Syaikh Ibrahim al-Baghdadi

Beliau adalah Ibrahim bin Tsabit Abu Ishaq al-Baghdadi. Salah seorang sufi Baghdad. Bersahabat dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Beliau wafat pada tahun 299 Hijriah.

Beliau adalah seorang sufi yang dengan sangat lapang dada menerima segala yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk dirinya. Tidak ada sedikit pun penentangan terhadap segala keputusan hadirat-Nya kepada beliau. Segala sesuatu yang disuratkan untuk beliau oleh takdir-Nya diterima dengan sepenuh hati tanpa reserve setitik debu pun.

Pada suatu hari, sebagaimana dikisahkan oleh Mulla ‘Abdurahman al-Jami dalam Kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi, Syaikh Abu ‘Abdirrahman as-Sullami berjumpa dengan sang sufi. Beliau memohon agar dirinya didoakan oleh sang sufi. Tapi sang sufi tidak lantas mendoakan beliau. Sang sufi malah merespons bahwa apa yang telah ditentukan Allah Ta’ala di zaman azal untuk diri Syaikh Abu ‘Abdirrahman as-Sullami lebih bagus ketimbang ikhtiar. Termasuk di dalamnya adalah berusaha mengubahnya dengan doa. Sebab, hal itu merupakan bagian dari penentangan terhadap takdir yang digariskan oleh hadirat-Nya.

Sangat mudah untuk dicerna oleh potensi rasionalitas kita bahwa apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk umat manusia itu jauh lebih baik dan lebih benar dibandingkan dengan berbagai pilihan mereka untuk diri mereka sendiri. Sebab, salah satu bukti dari absolusitas hadirat-Nya itu adalah kemahabenaran di dalam berbagai pilihan, keputusan dan tindakan-Nya. Termasuk di dalamnya adalah menentukan aneka ragam takdir untuk umat manusia.

Akan tetapi, apakah semua yang terbaik versi Allah Ta’ala itu adalah juga dipandang sebagai terbaik pula menurut versi manusia? Jawabannya pasti tidak. Tidak mungkin ya. Sebab, dengan adanya berbagai macam keterbatasan yang senantiasa menggelayut pada setiap orang, bagi mereka pasti mustahil untuk menerima hadirat-Nya secara utuh.

Tentu saja selain orang-orang yang peran mereka di dalam menempuh suluk atau perjalanan rohani telah diambil alih oleh Allah Ta’ala sendiri yang merupakan tujuan puncak dari seluruh migrasi spiritual. Tanpa keterlibatan hadirat-Nya, tidak mungkin ada seorang pun di seluruh bentangan kehidupan ini yang sanggup menampung keutuhan kehendak Allah Ta’ala. Tidak juga para nabi. Tidak juga para wali dan sufi.

Mungkin ada sepotong pertanyaan yang muncul di antara kita, kenapa Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berdoa kepada hadirat-Nya kalau segala ketetapan Allah Ta’ala itu jauh lebih baik ketimbang seluruh ikhtiar mereka?

Di dalam paradigma kaum sufi, jawabannya jelas bahwa kita diperintahkan untuk selalu berdoa setidaknya karena adanya dua alasan. Pertama, agar kita selalu sadar secara spiritual bahwa kita setiap saat pasti membutuhkan Allah Ta’ala, pasti bersandar kepada hadirat-Nya. Tanpa disangga oleh Allah Ta’ala, pasti kita langsung lenyap. Termasuk juga alam semesta.

Kedua, doa secara substansial tidak lain merupakan momentum perjumpaan spiritual yang sangat sakral dengan hadirat-Nya. Itulah sebabnya, bagi para sufi, bukan terutama hal-ihwal yang diminta di dalam doa itu yang dipandang penting. Tapi adanya momentum perjumpaan rohani yang sangat lezat dengan Allah Ta’ala lewat jendela doa tersebut.

Dari sini kita bisa dengan mudah mengafirmasi sebuah doa yang dimunajatkan oleh salah seorang sufi agung di dalam sejarah, Syaikh Abu Yazid al-Bisthami yang wafat pada tahun 261 Hijriah. Di dalam doanya itu, beliau sama sekali tidak mohon fasilitas apa pun kepada Allah Ta’ala. Tapi langsung mohon hadirat-Nya itu sendiri. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.