Tarian Caci; Menikmati Karisma Puluhan Pria Gagah Manggarai dari Kejauhan

Tarian Caci merupakan tarian rakyat Manggarai, salah satu kabupaten di Pulau Flores dan masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tarian ini merefleksikan kebudayaan dan keseharian masyarakat adat setempat meskipun beberapa unsur di dalamnya diadopsi dari berbagai kebudayaan luar daerah.

Seorang penari Caci memulai petualangannya sejak remaja. Ia boleh menari di kampung mana saja selagi ada upacara besar digelar. Sehari sebelumnya, tubuh, pakaian, dan segala aksesori yang akan ia gunakan tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Kecuali, kamu rela jika lelaki pujaanmu pulang dalam kondisi babak belur akibat luka cambuk dari atas tengkuk hingga pinggul.

Tarian Caci selalu dipentaskan pada upacara-upacara setelah panen antara bulan Juni–September (penti/hang woja weru), atau pesta kampung (rame natas), syukuran pembangunan rumah adat/rumah gendang (congko lokap). Biasanya dilaksanakan selama tiga hingga tujuh hari. Seiring dengan perkembangan zaman, pergelaran Caci hanya berlangsung maksimal dua hari. Ada kehidupan lain yang harus dilakoni sang penari, menjadi karyawan atau guru kelas yang baik, misalnya.

Yes, semua lelaki Manggarai bisa menjadi penari Caci, selama darah petarung atau penari Caci mengalir dalam tubuhnya. Kau akan menyaksikan puluhan laki-laki bertelanjang dada dengan nggorong bergelantungan dan bergemerincing setiap kali melangkah selama kurang lebih satu minggu, empat bulan dalam setahun, mengundang haru luar biasa.

Tarian Caci mengandung makna simbolis, melambangkan kejantanan, keriuhan, kemegahan, dan sportivitas laki-laki. Juga kerendahan hati, ketenangan, dan pengendalian emosi. Dalam tarian Caci, kedua belah pihak yang bertanding akan didandani bagaikan seekor kerbau hendak berlaga di medan pertempuran. Di kepala bagian depan dipakaikan panggal (mahkota) dari kulit kerbau dan bulu hewan (kambing atau kerbau) lengkap dengan tanduknya untuk melindungi kepala. Di belakang punggung, tepatnya tulang ekor, dipakaikan ndeki yang menyerupai ekor kerbau, berfungsi untuk melindungi bagian pinggang. Aksesori lainnya antara lain: sapu atau destar yang membungkus kepala sebelum mengenakan panggal. Di tengah pertarungan, destar akan berubah fungsi menjadi penutup wajah agar terhindar dari lecet/luka serius yang diakibatkan oleh serangan pihak lawan. Selendang leros dililitkan di pinggang melapisi celana panjang putih bersama-sama dengan kain songke hitam. Lalu ada nggorong atau giring-giring diikatkan di pinggang dan kedua kaki. Terakhir, sapu tangan untuk dilambai-lambaikan saat menari.

Selama tarian berlangsung, kedua belah pihak akan bergantian memukul dan dipukul. Pihak yang memukul (paki) diperbolehkan bergaya dan bernyanyi (embong larik) untuk membuat lawannya terlena lalu menyabetkan cemeti (larik) kulit kerbau ke badan lawan (hanya bagian perut ke atas). Sedangkan yang menerima pukulan menggunakan nggiling (perisai dari kulit kerbau) dan agang (bambu berlilit rotan) untuk menangkis pukulan. Si pemukul berupaya untuk melukai wajah lawan yang tertutup destar. Ada semacam kepercayaan bahwa jika berhasil melakukannya, merupakan bukti akan kehebatan sang penari. Atau sebenarnya, itu akibat si ulah penari (posisi yang dipukul) melanggar aturan “dilarang untuk disentuh”.

Semua perlengkapan (kecuali kostum dan aksesori), disiapkan oleh ata one atau penyelenggara upacara. Setiap tarian Caci diiringi oleh bunyi gong dan gendang serta nyanyian para pendukung pria maupun wanita sebagai penyemangat. Para penari memiliki kebanggaan tersendiri ketika sudah mengenakan kostum dan aksesorinya kemudian bertarung di lapangan. Segala pesona kelaki-lakiannya akan dikerahkan saat itu juga. Tidak heran jika seorang penari bisa memiliki lebih dari satu wanita sebagai pasangan hidup. Bagi orang Manggarai, lelaki yang menari Caci adalah lelaki sejati. Duh, jadi pengin nyanyi lagu Ibu Kita Kartini, putri sejati kan buat tandingan lelaki sejati #eh.

Banyak fungsi yang dihadirkan dari tarian Caci bagi kelangsungan hidup masyarakat Manggarai, yaitu sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan dan para leluhur, juga media pendidikan. Selain misi pribadi para penarinya, tentu saja, yang sangat ingin menaklukkan diri sendiri sekaligus memamerkan ketangkasan dan kemampuan menari (lomes) di arena saat menanti giliran bertarung. Pun kemampuan bernyanyi dan menari sembari mengungkapkan keberanian dan kegagahan di hadapan ratusan penonton dalam peribahasa Manggarai (paci) ketika berhasil melakukan serangan, yang mampu membuat seorang wanita sangat sulit berpaling. Ole tah Nana! Hahahaha … aku bisa apa?!

Jadi, bagaimana? Masih niat ngajak nikah lelaki Manggarai yang menari Caci?

Atau begini saja, kapan kamu ke Manggarai supaya kita nonton caci eim?

Maria Pankratia

Tinggal di Ruteng. Program Koordinator di Yayasan Klub Buku Petra. Suka jalan kaki, sedang berusaha menjadi pembaca yang baik dan berbakti pada deadline. Facebook: Maria Pankratia | IG: maria_pankratia | Twitter: @Dasvitkona
Maria Pankratia

Comments

  1. Chris Reply

    Keren kali kak tulisannya, jadi pengen ke Manggarai kak’s supaya bisa nonton caci bareng kakak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.