Syaikh Syah al-Kirmani

turkish sufi 1 by RASHAamin7 on DeviantArt

 

Beliau adalah Syah bin Syuja’ al-Kirmani. Salah seorang teman dari Syaikh Abu Hafsh al-Haddad. Bersahabat dengan Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi, Syaikh Abu ‘Abdillah az-Zarra’ al-Bashri, dan Abu ‘Ubaid al-Busri. Beliau adalah guru rohani dari seorang sufi terkenal, Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri. Sufi yang senang mengenakan pakaian ala tentara ini wafat pada tahun 276 Hijriah.

Beliau adalah seorang sufi yang kondisi rohaninya sedemikian agung. Bahkan seorang sufi bernama Syaikh Yahya bin ‘Imar dengan tegas menyatakan bahwa Syaikh Syah al-Kirmani merupakan salah satu dari Sultan Rohani. Sebuah ungkapan yang mengindikasikan bahwa pencapaian beliau di bidang spiritualitas memang betul-betul mengagumkan.

Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi menuturkan bahwa selama empat puluh tahun Syaikh Syah al-Kirmani tidak tidur sama sekali, baik siang maupun malam. Hal itu beliau lakukan agar tidak ada waktu yang “terbuang” di dalam fokus terhadap Allah Ta’ala. Sebisa mungkin jangan sampai ada jeda di dalam komunikasi spiritual dengan hadiratNya.

Akan tetapi di ujung waktu yang keempat puluh tahun itu beliau tertidur sejenak. Dan di dalam tidur itu, beliau bermimpi Allah Ta’ala. Seketika beliau terbangun. Lalu, meluncurlah syair berikut ini: “Aku melihatMu di dalam mimpi dengan penuh gembira. Karenanya, aku menjadi senang terhadap kantuk dan tidur.”

Setelah peristiwa mimpi sakral yang sangat menggembirakan itu, beliau sering kali tidur. Tidur terus. Tidak ada waktu tanpa tidur. Bahkan orang-orang yang sowan kepada beliau, sering kali menjumpai beliau dalam keadaan tidur. Semata karena beliau “ketagihan” bermimpi Allah Ta’ala di dalam tidur.

Dengan demikian, berarti ada dua fase dalam kehidupan beliau. Yaitu, fase melek dan fase tidur. Dua-duanya sama-sama mengagumkan. Dua-duanya sama-sama merupakan bagian dari suluk yang suntuk terhadap hadiratNya. Dua-duanya sama-sama merupakan wasilah untuk sampai pada tujuan yang paling agung.

Tirakat tidak tidur secara terus-menerus bukanlah perkara yang mudah. Sama sekali tidak. Apalagi sampai ditempuh selama puluhan tahun. Bagi seorang salik yang remeh-temeh seperti saya, sungguh tirakat tidak tidur sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Syaikh Syah al-Kirmani itu bukan saja bisa dikatakan sangat berat dan sulit, tapi lebih dari itu bahkan bisa dikatakan mustahil.

Dibutuhkan adanya heroisme rohani yang tidak pernah berhenti menyala, tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, agar sampai kepada puluhan tahun tidak tidur itu. Fokus penglihatan batin harus terus terarah, tidak boleh tergelincir sedikit pun kepada selain hadiratNya. Pandanglah apa pun yang lain sebagai “tumpukan” ketiadaan, sebagai jibunan kehampaan. Walaupun terus merongrong sebagai tipuan dan rayuan.

Dalam rangka semakin mempertajam fokus kepada hadiratNya, Syaikh Syah al-Kirmani dengan sengaja dan penuh ketulusan menempuh jalan hidup kefakiran. Tidak saja di dalam laku yang mendarah daging pada suluk dan kehidupannya, tapi juga bahkan beliau merasa perlu menuliskan laku kefakirannya itu ke dalam sebuah kitab tersendiri. Kitab tersebut oleh beliau sekaligus dijadikan sanggahan terhadap sebuah kitab yang ditulis oleh seorang sufi agung, Syaikh Yahya bin Mu’adz ar-Razi, dengan judul Tafdhil al-Ghina ‘ala al-Faqr. Yakni, kitab yang mengulas tentang keutamaan kaya dibandingkan kefakiran.

Dan sebagaimana tirakat tidak tidur yang sangat berat, tirakat senantiasa tidur pun bukanlah merupakan perkara yang mudah. Kita bisa merasakan pusing luar biasa kalau banyak tidur, juga bisa merasakan jenuh tidak keruan. Tapi bagi seseorang yang seluruh hidupnya hanya semata untuk Allah Ta’ala belaka, keduanya bisa sangat mudah karena ditangani langsung oleh hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Falah Reply

    Bagus……saya ingin tanya dong…gimana caranya masuk situs ini….saya juga ingin tulisan saya di post disini

  2. Adam Reply

    Semalam aja gak tudur
    Sudah terasa beratì

Leave a Reply

Your email address will not be published.