Syaikh Dzun Nun Al-Mishri

pinterest.com

Beliau merupakan sufi generasi awal. Namanya Tsauban bin Ibrahim. Julukannya sebagaimana judul di atas. Berasal dari Ikhmim, Mesir, dekat kuburan Imam Syafiie. Beliau salah satu murid dari Anas bin Malik, pendiri salah satu mazhab di bidang fiqh. Beliau mengaji langsung kepada Imam Malik sebuah kitab antologi hadits yang sangat masyhur yang berumbul al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik itu sendiri. Beliau yang tentu saja bermazhab Maliki itu wafat pada tahun 245 Hijriah.

Syaikh Dzun Nun pernah berkisah tentang salah satu perjalanan spiritualnya bahwa pada suatu hari beliau berangkat dari Mesir ke Jeddah dengan menumpang perahu bersama banyak orang. Di atas perahu itu juga ada seorang pemuda yang berpakaian compang-camping yang senantiasa tekun beribadah. Ingin rasanya Syaikh Dzun Nun mendekat dan berbincang-bincang dengan si pemuda itu. Tapi tak sanggup karena saking wibawanya sang pemuda itu.

Sial. Di atas perahu yang ditumpangi banyak orang itu terjadi pencurian sekantong emas dan permata. Banyak dari mereka yang menuduh si pemuda itu. Mereka mau melabrak dan menyakitinya. Tapi dicegah oleh Syaikh Dzun Nun.

Dengan mendekati si pemuda itu, beliau lalu bertanya: “Orang-orang itu menuduhmu mencuri sekantong emas dan permata. Mereka hendak menyakitimu, tapi kucegah. Sekarang bagaimana tanggapanmu?”

Si pemuda itu lalu menengadah ke langit. Melafalkan sesuatu yang misterius. Tiba-tiba ikan-ikan di lautan naik ke permukaan. Di setiap mulut ikan itu ada permata. Si pemuda mengambilnya satu dan diberikan kepada orang yang kehilangan. Setelah itu, dia keluar dari perahu dan berjalan di atas air. Menjauh, menjauh, menjauh, sampai akhirnya hilang dari pandangan.

Si pencuri kemudian sadar. Dia kembalikan barang curian itu kepada pemiliknya. Para penumpang perahu itu juga menyesal telah berburuk sangka kepada pemuda suci yang tak mereka ketahui siapa sebenarnya dia.

Di hari yang lain, dalam salah satu perjalanan, Syaikh Dzun Nun berjumpa lagi dengan pemuda misterius itu. Dengan penuh rasa tertarik, beliau menyapanya: “Dari mana engkau wahai orang asing?”

“Adakah seseorang merasa terasing jika dia memiliki pertalian cinta yang kuat dengan Allah Ta’ala?” balas tanya si pemuda itu.

Seketika Syaikh Dzun Nun al-Mishri menjerit, lalu pingsan karena mendengar jawaban tersebut. Setelah siuman, beliau ditanya: “Kenapa?”

“Obatmu itu telah menabrak penyakitku,” jawab beliau dengan penuh kepastian. Artinya adalah bahwa selama ini beliau belum sepenuhnya sadar kalau kedekatan secara spiritual dengan hadiratNya itu merupakan kehangatan yang hakiki yang tidak mungkin mendorong siapa pun yang mengalaminya pada jurang keterasingan.

Mungkin beliau telah mengalami nikmatnya kedekatan dengan hadiratNya, tapi tak sepenuhnya sadar bahwa hal itu bisa dialami secara lebih intim oleh orang lain. Kalau tak sepenuhnya mengalami suasana yang sakral itu, tak mungkin beliau menjerit sampai pingsan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.