Syaikh Khayr an-Nassaj

Beliau adalah Muhammad bin Isma’il Abu al-Hasan Khayr an-Nassaj. Berasal dari Samarra, sebuah kota kecil yang terletak di sisi timur Sungai Tigris di Provinsi Salah ad-Din, Iraq. Tapi beliau berdomisili di Baghdad. Bersahabat dengan Syaikh Abu Hamzah al-Baghdadi. Segenerasi dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Murid dari Syaikh Si Sari as-Saqati. Umur beliau begitu panjang, sampai seratus dua puluh tahun. Wafat pada tahun 322 Hijriah.

Khayr an-Nassaj yang berarti sebaik-baik tukang tenun dinisbatkan kepada beliau. Padahal sebenarnya beliau bukanlah tukang tenun dalam pemahamannya secara harfiah. Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam, beliau bukanlah penenun kapas menjadi kain, tapi penenun kalimat-kalimat keilahian.

Syaikh Ja’far al-Khuldi pernah menuturkan pengalamannya berdialog dengan Syaikh Khayr an-Nassaj sebagaimana berikut ini: “Apakah profesimu memang sebagai tukang tenun?” Sang sufi menjawab: “Tidak.” “Lalu, kenapa orang-orang mengatakan bahwa engkau adalah tukang tenun?” “Ceritanya begini: Aku telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk tidak memakan kurma.

Pada suatu hari, aku ngebet sekali untuk makan kurma. Kubeli kurma. Kumakan satu biji. Lalu, kulihat ada seorang laki-laki memandangku. Dia memanggilku, ‘Wahai Khayr, wahai orang yang kabur.’ Nah, si lelaki itu memang punya budak yang telah kabur, namanya Khayr. Malangnya, di hadapan si lelaki itu aku menjadi sangat mirip sekali dengan budaknya.

Dia langsung menangkapku. Orang-orang berdatangan, berkerumun di sekitarku. Mereka berkata kepada si lelaki: ‘Demi Allah, ini budakmu, si Khayr.’ Aku menjadi bingung. Lalu, muncul di dalam diriku sebuah kesadaran bahwa hal ini terjadi murni karena aku telah mengkhianati janjiku kepada Allah Ta’ala.

Aku dibawa oleh si lelaki itu ke tokonya. Di situ banyak budak yang bekerja menenun kapas menjadi kain. Dia bilang kepadaku dengan setengah membentak: ‘Duduk di sini. Tekuni pekerjaanmu ini.’ Aku bergabung dengan budak-budak itu. Menjadi bagian dari para tukang tenun. Selama empat bulan di situ.

Pada suatu malam, aku bangun dari tidur. Aku berwudhu. Lalu shalat. Sembari bersujud, aku bermunajat kepada hadirat-Nya: ‘Ya Allah, aku bertaubat. Aku tidak akan mengulangi lagi.’ Di pagi harinya, lenyap keserupaanku dengan budak si lelaki yang konon telah kabur itu. Rupaku yang asli telah kembali. Allah Ta’ala telah membebaskanku. Tapi orang-orang tetap menyebutku Khayr, nama si budak yang kabur itu.”

Pelajaran spiritual macam apa yang bisa kita ambil dari kisah sang sufi? Tentang berjanji untuk tidak makan kurma? Bukankah kurma itu halal? Ya, kurma itu memang halal. Tapi sang sufi tetap ingin mengekang nafsunya walaupun terhadap makanan yang halal. Bukan lantaran apa-apa. Sang sufi ingin nafsunya menjadi jinak, menjadi tunggangan sembah sujud yang paling khusyuk dan paling haru terhadap Tuhan semesta alam. Tidak menoleh kepada kesenangan apa pun yang lain.

Itulah salah satu cara Allah Ta’ala untuk mendorong sekaligus membimbing salah seorang hamba agar berakrab-ria dan bercumbu rayu secara spiritual dengan hadirat-Nya. Lewat jalan penderitaan yang “nista” dan penuh “kehinaan.” Dua idiom terakhir sengaja saya letakkan di antara dua tanda kutip. Karena jelas bahwa batiniah keduanya itu mutlak mengacu pada kemuliaan dan keberkahan rohani.

Juga pelanggaran terhadap janji kepada Allah Ta’ala untuk tidak makan kurma. Lahiriahnya adalah sebuah dosa. Tapi batiniahnya berisi rencana hadirat-Nya untuk mematangkan kondisi spiritual sang sufi, untuk mengangkatnya pada derajat rohani yang tinggi dan terpuji. Betul bahwa seseorang yang mencintai Allah Ta’ala harus merelakan diri dengan sepenuh hati untuk digarap oleh hadirat-Nya. Tak peduli apakah penggarapan itu menyenangkan atau malah menyusahkan. Tapi yakinlah bahwa akhir dari penggarapan itu pasti indah, pasti terpuji, pasti tinggi derajat yang disandangnya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.