Teman Kita yang Paling Kaya dan Kesepian

Entah mengapa, di mataku, peran bendahara adalah peran yang sangat mulia. Mungkin karena aku sangat merasa tidak sanggup menghitung uang, jangankan uang lembaga, uang sendiri pun aku tak bisa kelola dengan baik. Maka mereka yang menjadi bendahara selalu kuhormati, termasuk teman kita yang sejak awal kerja langsung menjadi bendahara di salah satu lembaga tingkat provinsi.

Dia anak yatim sejak kecil, hidup dengan ibunya saja. Bukan karena ayahnya meninggal, melainkan kawin lagi. Ditinggal kawin dan ditinggal mati tentu sama-sama membuat sedih. Bedanya sedih ditinggal kawin tentu sedih yang mengandung rasa sakit hati, marah, serta kecewa. Dan di masa remaja, ia pun punya dua adik tiri dari ayah tirinya, dan ia sayang kepada adiknya itu. Ayah tirinya seorang guru di sekolah dasar di belakang rumah mereka, sama dengan kakeknya—pensiunan guru plus kepala sekolah pula—di SD yang sama. Tapi ayah tirinya lebih banyak menyibukkan diri dengan urusan toko grosirnya dan dengan demikian menomorduakan urusan mengajar. Tentu hal itu masuk akal jika melihat tokonya yang strategis dan menjadi tempat bergantung puluhan pelanggan yang menjanjikan perputaran modal dan lebih menghasilkan daripada gajinya sebagai guru. Lebih dari itu, hidup mereka juga sangat sederhana dan demikian semestinya keluarga para pedagang aku kira, sehingga berkali aku mampir ke rumahnya—di saat ia masih bujangan—dia dan keluarganya hanya memakan lalapan dan sambal. Padahal mereka juga punya satu showroom kecil mobil-mobil bekas dan motor-motor bekas yang ternyata diminati sejumlah pembeli kelas menengah di wilayah kecamatannya. Artinya, mereka sebenarnya bisa makan ayam bekakak setiap hari jika mereka bukan keluarga pedagang. Tidak hanya itu, aku kerap dibuat kagum dengan kekayaan keluarga mereka jika diajaknya aku ke kebun-kebun mereka, sawah-sawah mereka, dan juga kolam-kolam ikan mereka. Satu-satunya yang menunjukkan teman kita itu orang kaya adalah merek sepatu, tas, dompet, celana dan pakaiannya, dan beberapa mobilnya—baik itu mobil dia sendiri maupun mobil keluarga. Kita tidak mungkin bersaing dengan dia dalam soal penampilan dan kendaraan. Jangan lupa bahwa dialah yang saat kuliah dulu berganti-ganti motor dan tak ada motornya yang jelek.

Ketika dia menikahi teman satu angkatannya yang juga yatim sejak kecil —ditinggal mati ayahnya—kita tahu mereka berjodoh karena pengalaman derita masa kecil yang sama. Di luar itu rupanya calon istrinya itu punya gaya hidup yang sama pula, terutama dalam keglamoran pakaiannya. Ayah tiri calon istrinya adalah salah satu pejabat penting di provinsi. Jika keduanya kita temukan sedang berjalan di kampus kita dulu, mereka seakan sepasang anak sultan dan siapa pun akan dibuat canggung kepada pasangan ini karena penampilan keduanya yang serba mewah. Di dalam berbagai perhelatan mahasiswa, mereka berdua seakan bintang tamu yang kita datangkan dari ibu kota. Tapi, ya, kemudian takdir berkata lain. Mereka hanya menikah lima tahunan lalu bercerai. Hal ini membuat kita sering bersedih dan tak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya selain membukakan pintu rumah kita di larut malam sekalipun jika dia mau datang untuk curhat atau sekadar baring-baring di sofa rumah-rumah kita.

Dalam setahun terakhir di masa dudanya itu, teman kita yang parasnya paling tampan ini masih juga mengurus karier lamanya sebagai bendahara yang tak tergantikan plus sebagai pimpinan baru salah satu badan di provinsi. Kita jangan ragukan otaknya yang cemerlang dan kinerjanya yang memang penuh dedikasi meskipun ia masih sangat muda. Kita juga jangan sering berburuk sangka bahwa semua posisi bisa dia dapatkan karena salah satu pamannya yang pejabat tinggi di provinsi dan bekas mertuanya dulu yang termasuk orang berpengaruh.

