Syaikh Ghaylan al-Majnun

Beliau adalah Ghaylan al-Musus yang dikenal juga dengan sebutan Ghaylan al-Majnun. Beliau termasuk di antara sufi terdepan di Irak. Beliau tinggal di antara reruntuhan-reruntuhan bangunan, sendirian, tidak berbaur dengan siapa pun.

Beliau tidak sudi menerima apa pun, termasuk uang dan makanan, dari siapa saja. Dan tidak ada seorang pun yang pernah menyaksikan beliau makan atau minum. Makanan dan minuman beliau murni berwujud kekuatan rohani yang bersumber dari dzikir dan kedekatan beliau dengan Allah Ta’ala.

Beliau disebut al-Majnun atau si Gila karena menyimpang dari kebiasaan dan kelaziman hidup kebanyakan orang. Ketika orang-orang di sekitarnya menikmati hidup dengan berbagai aktivitas di rumah mereka masing-masing, beliau malah memilih menyendiri dengan menekuni hidup di antara reruntuhan-reruntuhan bangunan.

Ketika orang-orang di sekitarnya biasa dengan saling menerima dan memberi makanan atau rezeki apa saja, beliau malah memilih menyingkir dari aktivitas yang lazim di tengah masyarakat itu. Ketika orang-orang di sekitarnya merasa senang dengan mendapatkan pemberian makanan dan minuman yang enak-enak, beliau malah dengan sikap tegas menolaknya.

Ketika orang-orang di sekitarnya terbiasa dengan kebutuhan makan dan minum sehari-hari, beliau justru tidak pernah makan dan minum. Setidaknya tidak pernah disaksikan oleh siapa pun bahwa beliau pernah makan dan minum. Apa sesungguhnya maksud beliau dengan keanehan-keanehan tersebut sehingga beliau disebut sebagai si Gila?

Bagi beliau sendiri, tentu hal tersebut bukanlah merupakan keanehan-keanehan. Tapi lebih merupakan “kewajiban-kewajiban” spiritual yang mesti dijalani untuk melestarikan hubungan yang istimewa dengan Allah Ta’ala. Hanya saja berbagai “kewajiban” itu tidak sama antara yang beliau praktikkan dengan kewajiban-kewajiban orang lain.

Beliau sama sekali tidak gila dalam pemahamannya yang umum sebagaimana yang dipersepsikan oleh banyak orang. Kegilaan beliau murni berorientasi kepada hadirat-Nya semata. Tidak kepada apa atau siapa pun yang lain. Karena apa pun yang selain-Nya, bagi beliau bukan hanya dianggap tidak penting, tapi murni secara hakiki dipandang tidak ada.

Syaikh Muhammad as-Samin pernah menuturkan tentang perjumpaannya dengan si Gila: “Pada suatu hari, aku pernah melihat Syaikh Ghaylan al-Majnun di sebuah reruntuhan di Kufah. Aku mendekat dan bertanya kepada beliau: ‘Kapankah seorang hamba terbebaskan dari lintasan lalai terhadap Allah Ta’ala?’ Beliau menjawab: ‘Pada saat ketika dia senantiasa disibukkan dengan melaksanakan perintah Allah Ta’ala, lupa terhadap apa yang dilarang, dan introspeksi terhadap dirinya sendiri’.”

Jawaban itu menunjukkan bahwa beliau sangat cerdas secara spiritual. Bagaimana mungkin tidak, jawaban itu pasti tidaklah mengada-ada dan tidaklah konseptual belaka, tapi murni merupakan representasi dari ketangguhan dan kejernihan spiritualitasnya. Karena jelas bahwa beliau merupakan seorang sufi yang sudah terbebaskan dari berbagai macam pamrih recehan. Sengaja beliau memangkas aneka ragam “cabang” di dalam kehidupannya dengan cara menyingkir dari ingar-bingar kehidupan sosial dengan segala tetek bengek yang menyertainya demi runcingnya tauhid beliau terhadap Allah Ta’ala. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.