Syaikh Sahl Al-Marwazi

Shafique Farooqi – Clifton Art Gallery

 

Tentang sufi ini, saya betul-betul tidak tahu di mana dan kapan beliau dilahirkan, juga tidak tahu di mana dan kapan wafat. Kitab utama yang menjadi pegangan saya di dalam serial penulisan “biografi singkat” para sufi ini, Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami, sama sekali tidak menuliskan hal tersebut.

Tentang beliau, pernah dituturkan kisah sebagaimana berikut ini. Pada suatu hari, beliau pernah datang ke rumah Syaikh ‘Abdullah ibn al-Mubarak. Beliau mendengarkan suara perempuan yang sedang menyanyi di atas atap rumah yang dikunjungi itu.

“Kenapa ada perempuan yang sedang menyanyi di atas atap rumah ini? Segera turunkan dia,” kata beliau.

“Baiklah,” kata si tuan rumah sembari beranjak untuk menyaksikan apa yang ada di atas atap rumahnya. “Coba lihat, tidak ada siapa-siapa di atas atap rumahku. Dia sudah meninggalkan dunia ini. Dan di atas atap rumahku tidak pernah ada seorang penyanyi pun. Dia seorang bidadari yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menghormati Syaikh Sahl al-Marwazi.”

Di saat sang sufi tahu bahwa di atas atap rumah Syaikh ‘Abdullah ibn al-Mubarak tidak ada siapa-siapa karena bidadari yang didengarnya menyanyi itu telah pergi, di saat itu juga sang sufi lalu meninggalkan dunia yang fana ini. Wafat. Begitu cepat beliau berpisah dengan kehidupan yang sering kali gaduh ini.

Bidadari adalah sebuah keindahan yang tidak bisa kita bayangkan sepenuhnya karena merupakan bagian dari keindahan surga yang seliar apa pun imajinasi kita, tetap tidak akan sanggup untuk menjangkaunya. “Tidak terlintas di dalam hati manusia,” sabda Nabi Muhammad Saw.

Bidadari surga juga merupakan makhluk keabadian yang belum pernah tersentuh baik oleh jin maupun manusia, hanya dikhususkan untuk kalangan laki-laki beriman di akhirat kelak. Akan tetapi dalam rangka memberikan penghormatan kepada salah seorang kekasihNya, Allah Ta’ala memperdengarkan sekilas suaranya dalam bentuk nyanyian semata, tanpa kelihatan sosok dan rupanya.

Hal tersebut membuktikan bahwa jerih-payah spiritual secara lahir-batin yang telah dikerahkan Syaikh Sahl al-Marwazi betul-betul telah mengantarkannya kepada konvergensi yang sempurna dengan karunia agung rohani yang turun dari hadiratNya. Meski tentu saja di sini mesti segera diberi anotasi bahwa jerih-payah di jalan rohani itu tidak lain merupakan karunia Allah Ta’ala juga. Tak mungkin tidak.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.