Syaikh Ibrahim al-Khawwash

Beliau adalah Ibrahim al-Khawwash Abu Ishaq. Seorang sufi di Baghdad. Guru rohani bagi Syaikh Ja’far al-Khuldi, Syaikh as-Sayruwani, dan lain sebagainya. Segenerasi dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi dan Syaikh Ahmad an-Nuri. Beliau wafat sebelum keduanya pada tahun 291 Hijriah

Beliau adalah seorang sufi yang sangat tekun mendatangi majlis-majlis ilmu dan dzikir. Bahkan pada hari mau wafat, beliau sempat mendatangi 70 majlis. Setiap kali mau mendatangi satu majlis, beliau mandi terlebih dahulu. Pada hari wafatnya, musim dingin betul-betul mencekam. Di hari yang diberkati itu, beliau mau mendatangi suatu majlis, beliau menuju kulah untuk mandi terlebih dahulu. Orang-orang menguburkan jenazah beliau di puncak sebuah bukit, di bawah sebuah menara di dekat kota Ray, Iran.

Sangat menarik bahwa setiap kali mau mendatangi suatu majlis, beliau mandi terlebih dahulu, tak peduli terhadap musim dingin yang bahkan sampai menusuk-nusuk tulang, dan beliau tak peduli pula sampai puluhan kali mandi dalam sehari. Pastilah hal itu dilakukan dengan landasan spiritual yang tentu saja tidak serampangan.

Dalam konteks paradigma sufisme beliau yang dibangun dengan sangat kukuh di atas fondasi rohani yang sedemikian tangguh, tidak mungkin adanya aktivitas mandi pada setiap kali mau mendatangi suatu majlis itu merupakan ritual biasa. Pastilah hal tersebut dilakukan oleh beliau dengan landasan filosofi spiritual yang sangat mendalam. Yaitu, memastikan diri beliau bersih dan semakin bersih dari hari ke hari dari berbagai macam kotoran lahiriah dan aneka ragam kekeruhan batiniahnya sekaligus.

Bagi beliau, mendatangi suatu majlis sama saja dengan menghadiri sebuah momen di mana beliau mengalami perjumpaan yang sangat sakral dan sedemikian tak terpermanai dengan Allah Ta’ala. Itulah sebabnya beliau merasa perlu memastikan diri bersuci terlebih dahulu dari hadas lahir dan batin, dari debu-debu lahir dan batin.

Sampai akhirnya Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau kedudukan rohani yang sangat tinggi yang tidak lain adalah cinta transendental yang murni tertuju kepada hadirat-Nya, baik secara langsung maupun melalui perhatian dan belas-kasih terhadap sesama.

Syaikh Abu Bakar al-Kattani pernah menuturkan dialognya dengan Syaikh Ibrahim al-Khawwash, sebagaimana dikutip oleh Mulla ‘Abdurahman al-Jami dalam Kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi, sesaat setelah sang sufi baru pulang dari pengembaraan spiritualnya ke tengah padang pasir yang luasnya tidak kepalang:

– “Apakah engkau tidak berjumpa dengan sesuatu yang aneh di tengah padang pasir?”

+ “Di tengah padang pasir, tiba-tiba Nabi Khidhir ada di sisiku. Beliau menawarkan diri untuk bersahabat denganku. Aku tolak tawarannya. Beliau bertanya, ‘Kenapa?’ Kujawab, ‘Allah Ta’ala Maha Pencemburu. Aku khawatir kalau hatiku jadi condong kepadamu’.”

Betapa banyak dari kalangan para salik atau penempuh lorong-lorong rohani yang sangat berhasrat untuk berjumpa dengan Nabi Khidhir yang mendapatkan julukan sebagai Sayyid al-Qaum atau tuan dari sekalian kaum sufi. Sementara Syaikh Ibrahim al-Khawwash dengan tegas menolak adanya tawaran pertemanan dari Sang Nabi Lautan itu.

Alasan sang sufi dalam menolak pertemanan tersebut sangat gamblang. Yaitu, adanya kecemburuan dari Tuhan semesta alam yang sudah menjadi Kekasihnya. Dan kita merasa haqq al-yaqin bahwa ungkapannya itu sama sekali tidak meletup dari gelembung teori belaka, tapi murni memancar dari telaga genangan cinta terhadap hadirat-Nya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Siska Maulina Reply

    Menginspirasi sekali kisah ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.