Syaikh Bayazid al-Bisthami

(Whirling Dervish Art Print by Yuliya Glavnaya)

 

Beliau adalah Abu Yazid al-Bisthami yang juga dikenal dengan sebutan Bayazid. Itu jelas kun-yahnya. Sedang nama asli beliau adalah Thayfur bin ‘Isa bin Adam bin Sarwasyan. Kakeknya adalah seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam.

Beliau lahir pada tahun 188 Hijriyah dan wafat pada tahun 261 Hijriyah. Beliau segenerasi dengan Syaikh Ahmad bin Khadhrawih. Pernah menyaksikan Syaikh Abu Hafsh al-Haddad, Syaikh Yahya bin Mu’adz, dan Syaikh Syaqiq al-Balkhi.

Guru rohani beliau yang paling berpengaruh adalah seorang sufi dari Kurdi. Beliau berwasiat kepada kerabatnya agar setelah disongsong kematian, beliau dikubur di bawah kaki gurunya itu sebagai wujud penghormatan yang paling mendalam.

Sesaat persis sebelum wafat, beliau bermunajat kepada Allah Ta’ala: “Tuhanku, tidaklah aku berdzikir kepada hadiratMu kecuali karena kelalaian. Dan tidaklah aku mengabdi kepada hadiratMu kecuali karena kesenggangan.” Bersamaan dengan selesainya kalimat itu, beliau langsung wafat.

Sesudah kewafatannya, seorang syaikh berjumpa dengan beliau di dalam mimpinya tentang perlakuan Allah Ta’ala kepada beliau. “Ditanyakan kepadaku,” tutur Syaikh Abu Yazid al-Bisthami, “tentang apa yang aku bawa. Kukatakan: ‘Apabila seorang fakir datang ke depan pintu seorang raja, mereka tidak bertanya ‘Kau bawa apa?’ Tapi mengatakan kepada si fakir itu, ‘Apa yang kau inginkan?'”

Di hadapan kemahaan Allah Ta’ala yang tak bertepi itu, di mana seluruh amal baik umat manusia sama sekali tidak bisa diandalkan, tidak bisa dibanggakan dan tidak bisa dijadikan sandaran, jawaban Syaikh Abu Yazid al-Bisthami itu sungguh sudah sangat tepat. Beliau tidak terutama menunjukkan sekian amal baiknya yang telah dikerjakan ketika hidup di dunia, tapi lebih mengedepankan adanya pengharapan yang sangat besar terhadap kemurahan hadiratNya.

Ungkapan yang sangat pas dan penuh bijaksana itu tidak mungkin meluncur begitu saja dari sebuah ruang jiwa yang hampa, tapi pastilah menyembul dari telaga makrifat yang sedemikian bening dan jernih. Beliau pasti tidak saja mengetahui, tapi juga sekaligus meresapi bahwa seluruh amal baik itu sesungguhnya secara hakiki mutlak milik Allah Ta’ala semata, bukan milik beliau atau siapa pun yang selain hadiratNya.

Karena itu, ketika ditanya oleh hadiratNya tentang oleh-oleh yang dibawa ke depan pintu Sang Maharaja, beliau menjawab sebagai seorang fakir bahwa yang semestinya beliau terima tak lain adalah pertanyaan ‘apa yang kau butuhkan?’

Di saat itu, yang dirasakan oleh beliau bukan saja tidak memiliki amal baik apa pun, tapi juga sepenuhnya merasakan bahwa sesungguhnya dirinya sendiri secara hakiki murni tidak ada. Diri beliau sendiri tidak lebih dari sekadar bayang-bayang hadiratNya. Yang mutlak ada adalah Dia belaka. Bukan apa atau siapa pun yang lain.

Itulah sebabnya, ketika beliau ditanya oleh seseorang tentang jalan kepada Allah Ta’ala, dengan tegas beliau memberikan jawaban: “Ketika engkau sudah terbebaskan dari dirimu sendiri, di saat itulah engkau berarti sampai kepada hadiratNya.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.