Syaikh Zakariyya bin Dallawih

Hossein Irandoust / Darvish series from the ‘Spirituality in Motion’ / Courtesy of Pro Art Gallery and the Artist

 

Beliau adalah Abu Yahya Zakariyya bin Dallawih. Salah seorang sufi yang berasal dari Nisapur. Satu di antara sekian banyak murid dari Syaikh Ahmad bin Harb. Wafat di Nisapur pula pada tahun 294 Hijriah.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang seorang sufi ini. Kitab utama yang merupakan referensi saya di dalam penulisan serial “biografi” singkat para sufi, Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami, sama sekali tidak menguraikan apa pun tentang beliau selain yang telah terdedah di atas.

Akan tetapi jelas bahwa hal tersebut sama sekali tidak mengurangi sedikit pun kredibilitas rohani beliau yang sangat penting untuk tidak saja kita ketahui, namun lebih dari hal itu mesti kita teladani dengan segenap kesungguhan dan ketulusan. Sehingga adanya pembacaan terhadap spiritualitas seorang sufi sanggup melahirkan adanya pencerahan rohani yang outputnya tidak lain adalah perilaku-perilaku terpuji, baik dalam konteks vertikal maupun horizontal.

Ada dua poin penting yang disebutkan oleh Mulla ‘Abdurahman al-Jami (wafat  pada 898 Hijriah) tentang “prestasi” spiritual yang melekat pada diri Syaikh Zakariyya bin Dallawih. Pertama, beliau merupakan orang agung di antara deretan para zahid, di kalangan orang-orang yang bersikap asketis terhadap berbagai dimensi kehidupan duniawi, terhadap berbagai macam godaan materi di bentangan medan hidup yang fana ini.

Sedemikian asketisnya beliau, sehingga tidak ada satu suapan pun makanan atau seteguk minuman yang melewati tenggorokan beliau kecuali sudah dipastikan terlebih dahulu tidak saja perkara kehalalannya, tapi juga landasan orientasinya di dalam makan dan minum itu untuk Allah Ta’ala semata. Sama sekali bukan karena ingin merasakan dan menikmati makan dan minum itu sendiri.

Tindakan asketis seperti itu bukan saja penting, tapi mutlak merupakan sebuah keharusan spiritual untuk mendapatkan lompatan-lompatan rohani yang sangat efektif agar sampai pada posisi dekat yang sangat mengasyikkan dengan Tuhan semesta alam. Memastikan kehalalan dan keberkahan makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah awal mula dari perjalanan rohani yang begitu efektif untuk sampai kepada hadiratNya.

“Jadikanlah perutmu,” firman Allah Ta’ala kepada Syaikh ‘Abdul Jabbar an-Niffari sebagaimana termaktub di dalam kitab al-Mawaqif wa al-Mukhathabat, “seperti perut orang-orang yang shaleh, maka Aku akan menjadikan hatimu seperti hati mereka.” Artinya adalah bahwa perut itu sama sekali bukanlah semata merupakan “lumbung” yang menampung berbagai objek dari nafsu makan dan minum, tapi semestinya menjadi penampung energi kepatuhan, cinta, dan kerinduan kepada Kekasih Tercinta.

Kedua, Syaikh Zakariyya bin Dallawih adalah seorang tokoh penting di kalangan orang-orang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala, di kalangan mereka yang menyerahkan berbagai macam urusan kepada hadiratNya setelah sebelumnya diikhtiarkan sesuai dengan kemampuan yang ada. Beliau adalah seorang sufi yang murni makan dari hasil usahanya sendiri. Lahiriahnya menempuh jalan kasab. Semestinya batiniahnya mutlak bergantung dan bersandar kepada Allah Ta’ala.

Ketawakalan beliau sebagai seorang sufi yang menekuni jalan asketis rasanya tidak mungkin berlangsung hanya secara “harfiah” belaka, tapi murni ditopang oleh kedalaman dan kejernihan makrifat beliau bahwa seluruh usaha dan kerja tidak mungkin melahirkan dampak positif apa pun tanpa dipandu dan berkelindan dengan kehendak hadiratNya. Karena itu, titik tekan usaha beliau terutama adalah pertolongan Allah Ta’ala, sama sekali bukan usahanya itu sendiri.

Keagungan dan keluhuran martabat rohani beliau sungguh sangat penting untuk kita pancangkan di depan pelupuk mata batin untuk dijadikan tauladan. Sedemikian pentingnya meneladani beliau, sampai-sampai seorang sufi sekaliber Syaikh Abu ‘Utsman al-Hiri menyatakan dengan tegas bahwa barangsiapa menjalani hidup sebagaimana kehidupan Syaikh Zakariyya bin Dallawih, maka dia tidak akan tersentuh derita lantaran kematian, juga tidak akan menderita setelah kematiannya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Najwamukarram Reply

    Apa sudah aktif lagi mengirim artikel?

Leave a Reply to Najwamukarram Cancel Reply

Your email address will not be published.