Syaikh Zhalim bin Muhammad

(Whirl 16 by Mawra Tahreem)

 

Tidak banyak yang bisa saya ketahui tentang biodata sufi di atas. Hanya satu hal mengenai beliau yang dituturkan di dalam kitab Nafahatnya Mulla ‘Abdurrahman Jami. Yaitu, sufi yang bernama aneh itu merupakan kawan bagi Syaikh Abu Ja’far al-Haddad, Syaikh Junaid al-Baghdadi, Syaikh Ruwaim al-Baghdadi, dan Syaikh Abu Turab an-Nakhsyabi.

Nama beliau sebenarnya adalah ‘Abdullah bin Muhammad. Namun, pada suatu hari beliau pernah menyatakan: “Aku tidaklah menyembah Allah sebagaimana semestinya Dia disembah. Maka jelas bahwa aku zhalim kepada diriku sendiri.” Sejak saat itu beliau menyebut dirinya dengan nama Zhalim bin Muhammad.

Bagi beliau, ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan untuk kemudian diamalkan oleh seseorang agar jalan rohani dibentangkan dengan lapang baginya sehingga dia bisa dengan mudah wushul atau sampai kepada Allah Ta’ala.

Pertama, senang berdzikir kepada hadiratNya. Ini penting. Bahkan sangat penting. Karena dzikir itu tidak lain merupakan wujud pertalian rohani yang sangat urgen antara seseorang dengan hadiratNya. Ketika pertalian yang sakral itu sedemikian kukuh, maka dapat dipastikan bahwa seseorang yang mengalaminya itu akan senantiasa berada dalam penjagaanNya.

“Aku adalah Kawan bagi orang yang berdzikir kepadaKu,” demikianlah firmanNya dalam salah satu hadits qudsi. Walaupun belum mengalami, asalkan seseorang memiliki keyakinan yang kuat terhadap kebenaran hadits qudsi tersebut, pastilah dia tidak akan kesulitan di dalam menarik kesimpulan bahwa pertemanan dengan Allah Ta’ala itu adalah pertemanan yang paling baik dan mulia.

Tidak tanggung-tanggung, berteman dengan hadiratNya. Siapa pun yang telah dianugerahi pengalaman spiritual yang sangat sakral dan penting itu, dapat dipastikan dia merasakan kenikmatan rohani yang begitu mengasyikkan. Bagaimana mungkin tidak, sedang pertemanan yang dipenuhi dengan ketulusan dan perhatian di antara sesama manusia saja sudah sangat menyenangkan, apalagi pertemanan dengan Tuhan.

Kedua, lari dari makhluk. Tentu saja hal ini tidak bisa dipahami secara harfiah belaka. Karena dapat dipastikan bahwa secara lahiriah tidak akan pernah ada siapa pun yang sanggup melarikan diri dari makhluk. Karena jelas bahwa bukankah di mana saja setiap orang pasti bersama makhluk? Diri manusia sendiri adalah makhluk.

Berarti yang dimaksud dengan poin yang kedua itu konotasinya tertuju kepada konteks rohani. Yaitu, membebaskan hati dari cengkeraman dan pukauan makhluk. Sehingga ia sepenuhnya merdeka dari segala penjara yang fana. Dan pada saat yang bersamaan sang hati itu mulai merasakan adanya hasrat yang semakin meningkat dan semata fokus kepada Allah Ta’ala.

Ketiga, sedikit makan. Poin ketiga ini bisa dengan mudah dipahami bahwa dengan banyak makan seseorang akan lebih berhasrat terhadap berbagai kebutuhan dan kesenangan jasadinya belaka. Sementara dimensi batiniahnya semakin tidak terurus, semakin tidak terhiraukan, semakin merana, semakin sekarat.

Oleh karena itu, sedikit makan tersebut merupakan salah satu solusi bagi lemahnya kekuatan rohani. Dari sini kita bisa dengan gamblang memahami dan mengafirmasi salah satu sunnah Nabi Muhammad Saw. Yaitu, makan ketika sudah betul-betul lapar dan berhenti sebelum kenyang. Perbuatan yang kelihatannya gampang itu, ternyata praktiknya benar-benar tidak semudah yang dibayangkan. Terutama ketika kita berhadapan dengan lauk-pauk yang menggiurkan. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Idrus Ali Reply

    Manteep

  2. Anonymous Reply

    1. Banyak berdzikir kepada Allah
    2. Membebaskan hati dari cengkeraman dan pukauan makhluk
    3. Menyedikitkan Makan

    Tiga hal yang susahnya bukan main. Semoga Allah menganugerahi kita kesanggupan untuk menjalankan tiga hal di atas. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.