Syaikh Hasan al-Musuhi

instagram @artbeatcanvas

 

Beliau adalah Hasan bin ‘Ali al-Musuhi. Salah satu dari guru rohani Syaikh Junaid al-Baghdadi, Syaikh Abu Hamzah, dan lain sebagainya. Bersahabat dengan Syaikh Sari as-Saqati dan para sufi yang lain.

Beliau tidak punya rumah yang bisa dijadikan tempat untuk berteduh atau sekadar istirahat. Hal itu mengingatkan kita kepada Nabi ‘Isa bin Maryam yang juga tidak punya rumah sekaligus tidak punya istri. Sebagaimana Nabi ‘Isa, jalan hidup yang ditempuh dan ditekuni oleh beliau adalah jalan kefakiran: sebuah jalan rohani yang saya kira tidak mudah bagi kita untuk menelusurinya di dalam realitas hidup dengan penuh penghayatan.

Hidup beliau mutlak digantungkan kepada Allah Ta’ala di “jalanan”. Berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari masjid ke tengah tandusnya padang pasir, dari sana entah ke mana lagi, kakinya melangkah sesuai dengan irama kehendak hadiratNya. Dan, tidur di sembarang tempat juga sudah terbiasa bagi beliau.

Melihat dan merasa prihatin dengan kondisi beliau yang seperti itu, salah satu muridnya yang tidak lain adalah Syaikh Junaid al-Baghdadi, pernah mengungkapkan kalimat berikut ini kepada beliau: “Guru, tolong terangkan sedikit saja kepada kami tentang hangatnya kebersamaan.” Dengan tegas beliau langsung merespons: “Celaka kau. Andaikan semua manusia selainku di bawah langit ini meninggal, aku tidak akan merasa kesepian.”

Tentu saja ungkapan Syaikh Junaid al-Baghdadi itu merupakan respons terhadap dimensi lahiriah dari gurunya. Dan, jawaban sang guru dapat dipastikan meluncur dari dimensi batinnya yang telah terbebaskan dari segala atribut makhluk yang paling permukaan dan centang-perenang, merdeka dari taring segala yang fana dan muspra.

Batin seorang sufi seperti beliau pastilah penuh dengan kehangatan lantaran telah diberkati dengan adanya kebersamaan dengan Allah Ta’ala sebagai kekasihnya yang sejati. Tidak mungkin orang yang sekelas beliau terkulai oleh tikaman sunyi dan sepi. Sebaliknya, batin beliau kebak dengan sorak-sorai kegembiraan karena senantiasa disirami oleh cinta hadiratNya yang tidak kepalang.

Pernah pada suatu siang ketika matahari sangat terik, beliau telentang di lantai sebuah masjid. Kedua mata beliau dirundung kantuk tak terkira, lalu tertidur. Di dalam tidur, beliau bermimpi menyaksikan atap masjid jebol. Dari atap berlubang itu, beliau melihat seorang perempuan cantik turun dan mendekatinya. Ia mengenakan baju berhiaskan perak yang gemerincing. Rambutnya dikuncung dua.

Perempuan cantik itu lalu memegang kaki Syaikh Hasan al-Musuhi. “Wahai perempuan, engkau ini sebenarnya untuk siapa?” tanya sang sufi. “Aku adalah hadiah untuk orang yang bisa memiliki hubungan langgeng dengan hadiratNya sebagaimana engkau,” jawab si perempuan cantik dalam mimpi sang sufi itu.

Perempuan cantik di dalam mimpi beliau itu tentu tidak dapat disangsikan bahwa ia merupakan emanasi dari kemahaindahan Allah Ta’ala. Tidak mungkin tidak. Sebab, sudah jelas bahwa tidak ada seutas pun keindahan di dunia ini dan di akhirat yang akan datang kecuali berasal-usul dari hadiratNya jua.

Dan, di penglihatan batin Syaikh Hasan al-Musuhi yang telah steril dari aneka macam debu pamrih duniawi dan ukhrawi kelak, yang lebih tampak pasti bukanlah kecantikan si perempuan itu, melainkan kemahaindahan tak bertepi yang melekat dan tidak terpisahkan dari hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.