Syaikh Junaid al-Baghdadi

Sufi Whirl by Mawra Tahreem

 

Beliau adalah al-Junaid Abu al-Qasim al-Baghdadi. Berasal-usul dari Nahawand, sebuah kota di Provinsi Hamadan, Iran. Akan tetapi beliau lahir dan tumbuh besar di Baghdad, dan kepada kota inilah namanya dinisbatkan. Beliau wafat pada tahun 297 Hijriah.

Di bidang fikih, beliau mengikuti madzhab Imam Abu Tsaur, salah seorang murid terpenting dari Imam Syafi’ie. Ada yang mengatakan bahwa beliau mengikuti madzhab Imam Sufyan ats-Tsauri. Beliau bersahabat dengan Syaikh Sari as-Saqati yang tidak lain adalah pamannya, Syaikh al-Harits al-Muhasibi, Syaikh Muhammad al-Qashshab. Semua nama tersebut sekaligus merupakan guru-guru beliau.

Beliau juga dikenal dengan sebutan Sayyid ath-Thaifah, tuan dari seluruh “komunitas” kaum sufi. Para sufi agung seperti Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz, Syaikh Ruwaim al-Baghdadi, Syaikh Abu al-Husin an-Nuri, Syaikh Abu Bakar asy-Syibli, dan lain sebagainya, semuanya terhubung dengan beliau. Itulah sebabnya, Syaikh Abu al-‘Abbas bin ‘Atha’ menyatakan: “Imam kami di bidang ilmu tasawuf, juga rujukan dan panutan kami, adalah al-Junaid.”

Selain di bidang keilmuannya yang sangat cemerlang, beliau juga masyhur dengan sebutan sebagai sumber moral. Lantaran hal itu, ketika suatu saat seorang Khalifah Baghdad menyebut Syaikh Ruwaim sebagai orang yang kurang bermoral, sufi yang terkenal dengan kekayaannya itu dengan tegas menimpali: “Apa? Kau sebut aku kurang bermoral? Bukankah aku sudah berkumpul dengan al-Junaid setengah hari?” Artinya adalah bahwa barangsiapa berkumpul dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi setengah hari, maka tidak akan muncul dari dirinya sikap ketidaksopanan. Apalagi sampai sekian lama bersama dengan beliau.

Adanya sikap sopan yang inheren di dalam diri seseorang pastilah mengindikasikan bahwa dia merupakan orang yang sangat cerdas secara moral. Tidak mungkin tidak. Apalagi seorang sufi seperti Syaikh Junaid al-Baghdadi yang dikenal luas sebagai sumber moral itu sendiri. Kecerdasannya melampaui kecerdasan banyak orang. Sampai-sampai Syaikh Abu Ja’far al-Haddad menyatakan: “Seandainya akal itu adalah laki-laki, maka Syaikh Junaidlah orangnya.”

Kecerdasan beliau sudah tampak sejak masih kecil. Dikisahkan di dalam kitab Nafahatnya Mulla ‘Abdurahman Jami bahwa pada suatu hari Junaid kecil sedang bermain dengan teman-teman sebayanya. Di saat asyik-asyiknya main, Syaikh Sari as-Saqati yang tak lain merupakan pamannya sendiri, mendekati Junaid kecil dan bertanya: “Menurutmu syukur itu apa?” Dengan spontan dia menjawab: “Engkau tidak menggunakan nikmat-nikmat Allah untuk maksiat kepada hadiratNya.”

Syaikh Junaid al-Baghdadi tumbuh semakin dewasa. Bersamaan dengan hal itu, tumbuh pesat pula dimensi keilmuan, moralitas, dan spiritualitasnya. Namun ketika diminta oleh pamannya, Syaikh Sari as-Saqati, untuk membuka pengajian umum, beliau dengan halus menolak karena menganggap dirinya belum pantas untuk hal tersebut.

Tapi apa boleh dikata. Ketika pada suatu malam Jum’at bermimpi jumpa Rasulullah Saw., Sayyid al-Wujud itu dengan bahasa yang begitu gamblang memberikan perintah kepada Syaikh Junaid al-Baghdadi untuk membuka pengajian umum. Sebelum manjing Subuh, dengan rasa gembira karena baru saja ditemui Nabi Muhammad Saw., beliau mendatangi rumah sang paman. Ketika membuka pintu, Syaikh Sari as-Saqati langsung bilang: “Kau tidak menggubris kata-kataku sehingga Nabi Muhammad Saw. sendiri yang memerintahkanmu untuk membuka pengajian umum.”

Tidak membutuhkan waktu lama, beliau menjadi kesohor dengan pengajian umumnya itu. Orang-orang yang datang makin lama makin membludak. Termasuk dari daerah-daerah yang jauh. Mereka merasakan bahwa ada magnet rohani yang begitu kuat di dalam pengajian beliau itu. Mereka betul-betul merasakan manfaatnya.

Pernah pada saat berlangsung pengajian, ada seorang pemuda nasrani dengan pakaian muslim yang mengambil tempat di ujung majelis. Pada saat forum dialog, dia mengajukan sebuah pertanyaan: “Syaikh, apa arti dari sebuah hadis yang menyatakan, ‘Berhati-hatilah terhadap firasat orang beriman. Karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah’.”

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, beliau menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan menatap si penanya sembari berkata dengan tegas dan santun: “Anak muda, berislamlah. Ini sudah tiba waktunya engkau masuk Islam.” Orang-orang kaget. Mereka baru tahu bahwa anak muda itu adalah seseorang yang menyamar. Dan betul, di saat itulah dia masuk Islam.

Imam al-Yafi’ie menyatakan di dalam kitab Mir’at al-Jinan tentang hal itu: “Orang-orang mengira bahwa itu merupakan satu karamah dari Syaikh Junaid al-Baghdadi, saya katakan bahwa itu adalah dua karamah sekaligus. Pertama, penglihatan beliau terhadap kekufuran si anak muda itu. Kedua, penglihatan beliau bahwa si anak muda itu sudah tiba waktunya masuk Islam.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.