Syaikh Ibrahim as-Samarqandi

IsmailOnat

Nama lengkap beliau adalah Ibrahim bin Syammas as-Samarqandi. Selama beberapa waktu, beliau tinggal di Baghdad. Kemudian kembali ke tempat kelahirannya di Samarkand. Di kemudian hari, beliau juga wafat di sana.

Beberapa waktu setelah beliau kembali ke Samarkand, datanglah kemudian dengan berhamburan tentara-tentara kafir. Mereka mengepung Samarkand dari berbagai sisi. Dengan gegap-gempita dan kegagahan yang tak terkira-kira.

Pada suatu malam di tengah kepungan para tentara kafir itu, beliau keluar dari rumahnya. Beliau berteriak sekuat-kuatnya terhadap mereka. Lalu, terjadilah peristiwa saling bunuh di antara mereka sendiri. Dan pada waktu subuh, sisa-sisa mereka melarikan diri entah ke mana.

Sebagai seorang sufi, dari mana beliau memulai perjalanan spiritualnya? Tak lain beliau memulainya melalui sikap dan perilaku yang sopan, baik terhadap sesama maupun terutama terhadap Allah Ta’ala.

Akan tetapi apakah sesungguhnya makna adab atau sopan itu? Beliau pernah ditanya oleh orang-orang tentang hal tersebut. Dengan tegas dan penuh kerendahan hati beliau pun memberikan sebuah jawaban yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh orang lain: “Adab itu adalah engkau mengetahui dan sadar secara spiritual tentang siapa sebenarnya dirimu.”

Jawaban seperti itu bisa dengan mudah mengantarkan siapa pun, termasuk juga kita, pada sebuah pengetahuan tentang bagaimana kita menentukan sikap yang ideal di tengah kebersamaan kita dengan siapa dan apa pun.

Dan kalau suatu saat nanti pengetahuan itu mengalami migrasi spiritual sehingga meningkat menjadi sebuah kesadaran yang sanggup melahirkan tindakan konkret, maka ketahuilah bahwa hal itu tak lain merupakan karunia yang sangat signifikan dan agung di dalam kehidupan ini.

Dengan adanya karunia yang begitu mulia seperti itu, kita tidak saja akan menyadari tentang adanya berbagai keterbatasan dan kekurangan diri sendiri, akan tetapi lebih dari itu kita juga akan terus berusaha sepanjang usia untuk menebus aneka ragam kekurangan itu dengan berbagai perilaku yang sopan dan indah.

Secara sufistik, bersikap sopan di hadapan Allah Ta’ala adalah mengakui dengan sepenuh hati segala kemahaanNya yang tidak bertepi. Itu di satu sisi. Sedang di sisi yang lain adalah menyerahkan diri secara habis-habisan melalui pintu kepatuhan terhadap berbagai perintah dan ketentuan hadiratNya. Walaupun di antara sekian perintah itu tak kunjung terpahami.

Sedangkan di hadapan sesama makhluk, sikap sopan itu akan muncul sebagai kerendahan hati yang begitu indah dan mengagumkan. Tak terlintas untuk bersikap jemawa sedikit pun. Karena sadar bahwa sejumlah kekurangan itu merupakan atribut-atribut yang permanen. Di situ, yang akan senantiasa menjadi hiasan tak lain adalah penghormatan, cinta, dan kasih-sayang. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Jusuf Fitroh Reply

    Yang agak panjang dong kakak

Leave a Reply

Your email address will not be published.