Syaikh Qasim al-Harbi

pinterest.com

Dalam kitab Hilyah al-Awliya karya Abu Nu’aim al-Ashfihani yang terdiri dari sebelas jilid, nama beliau ditulis dengan Qasim al-Jariri. Beliau termasuk sufi pada generasi awal. Sezaman dengan Imam Ahmad bin Hanbal dan Syaikh Bisyr bin al-Harits al-Hafi.

Beliau adalah orang yang sangat ketat di dalam menjaga kondisi spiritualnya. Sadar bahwa kehidupan dunia dengan segala tipu daya yang dikandungnya bisa menarik dan bahkan menyeret perhatian siapa saja kepada selain Allah Ta’ala, beliau lalu senantiasa mempertangguh benteng-benteng rohani yang dikuasainya. Jangan sampai sedikit pun terlubangi oleh alpa dan kelalaian kepada hadiratNya, apalagi sampai jebol dengan tergencet oleh dosa-dosa.

Beliau berpegang teguh kepada filosofi spiritual Baginda Rasulullah Saw. bahwa jangan sampai kualitas hidup hari ini sama dengan kualitas hidup kemarin. Itu namanya rugi. Apalagi kalau sampai hari ini lebih buruk nilai dan kualitasnya dibandingkan dengan kemarin. Itu namanya kehancuran. Sehingga yang selalu dialami oleh beliau tidak lain adalah pendakian demi pendakian spiritual bersamaan dengan umur beliau yang setiap saat semakin berkurang.

Kita bisa membayangkan bagaimana siang dan malam beliau senantiasa tanpa jeda menjaga kebun rohani yang dimilikinya. Jangan sampai ada pencuri tidak sopan menyelinap ke dalamnya. Jangan sampai ada penggarongan, baik secara kecil-kecilan atau apalagi sampai besar-besaran. Seluruh isi dari kebun rohani itu adalah kekayaan yang memang mesti senantiasa ditumbuhkembangkan.

Bagaimana caranya? Sama sekali bukanlah dengan terutama selalu waspada dan awas terhadap setan yang datang menjinjit-jinjit atau melesat dengan supersakti. Akan tetapi sepenuhnya dengan semata fokus terhadap Allah Ta’ala. Yakni, dengan penuh gembira dan ketulusan menikmati hidangan-hidangan rohani yang berupa pelaksanaan berbagai macam perintah dan menjauhi aneka ragam larangan. Termasuk di antara hal yang paling penting di dalam kenikmatan spiritual itu adalah senantiasa menggelorakan api cinta kesucian kepada hadiratNya.

Sedemikian ketatnya beliau di dalam menjaga kebun rohani itu sampai-sampai beliau tidak ada waktu untuk membuka pintu-pintu penghidupan secara lahiriah dengan bekerja ini dan menekuni itu. Waktu dua puluh empat jam yang dimilikinya di dalam sehari semalam digunakan secara utuh untuk tawajjuh dan bercengkrama-ria dengan Allah Ta’ala, baik secara langsung maupun melalui perantara palayanan terhadap makhluk-makhlukNya.

Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau maqam tajrid. Yaitu, peluang sangat luas untuk mendapatkan rezeki materi dengan tanpa bekerja sedikit pun. Dan sebaiknya kita tidak usah bertanya, kok bisa? Karena bagi hadiratNya, bukan saja segala sesuatu itu mungkin, tapi juga sepele. Termasuk memberikan rezeki materi kepada siapa pun dengan tanpa melalui secuil pekerjaan apa pun.

Bahkan di dalam perkara yang sebenarnya lumrah dalam bertetangga dengan sesama, seperti meminta sedikit bawang merah, bawang putih, garam, atau keperluan apa pun dalam kehidupan sehari-hari, sama sekali hal itu tidak pernah dilakukan oleh Syaikh Qasim al-Harbi. Kebersandaran beliau kepada hadiratNya terlampau kukuh sehingga tidak ada celah sedikit pun untuk “merengek” atau sambat kepada sesama. Sungguh, hal itu merupakan sebentuk realitas ketauhidan yang sangat tangguh.

Ketika beliau sudah sepuh dan kemudian jatuh sakit, kawan terdekatnya, Syaikh Bisyr bin al-Harits al-Hafi, menjenguk beliau di rumahnya. Subhanallah. Tubuh beliau yang sudah rapuh terbaring di atas sebuah tikar yang sudah kusam dan sobek di sana-sini. Berbantal batu-bata. Ketika si kawan yang menjenguk itu pamitan dan kemudian keluar, tetangganya bilang: “Sudah sekitar tiga puluh tahunnya ini kami bertetangga, beliau tidak pernah minta atau sambat apa pun kepada kami.”

Betapa sangat mengagumkan. Sebuah kebun rohani yang sangat lebat dengan buah-buahan makrifat dan hakikat. Sebuah kenyataan hidup yang begitu teguh dengan prinsip-prinsip ketauhidan. Sebuah pemandangan spiritual yang sedemikian indah dan memukau. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.