Syaikh Muhammad Al-Ashbihani

Come Come whoever you are by Hayrettin Karaerkek

 

Beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Fadzah al-Ashbihani. Salah seorang murid dari Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Banna’. Secara vertikal, beliau begitu tekun di dalam mempersembahkan berbagai macam ibadah mahdhah kepada Allah Ta’ala. Sementara secara horizontal, beliau sedemikian luman dan derma kepada sesama.

Dalam perkara ibadah mahdhah, tidak tanggung-tanggung, beliau mengkhatamkan Qur’an sebanyak tiga kali setiap hari. Sebuah kekuatan spiritual yang sangat mengagumkan. Hal itu mengindikasikan bahwa beliau betul-betul telah sampai pada kedudukan rohani yang memungkinkan bagi beliau untuk senantiasa menjadi “teman” dialog bagi hadiratNya.

Artinya adalah bahwa membaca Qur’an yang merupakan himpunan dari kalam-kalam hadiratNya itu sebenarnya bisa dipahami sekaligus dirasakan sebagai komunikasi suci dengan Allah Ta’ala. Dan itulah yang senantiasa ditekuni setiap hari oleh Syaikh Muhammad al-Ashbihani.

Tidak diragukan lagi bahwa di dalam komunikasi suci itu beliau senantiasa mengalami transendensi. Yaitu, pendakian spiritual yang terus-menerus bergerak menuju ke ketidakterhinggaan Tuhan semesta alam. Bukankah kalam-kalam hadiratNya sendiri itu secara substansial memang tidak terhingga?

Pada kalam-kalam Allah Ta’ala itu terdapat dimensi keagungan, terdapat dimensi keindahan, terdapat dimensi kemahasempurnaan hadiratNya yang pasti tidak akan pernah sepenuhnya bisa terjangkau. Tapi pada saat yang bersamaan juga dapat dipastikan bahwa komunikasi suci dengan Allah Ta’ala itu bisa melahirkan impresi spiritual yang luar biasa bagi seseorang. Baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Dalam konteks ibadah sosial, Syaikh Muhammad al-Ashbihani telah memberikan contoh konkret yang sangat cemerlang. Yaitu, selama sekian tahun beliau mencukupi kebutuhan gurunya, Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Banna’ dan keluarganya, dengan penuh takzim, dengan penuh cinta, dan dengan penuh harapan bahwa beliau dan keluarganya akan mendapatkan limpahan berkah dari Allah Ta’ala lewat dermanya itu.

Selain dalam rangka mengejawantahkan konsepsi hablun min an-nas yang memang ditekankan di dalam ajaran Islam, mendermakan harta-benda kepada guru rohani sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Syaikh Muhammad al-Ashbihani terhadap Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Banna’ adalah cara yang sangat akselaratif untuk mencapai derajat-derajat spiritual yang tinggi.

Alasannya pasti bahwa seorang guru rohani secara hakiki sesungguhnya merupakan perpanjangan tangan Tuhan di dalam mendidik seorang salik agar senantiasa terlecut langkah-langkah spiritualitasnya menuju “alamat” hadiratNya. Dan ketika seorang salik yang berposisi sebagai murid itu berderma dengan tulus kepada guru rohaninya, itu serupa dengan ibadah yang ikhlas terhadap Allah Ta’ala.

Betapa dahsyat kekuatan rohani Syaikh Muhammad al-Ashbihani. Pada suatu saat di musim dingin, ada seorang sufi yang mendatangi beliau. Sang tamu begitu heran menyaksikan Syaikh Muhammad al-Ashbihani hanya menggunakan satu lapis pakaian. “Tidakkah engkau dicekam dingin?” tanya sang tamu.

“Coba kau baca kalimat tahlil. Lalu sentuhkan telapak tanganmu ke kulitku,” respons Syaikh Muhammad al-Ashbihani dengan sangat meyakinkan. Dan betul. Setelah mengikuti perintah beliau, sang tamu betul-betul merasakan betapa sekujur tubuh Syaikh Muhammad al-Ashbihani penuh dengan kucuran keringat.

Apa artinya? Tak lain adalah bahwa keseluruhan diri beliau itu senantiasa terolah dengan berbagai gerakan rohani yang sangat sublim di hadapan kemahaan hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.