Teater Sebagai Laboratorium Kehidupan

Setiap orang berproses dalam hidup. Singgah di satu tempat, belajar, mendapatkan hal baik dan buruk, menyaringnya, lalu memutuskan: apa yang akan diolah dalam kehidupan. Berproses bisa di mana saja, kapan saja, dalam cara apa saja. Dari proses itulah seseorang akan bisa menentukan arah hidup selanjutnya. Menjadi manusia.

Ikut berproses dalam satu kelompok teater bukan perkara mudah. Kita tahu, berteater tak pernah bisa main-main. Keseluruhan prosesnya benar-benar menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Seorang aktor, misalnya, ia tak hanya dituntut menguasai panggung tapi juga paham bagaimana berinteraksi dengan penonton dan harus sadar ruang.

Kelompok teater tersebar di seluruh Indonesia. Dari TK hingga SMA, dari kelompok teater mahasiswa hingga masyarakat biasa, semua tersedia. Ada keunikan tersendiri saat menjalani proses dalam sebuah kelompok teater. Mulai dari pola perekrutan hingga metode latihan yang berbeda.

Ciputat punya Teater Syahid. Kelompok teater dalam kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini telah melahirkan Laboratorium Teater Ciputat, wadah bagi para anggotanya yang sudah lulus kuliah dan mengabdikan hidupnya untuk berteater.

Tepat pada bulan Oktober 2019, Teater Syahid berulang tahun yang ke-31. Tiga dasawarsa tentu bukan waktu yang sebentar. Semenjak berdirinya hingga kini, Teater Syahid telah melahirkan banyak teaterawan dari pelbagai generasi. Kali ini, ulang tahun dirayakan dengan rangkaian acara penuh makna.

Pertunjukan teater berjudul “Kamu dan Perasaan-perasaanku yang Aduh” (KDPYA) yang sebelumnya dipentaskan dengan judul “Nya” (2018) kembali dipentaskan tiga malam berturut-turut, pada 17 sampai dengan 19 Oktober 2019, pukul 20.00–22.00 WIB di Aula Madya Lantai 2 UIN Jakarta. Selain pementasan, ada pula “Talk Show Alumni” dan “Pentas Jejak Masa” yang membawakan naskah “Karakoush” karya Vredi Kastam Marta, disutradarai oleh Sir Ilham Jambak.

Pertunjukan KDPYA yang disutradarai Said Riyadi Abdi ini menampilkan respons individu atas realitas di atas panggung. Perasaan paling dalam, luka paling menganga, atau sekadar pandangan hidup yang menganggap bahwa kehidupan hanyalah sekadar canda-tawa.

Eksplorasi naskah dan olah tubuh terasa kuat, disusul bunyi-bunyian yang terdengar misterius sekaligus sentimental, berhasil membuat penonton tersentil: menyadarkan mereka bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Perbedaan perspektif yang digunakan sangat berpengaruh. Dua pementasan yang bersumber dari satu naskah menjadi sama sekali berbeda.

Selain pementasan tiga malam berturut-turut, pada 18 Oktober 2019 pukul 14.00 WIB diselenggarakan pula diskusi bertajuk “Talk Show Alumni” menghadirkan para senior Teater Syahid dari pelbagai macam profesi. Tema yang dihadirkan, “Teater Bagi Saya”, mengarahkan diskusi pada pembahasan mengenai pengaruh proses kreatif di Teater Syahid pada kehidupan setiap anggotanya.

Proses kreatif yang dijalani tentu berbeda-beda. Ada yang singgah sebentar tapi mendapat banyak hal, ada pula yang bermukim lama tapi tidak mendapatkan apa-apa. Kemungkinan selalu terbuka lebar. Tak pernah ada proses yang sia-sia, sedikit ataupun besar, jelek ataupun baik pengaruhnya.

Salah satu anggota Teater Syahid, Ahsan Jamet Hamidi yang kini menjadi aktivis bercerita bahwa berkat proses yang dijalaninya selama bertahun-tahun itulah ia jadi selalu totalitas dalam mengerjakan sesuatu, apa pun itu. “Sebab saat latihan di Syahid, kita dituntut untuk serius dan total. Saya jalani, konsisten serius dan total hingga sekarang,” jelasnya.

