Tarekat Puisi dan Ibadah Memaknai

 

Judul: Bermain Kata, Beribadah Puisi

Penulis: Joko Pinurbo

Penerbit: Diva Press

Tahun Terbit: Desember 2019

Tebal: 264 hlm

ISBN: 978-602-391-805-8

Petualangan rimba metafor Jokpin belum selesai, dan memang tidak pernah usai. Kini hutan bahasa yang pada mulanya terisolasi dari kebanyakan manusia, tentu selain Jokpin sendiri, sudah terbuka sedikit demi sedikit untuk dijelajahi khalayak umum. Keindahan hutan menjadi semacam penyegaran di kala penat menyerbu sekaligus memenuhi kepala para penyair muda. Hutan itu, pemilik dan pembuka lahannya bukan lain adalah Jokpin seorang.

Acapkali membaca karya-karya Jokpin saya mesam-mesem sendiri. Apalagi salah satu yang terbaru, “Bermain Kata Beribadah Puisi”. Sekumpulan esai yang lebih pantas disebut sebagai rekam jejak atau proses puitik Jokpin ini, menjadi sebuah upaya penyegaran bagi penyair-penyair muda yang hampir mampet makna. Meski memang benar adanya, ilham atau ide tidak datang pada kepala yang kosong. (hlm. 102)

Mula-mula saya terenyak dengan prolog yang dibuat dengan sedemikian rendah hatinya seorang Jokpin. Ia mendaku masih menjadi pembelajar puisi. Di suatu halaman yang lain, Jokpin mengatakan bahwa urusannya dengan puisi belum beres saat berbincang melalui sebuah pesan elektronik dengan Hasan Aspahani. (hlm. 106) Bagaimana mungkin, seseorang yang akhir-akhir ini saya tasbihkan namanya sebagai penyair madzhab baru, sedemikian tunduk dengan ilmu berpuisi. Lebih lagi, bahkan bisa dikatakan bahwa Jokpin berguru pada puisi-puisi itu sendiri. Puisi baginya lebih dari sebuah karya. Puisi adalah objek sekaligus subjek. Seperti yang Stephen Hawking katakan tentang jagat semesta, “Sekali dibuat dan akan berjalan sendirinya.” Puisi Jokpin setelah ditulis akan hidup, berubah menjadi guru-guru spiritual banyak orang.

Sebagai penikmat dan penyaji puisi naratif, Jokpin sangat melebihi ekspektasi pembaca dalam memberikan kejutan-kejutan. Diksinya penuh kesegaran bagi kaum penyair “terpelajar” yang tunduk pada kebakuan formal, yang takut memulai berpetualang di belantara kata dan rimba makna. Mula-mula saya jatuh ke dalam permainan rima Jokpin pada puisi, “Kamus Kecil”. Puisi tersebut bagi saya memiliki dentang dan notasi yang musikal. Mengayun pelan di samping telinga dan hampir membuat saya manggut-manggut dipeluk kegilaan. Yang benar saja, masak iya isi kepala saya menari sebab hanya membaca sekaligus mendengar puisi. Kemudian dari sana, saya bertolak untuk tidak lagi menulis puisi sesuai panduan buku babon mata pelajaran bahasa Indonesia sewaktu di bangku sekolah.

Kalau boleh saya katakan, hubungan Jokpin dengan puisi seperti narasi Syekh Siti Jenar yang “Manunggaling” (bersatu) dengan Tuhan. Ya, “Manunggaling Jokpin lan puisi” (bersatunya Jokpin dan puisi). Hal ini kentara saat ia menjunjung kedudukan puisi sedemikian rupa, sebuah riwayat percintaan Jokpin yang tanpa cela. Seolah Jokpin ingin mengatakan dalam buku ini, sampai pada titik ini, tiap pencapaiannya bukanlah atas pengalaman dan proses belajar, namun atas kehendak puisi itu sendiri yang menuntun Jokpin untuk menyingkap makna “Celana” sampai “Toilet.” Jokpin digerakkan oleh puisi gubahannya sendiri.

Hal menyegarkan yang pertama kali menyambut kita adalah ketika Jokpin berkisah tentang pertemuannya dengan puisi dan yang sekaligus dibuat mabuk oleh puisi, bukan lain adalah puisi Sapardi. Narasi semacam ini tentu tak bisa ditiru, hanya akan dilalui oleh mereka calon penyair yang bentuk kepalanya terlihat abnormal. Meski pada akhirnya ia mengaku hampir melewati fase kegilaannya terhadap puisi, namun pertemuan selanjutnya yang justru mengantarkan Jokpin ke kehadirat puisi karya Iwan Simatupang dan Budi Darma sehingga membuat kegilaannya semakin parah. (Hlm. 11)

Disusul bagian agak ke tengah, Jokpin mulai bermain dengan kata, membedah proses puitiknya untuk membangun konstruksi puisi-puisi yang selama ini ia rawat dengan baik, pun juga sepenuh hati. Amboi, meski rupanya Jokpin menyederhanakan dalam menulis puisi seperti halnya para koki yang sedang memasak, namun saya meyakini bahwa pergulatannya tak sungguhan sama seperti memasak. Sisi ini juga saya anggap sebagai bagian dari kekuatan Jokpin, ia mampu menyederhanakan hal-hal abstraksi menjadi sangat konkret, tanpa kehilangan subtansi.

Ia mengatakan bahwa menentukan garis besar tematik adalah hal pertama yang harus dilalui, kemudian menyiapkan bahan-bahan dasar; antara lain seperti kiasan, kausalitas, analogi, sampai narasi. Dari sekian hal itu ia akan meraciknya, menakar dengan baik dan seimbang, agar menjadi puisi yang “gurih” bagi koki sendiri dan tentunya layak konsumsi bagi penikmat puisi. (hlm. 96)

Kemudian pada bagian ketiga, usai Jokpin memimpin semacam workshop kepenulisan puisi, ia menghidangkan testimoni dari beberapa kawan dekatnya yang juga sempat bersentuhan dengan puisi-puisinya maupun dengan dirinya sendiri. Dari sini kita akan disuguhkan pertunjukan yang berasal dari berbagai sudut pandang, berkumpul pada sebuah museum katakanlah, dan kita akan sepakat untuk menamai museum itu dengan sebutan, “Museum Puitika Jokpin.” Beberapa kawan Jokpin itu, yang turut menulis di dalam buku ini berusaha menampilkan sisi Jokpin secara psikologis atas pengalaman mereka masing-masing. Barangkali harapannya, dari sini kita akan belajar menjadi penyair sekelas Jokpin.

Memasuki babak terakhir dari sekuel buku ini, kita akan diajak untuk menyambangi rumah peribadatan Jokpin, yang tentu dengan kontennya berupa puisi. Puisi-puisi Jokpin menggantung di sana, menawarkan kepada kita untuk berdoa dari puisi mana saja, sesuai selera. Dan sepertinya, Jokpin tidak akan marah apabila kita sedikit mengambil cendera mata dari sana untuk dibawa pulang, kemudian dipelajari, bahkan diracik ulang. Jokpin dengan keluasan hatinya saya rasa akan sangat senang.

Bagaimanapun perjalanan yang dilalui Jokpin ini patut kita apresiasi sebagai pelajaran apabila hendak belajar puisi. Namun jangan lupa, jalan itu sudah dilalui oleh Jokpin, sehingga sangat tidak berguna apabila seorang penyair tak dapat membentuk dan berjalan di atas jalannya sendiri. Menjadi epigon memang jalan pintas, tapi penyair mana yang butuh jalan pintas?

Kukuh S. Aji

Latest posts by Kukuh S. Aji (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.