Tasik dalam Cangkirku; Sebuah Sajak Panjang Nazarudin Azhar

 

Tasik dalam Cangkirku

1

tasik yang semalam dirajam hujan

diam-diam menyesap sebaris ingatan

kalimat murung pemilik seribu gunung

di gurun para penggali pasir

bukit-bukit mengalun

ke ketiadaan abadi

mengucapkan selamat tinggal

pada para arwah di genangan sunyi

berabad upacara, rajah, dan doa

asap kemenyan menenangkan daun luruh

direngkuh akar-akar cahaya, kemuliaan mangsa

batu-batu merapuh

nyanyian jiwa-jiwa mati

gemuruh di derap mesin

merapal doa-doa penghancuran

banyak riwayat tak tercatat

pada perayaan kemusnahan puisi

saat kabut terus memekat

di kubur para penghayat ilusi

para peziarah membawa pulang nisan

bertuliskan nama-nama mereka

berarak ke arah kota

di mana wajah para pemimpin

terserak di remuk cermin

 

2

para petaruh datang telanjang

satu tubuh beribu bayang

dari daratan jauh

lidah mereka memanjang

melumat meja prasmanan

bukit-bukit asam manis

sawah-sawah bertabur kismis

angin menggiring ke mulut mereka

sepi yang sebenar-benarnya permata

batu-batu berderak ke dalam gerigi

pasir melikat menyusun tepi-tepi

akar-akar menjulur menuju niskala

di atas kubur-kubur

tetabuhan menggema

di petilasan para pitarah

taring berkarat jadi hiasan

bulan dalam kardus

lingkar emas kecemasan

diarak para pemilik kehilangan

lalu terberai dari tali ikatan

 

3

arak-arakan menikung

menuju gemerlap gelap

udara disesaki panji-panji

kemeriahan sunyi

orang-orang bertubuh setengah bayang

berjubah kulit genderang

dan cuaca buruk, juga binatang-binatang

bertanduk, membebaskan diri dari

lorong-lorong, seribu pekik

dibisikkan oleh mulut-mulut

pengunyah kehampaan

di gigil api wajah-wajah itu terbakar

menampakkan raut ramah kekosongan

melolong di atas puing-puing menara

purnama memercikkan darah

di tembok-tembok kota

tertanam berjuta mikrofon

mendesiskan berahi dan kemarahan

serakan mata saling bertaut geram

di jalan-jalan

 

4

di ruas Jalan Haji Zaenal Mustofa

sunyi nyalang di kelam suara

ketika puing mimbar diarak ke jalan-jalan

dimabuk iman dalam kemasan

pot bunga pecah, tiang lampu rubuh

duri-duri tumbuh di kulit aspal

serbuk kaca tumpah, setumpuk koran

di pembakaran, abu mengental di riak malam

tak ada pelajaran sejarah

dari peristiwa silam

toko-toko yang pernah hangus

oleh sebuah kerusuhan

adalah ruang kelas tempat setiap pelajaran

terpahat pada keping-keping recehan

 

5

di gerbang sebuah plaza

senja yang kian banal

menjelma jadi ribuan lampion

di bawahnya langkah-langkah berpacu

orang-orang membelah diri

untuk banyak hari yang tak sempat

termiliki. harga paling suram

dibubuhi nol sepanjang tangan

ruas kaki, dan tulang punggung

sedang kepala mereka dibiarkan menggantung

seperti lampion di lengkung suwung

tempat ke mana mereka akan kembali

ke satu detik yang tak pernah terpahami

 

6

mereka membangun taman

untuk seorang perempuan yang kelak

datang selepas tengah malam

di taman itu, syahwat tak lagi

terkait dengan naluri

keintiman bersabung pada tawa curian

atau dengus lapar dalam jalinan lain

di redup lampu ia sekadar bayangan

didekap hantu-hantu kesedihan

ia mengenal setiap rahasia

pada jasad yang tak dimilikinya

yang hanya dikenali di kedalaman cermin

saat azan melaung di awal pagi

ia reguk segala nyeri

pada segelas kopi murahan

memurnikan setubuh kepatuhan

 

7

betapa seru adu kemiri

di senda tawa para bangsawan

liuk sendu para penari

tuak tersaji dalam cawan

nira dalam peraman

kidung petani di pucuk kawung

lambat alun irama gamelan

rebung jiwa menjaul ke awang-uwung

di luar segala pesta

tuak memercik petak-petak huma

mencelup suwung ujung mantra

sukma yang fajar panen cahaya

di tanah Sukapura, dulu dan kini

lain cerita si tuak bestari

tak pernah ada sukacita yang berkawan

dengan raung mobil patroli

 

8

tasik dalam cangkirku

anak-anak berenang dalam lagu

telanjang di rindang petang

sayap yang terentang

antara dangau dan ladang

surau dan pematang

kepak malaikat yang jenaka

mengusap nakal rambut tembaga

pada saf yang tak pernah rapi

anak-anak sungai menggambar

surganya sendiri, sebuah lautan

dengan gemuruh doa dan nadoman

ya Mustafa, ya kekasihku!

masjid jami tanpa kubah

begitu sederhana bagai rumah

seribu hikayat beriak

dalam cangkirku

 

9

wangi bunga-bunga kopi

dalam lukisan akuarel

gemertak roda-roda lori

menyusuri rel yang kini tak ada lagi

anak-anak yang berlari mengejar

kembali ke usia yang sudah memar

hari-hari menua, geletar cambuk

di angkasa; tawa yang letih

di serbuk nyawa

bulir-bulir memerah

keringat merekah

di tirus wajah para petani

keindahan memutih

menjelma buih

menggulung seluruh curah hujan

udara sekering butir garam

dendang dan zikir

bersenyawa dalam cangkir

maut dan hidup terus menyala

di tiap tegukan terakhir

kepada mereka

riak tasikku mengalir

 

10

selamat ulang tahun, kotaku!

gerimis binal tersenyum

di tengah karnaval sunyi

sepanjang pandemi

seperti pelitur murah

pelabur singgasana sejarah

kemeriahan pidato berkisah

tentang julang pembangunan

di bawah kuasa korona virus

yang menghabiskan anggaran

selamat ulang tahun

kota yang bergaun spanduk diskon

dan papan iklan

tak ada kesenian hari ini

selembar poster buatan mahasiswa

terkulai di Jalan RE Martadinata

di dalam angkot sopir tua menggerutu

melepas masker dan mengisap

rokok terakhir

juga tak ada puisi

dari balik jeruji

yang puitis hanyalah grafik status

sepanjang pandemi

2019-2020

Nunu Nazarudin Azhar
Latest posts by Nunu Nazarudin Azhar (see all)

Comments

  1. novi Reply

    tasik dalam kenangan: balong, adu muncang, citapen, alun-alun, botram, pupujian

    sae pisan puisina!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!