah haji sebanyak 55 (lima puluh lima) kali dengan berihram langsung dari Nisapur. Setiap menempuh jarak sekitar satu mil (1 mil = 1.609,344 meter), beliau melaksanakan shalat sunnah dua raka’at.

Begitu mengagumkan. Ketika ditanya kenapa menempuh perjalanan ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji dengan cara yang demikian, beliau menjawab dengan mengutip potongan sebuah ayat di dalam Qur’an: “Agar mereka menyaksikan adanya kemanfaatan bagi diri mereka sendiri,” (QS. al-Hajj: 28).

Kalimat pada ayat di atas itu merupakan respons terhadap adanya ungkapan sebelumnya bahwa manusia seharusnya memenuhi seruan Nabi Ibrahim untuk berhaji ke Baitullah, mereka kemudian datang dari tempat-tempat yang jauh. Dan di antara tujuannya tidak lain adalah supaya mereka menyaksikan tempat-tempat di mana mereka mendapatkan berbagai macam kemanfaatan.

Di dalam kitab Tafsir al-Jailani diungkapkan bahwa yang dimaksud dengan menyaksikan berbagai macam kemanfaatan adalah merasakan berbagai macam karunia rohani di tempat-tempat di mana mereka menempuh perjalanan dan melaksanakan ibadah-ibadah haji.

Kita tahu bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang paling berat terhadap fisik di antara ibadah-ibadah yang lain dari rukun Islam. Akan tetapi bagi sang sufi sendiri yang melaksanakannya hingga 55 kali, kesan haji sebagai ibadah yang berat itu berubah menjadi perjalanan yang begitu mengasyikkan dan pekerjaan yang sangat menyenangkan.

Barangkali di antara kita ada yang bertanya tentang bagaimana mungkin bagi sang sufi, beban yang berat itu berubah menjadi sangat ringan dan berbagai pekerjaan yang sulit berubah menjadi aneka ragam kegembiraan? Dalam konteks kosmologi sufisme Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), jawabannya sangat jelas bahwa cintalah yang menjadi satu-satunya penyebab di balik terjadinya perubahan itu.

Karena itu, dapat dipastikan di sini bahwa cinta Syaikh ‘Ali as-Saqqa’ kepada Tuhannya pastilah bukan merupakan cinta yang sederhana, juga bukan merupakan cinta yang sekadarnya, apalagi hanya main-main. Tapi sepenuhnya merupakan cinta yang terlampau dahsyat dan bahkan segalanya.

Itulah sebabnya, di hitungan sang sufi sendiri, tembus angka 55 kali berhaji sepanjang umurnya itu pasti dipandang masih kurang. Kenapa? Karena ekspresi dari cinta yang mutlak dan suci itu pasti menolak adanya pembatasan.

Membaca kisah sufi yang sedemikian mengagumkan ini, kita menjadi berharap bahwa di dalam kehidupan kita yang sangat sementara ini, moga kita bisa mencecap juga kenikmatan cinta Ilahi sebagaimana yang telah dialami oleh para nabi, wali, dan sufi. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.