Syaikh Ibrahim bin Adham

Mawra Tahreem

Beliau adalah anak dari seorang raja di Balakh, Afghanistan. Sebelum memasuki dunia tasawuf, tentu saja beliau serba berkecukupan dan bahkan mewah sebagaimana lazimnya di lingkungan kerajaan. Beliau wafat di Syiria pada 778 M.

Pada suatu hari, beliau memimpin sidang di balairung kerajaannya. Di hadapan para punggawa dan menteri. Saat kursi kebesarannya ditinggalkan sejenak, tiba-tiba seseorang yang berpakaian compang-camping nyelonong dan duduk di kursinya.

Beliau heran sekaligus geram. Namun si compang-camping itu dengan sangat santainya berkata, “Aku baru sampai di tempat persinggahan ini.” Lalu terjadilah dialog sebagaimana berikut ini.

+: “Apa kau bilang? Ini persinggahan? Ini sebuah kerajaan, tahu?”

-: “Sebelum Anda, siapa yang menjadi raja di sini?”

+: “Ayah saya.”

-: “Sebelum ayahmu?”

+: “Kakekku.”

-: “Ke mana mereka sekarang?”

+: “Sudah meninggal.”

-: “Kalau begitu, bukankah ini merupakan tempat persinggahan?”

Ibrahim bin Adham lalu tercengang berhadapan dengan pertanyaan terakhir itu. Hatinya jadi masygul. Pikirannya jadi berkabut. Kepalanya pusing tujuh keliling. Si compang-camping itu, yang kelak di kemudian hari diketahui sebagai Nabi Khidhir, lalu menghilang begitu saja. Sidang lalu dihentikan.

Beberapa hari setelah persidangan itu, Ibrahim bin Adham tetap dirundung gelisah. Ditikam resah. Dan dalam rangka menepis kemurungan itu, dalam rangka menghibur diri, beliau mencari hiburan dengan berburu.

Memulai perburuannya, beliau mengincar seekor kelinci liar. Di saat itulah untuk pertama kalinya beliau mendengar suara gaib: “Apakah untuk ini engkau diciptakan? Atau untuk ini engkau diperintahkan? Tidak. Engkau tidak diciptakan untuk ini. Engkau pun tidak diperintahkan untuk ini pula.”

Dari peristiwa yang sangat menggugah itu, beliau kemudian sepenuhnya memasuki gerbang tasawuf. Meninggalkan kerajaan dan kuasanya. Mengucap sayonara kepada segala yang profan di dunia ini. Melangkahkan kaki menuju Mekkah. Di sana, beliau bersahabat dengan Syaikh Sufyan ats-Tsauri dan Syaikh Fudhail bin ‘Iyadh.

Di antara doa beliau yang paling sering diucapkan adalah, “Ya Allah, tolong pindahkan diriku dari kehinaan maksiat kepadaMu menuju kemuliaan taat terhadapMu.”

Kandungan doa seperti itu sungguh sangat penting untuk kita alami. Yakni, berlari dari jebakan dan kubangan dosa-dosa menuju lezatnya kepatuhan dan penghambaan kepada Allah Ta’ala. Moga kita dimudahkan untuk merealisasikannya. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.