Syaikh Maymun Al-Maghribi

Hossein Irandoust Moghadam

 

Beliau adalah salah seorang sufi dari Maroko, seorang pelancong sejati yang menjadikan perjalanan ke berbagai wilayah dan daerah sebagai tirakatnya yang senantiasa ditekuni. Beliau termasuk seorang sufi terdepan pada masanya di antara sufi-sufi yang lain.

Saya tidak menemukan data yang berkaitan dengan tahun kelahiran dan wafat beliau sebagaimana juga banyak sufi yang memang tidak diketahui waktu kelahiran dan kematian mereka. Hal tersebut tidak menghalangi saya tetap menulis tentang sufi ini sesuai dengan kapasitas keilmuan saya tentang beliau.

Syaikh Maymun al-Maghribi merupakan seorang sufi yang dianugerahi banyak karamah atau kejadian luar biasa yang mengindikasikan bahwa beliau banyak “digunakan” oleh Allah Ta’ala untuk menunjukkan kebenaran dan kemahaan hadiratNya kepada banyak orang agar mereka menjadi semakin tertarik untuk mendekat kepada Allah Ta’ala.

Di antaranya adalah bahwa beliau itu sebenarnya merupakan seorang sufi yang berkulit hitam. Tapi anehnya, ketika beliau mendengarkan sema atau musik kaum sufi, mendadak warna kulit beliau berubah menjadi putih. Ketika perkara itu ditanyakan kepada beliau, dengan tegas beliau langsung merespons dan memberikan jawaban: “Seandainya kalian menyaksikan apa yang aku saksikan ketika mendengarkan sema, tentu kondisi kalian juga akan berubah.”

Tentang karamah di atas, apa yang sesungguhnya terjadi pada beliau? Bagaimana mungkin musik rohani kaum sufi bisa mengubah warna kulit beliau dari hitam menjadi putih? Bagi sebagian kaum sufi yang hatinya telah bersih seperti halnya beliau, menyimak dan menyelami keindahan Ilahi melalui musik adalah sama saja dengan membebaskan seluruh dimensi kedirian yang terbatas karena mutlak terpukau kepada dimensi jamaliyyah atau keindahan hadiratNya yang pasti tak terbatas dan tak terpermanai itu.

Artinya adalah bahwa di saat sempurna tenggelam di dalam samudera keindahan paling sakral dan tidak bertepi itu, Syaikh Maymun al-Maghribi sepenuhnya kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri, tersedot oleh rasa keterpukauan yang sangat dahsyat terhadap keindahan Allah Ta’ala sehingga keberadaan dirinya serasa telah mati atau bahkan malah tiada.

Warna kulit beliau yang putih itu bisa merupakan simbol bagi ambruknya segala damba kepada segala sesuatu selain hadiratNya, bisa juga merupakan lambang bagi kefanaan paling sempurna yang dialami oleh diri beliau sendiri. Di hadapan rohani beliau, apa yang disebut sebagai jarak antara Tuhan dengan hamba menjadi pupus dan kalis. Yang ada hanya kemahaan hadiratNya yang membentang sangat luas meliputi seluruh semesta.

Pada apa saja, beliau mendapatkan Allah Ta’ala, baik pada dirinya sendiri maupun pada segala sesuatu di luar dirinya. Itulah sebabnya kita bisa menjadi lebih mudah untuk mengafirmasi adanya sebuah karamah lain yang dianugerahkan kepada beliau. Yaitu, beliau memiliki sebuah kantong “ajaib” yang sebenarnya kosong, tidak berisi apa-apa, tapi juga sekaligus bisa dikatakan berisi apa saja yang diinginkan.

Setiap kali membutuhkan sesuatu, Syaikh Maymun al-Maghribi tinggal memasukkan tangannya ke kantong kosong itu, lalu ditariklah tangannya, dan beliau mendapatkan apa yang diinginkan. Ajaib, bukan? Di luar skenario Allah Ta’ala, hal itu tidak mungkin terjadi. Sama sekali tidak mungkin.

Janganlah kita beranggapan bahwa beliau bisa memanjakan berbagai keinginannya dengan adanya “kesaktian kantong ajaib” itu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya keinginan beliau kepada selain hadiratNya murni telah sirna. Jangankan sampai dianggap penting, segala sesuatu yang lain itu dianggap ada saja tidak. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.