Diskusi dihadiri berbagai macam komunitas di lingkungan UIN Jakarta dan kelompok-kelompok teater se-Jabodetabek. Diskusi dilaksanakan terbuka, siapa pun boleh datang dan turut mendengar apa yang disampaikan. Teater Syahid adalah milik bersama, siapa pun boleh singgah untuk berbagi pikiran atau sekadar numpang minum kopi dan rebahan. Sebab, teater lahir dari lingkungan tempatnya berada dan dipersembahkan pula untuk lingkungannya.

Berbeda dengan Jamet, Moammar Emka yang kini menjadi penulis dan punya penerbitan buku, mengaku mendapatkan manfaat yang lebih besar. Ia berkisah, “Saat berproses di Teater Syahid, saya terbiasa berimajinasi sebebas-bebasnya. Seusai berproses, ada banyak sekali imajinasi menjadi kenyataan. Lantas, saya tidak kaget. Sudah terbiasa. Berteater sangat mengasah daya imajinasi, modal untuk menulis.”

Selain totalitas dan daya imajinasi, para alumni juga mengaku mendapatkan manfaat lainnya. Sebagai misal, penguasaan atas artikulasi dan teknik muncul. Keduanya diperlukan saat berhadapan dengan banyak orang, entah berprofesi sebagai guru, pengacara, dosen, jurnalis, atau apa pun. Pengendalian atas diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan.

Rangkaian acara ditutup dengan pementasan “Karakoush” yang melibatkan para anggota dari berbagai angkatan, dari angkatan awal hingga angkatan paling akhir. Naskah ini dibawakan dengan musik dan dialog yang jenaka, menampilkan lagu-lagu asyik, karib di telinga masyarakat. Dialog-dialog pun disesuaikan dengan situasi dan kondisi masa kini. Lagi dan lagi, improvisasi dilakukan sebagai bentuk respons seorang manusia atas lingkungannya. “Karakoush” adalah gambaran gamblang tentang apa yang harus kita hadapi selama ini, tapi dihidangkan dengan gaya yang elegan, jenaka, sekaligus satire.

Pementasan dilaksanakan di halaman depan sanggar Teater Syahid. Tempat yang melulu berubah bentuk. Tanahnya ditutupi, pepohonannya ditebangi, bahkan helm-helm di atas motor yang terparkir pun hilang dicuri. Tempat itu diberi nama Taman Kreatif. Taman yang menyaksikan banyak sekali peristiwa latihan teater, sebuah usaha memaknai kehidupan. Tempat latihan, juga tempat munculnya perdebatan dan persaudaraan.

Perayaan 31 tahun ini barangkali ingin mengingatkan kembali pada para anggota Teater Syahid untuk terus menjadi, meneruskan konsistensi sama seperti saat menjalani latihan saat garapan. Manusia tak pernah berhenti berproses dalam hidupnya. Sampai mati, ia akan terus menjadi.

Teater, laiknya sebuah rumah, adalah tempat siapa pun yang pernah berproses di dalamnya bisa pulang dan bercengkerama. Kelompok teater serupa laboratorium yang dengan sangat canggih berhasil menciptakan seniman di bidang teater.

Teater Syahid menolak lupa, kembali mengumpulkan para anggotanya untuk menengok kembali rumah yang telah dibangun bersama. Mungkin juga mempertanyakan, apa yang telah dilakukan selama tiga dasawarsa? Apa yang mesti dibenahi dan apa yang harus diperkuat lagi?

Rangkaian acara ditutup dengan perayaan ulang tahun Teater Syahid yang ke-31. Kue ulang tahun dihadirkan. Para anggota berdoa tentang kebaikan-kebaikan. Api lilin-lilin kecil menyala, meyakinkan bahwa hidup bisa dipahat dengan cara apa saja, termasuk kebaikan dan keburukan atau kejahatan, juga proses kreatif di sebuah kelompok teater, di mana pun itu.

Ayu Alfiah Jonas

Penulis Buku Sebuah Kencan yang Baik (2017)
Ayu Alfiah Jonas

Latest posts by Ayu Alfiah Jonas (see all)

Comments

  1. Ery Reply

    Ini adalah hasil dari proses pembelajaran berlangsung selama aku masih belum bisa kepastian

Leave a Reply

Your email address will not be published.