Kalau dia datang ke rumah-rumah kita saat larut malam, kadang di mobil mewahnya dia membawa serta beberapa ekor kucing rasnya dan beberapa teman kita akhirnya mendapat tanggung jawab memelihara beberapa kucingnya. Melihat salah satu kucingnya yang diberikan ke salah satu teman kita, aku sangat ingin menangis, karena kucing itu sangat sengsara wajahnya; diberikan saat sakit dan setelah sembuh masih saja terlihat sengsara, sehingga aku berteori suatu hari bahwa setiap kucing merekam kesengsaraan majikan pertamanya. Yang aku tahu dia tak pernah menyukai kucing, tapi mungkin sejak ia menjadi duda, dia butuh hiburan di rumahnya yang besar dan sepi itu.

Suatu hari aku berkunjung ke rumah teman kita yang lainnya dan mendapatkan kabar tentang dia juga. Dia ternyata sering bepergian ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk berguru pada beberapa kiai, ulama, bahkan juga habib, sehingga kerap datang dengan penampilan aneh: berikat kepala, bergamis, dan kini memelihara janggutnya hingga panjang. Kalau ia salat, ia akan melepas semua pakaiannya dan berdandan dengan pakaian yang dibawanya dari Jawa Tengah atau Jawa Timur. Lalu aku katakan kepada teman kita yang satu itu jika dia datang lagi tolong sarankan agar dia menikah lagi saja daripada sibuk keluyuran ke sana kemari, apalagi berguru ke orang-orang yang mungkin belum tentu saleh beneran. “Katakan kepada dia bahwa yang wajib dalam salat adalah menutup aurat saja, sedangkan menikah lebih wajib dari memelihara janggut hingga panjang sekali atau mengenakan gamis saat salat!”

Dan menurut analisis umumnya kalian, perceraian dia dengan istrinya itu tersebab dia masih saja kecentilan, banyak berhubungan dengan sejumlah staf muda perawan, sekretaris yang masih gadis-gadis, dan orang-orang bank, serta petugas hotel yang berdandan menawan, sehingga istrinya tidak kuat dan meminta cerai. Dengan kata lain perceraian mereka karena alasan kecemburuan. Tapi kadang aku berpikir lain, seorang yang dari kecil ditinggal ayahnya yang menikah lagi rasanya menyimpan trauma yang tak pernah hilang dan trauma ini akan menjelma rasa takut ditinggal siapa pun. Karenanya aku tidak pernah percaya bahwa dia kecentilan sebab ia akan takut kehilangan istrinya sebagaimana dia dulu sering takut kehilangan ibunya karena ibunya menikah lagi saat ia remaja. Bahwa ia punya banyak relasi perempuan cantik, itu suatu soal wajar karena dia seorang bendahara utama dan pimpinan sebuah badan juga yang berurusan dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta, sehingga kecemburuan itu mungkin bukan berdasarkan fakta adanya perselingkuhan, tapi karena tafsir istrinya saja yang berlebihan pada beragam aktivitasnya yang selalu berkaitan dengan sejumlah perempuan. Kecemburuan yang berlebihan dapat mengubah tafsir menjadi seakan bukti, fiksi menjadi seakan fakta, imaji menjadi seakan kenyataan empirik. Tapi umumnya kalian tidak percaya pikiranku, kalian selalu saja berpikir bahwa dia sendirilah yang nakal. Mungkin karena kalian cemburu pada berbagai pencapaiannya yang tidak masuk akal itu. Sekali lagi, jangan kalian berburuk sangka pada berbagai pencapaian kariernya. Dia adalah anak muda yang penuh dedikasi dan bukan karena salah satu pamannya dan bekas mertuanya yang berpengaruh di provinsi. Pada awal sekali dia bekerja sebagai bendahara, dia memang sudah menjadi anak muda paling kaya: mobil mewah punya dua, mobil operasional punya dua pula, rumahnya dibangun dua lantai di kawasan elite, perangkat komunikasinya paling mahal, rokok dan pemantik apinya paling mahal, dan semua itu terus bertambah seiring dengan bertambahnya tahun; dan baru-baru ini —sebelum wabah Covid-19— dia sempat membuka kantor urusan umrah pula dan sempat memberangkatkan dua kelompok umrah plus, lalu membeli tanah sawah dan kebun di mana-mana, bercukur di salon-salon ternama, berfoto di kafe-kafe mewah yang bukan di provinsi kita, terbang ke sana kemari dengan pesawat, menunjukkan foto-foto statusnya di hotel-hotel ternama, berfoto bersama beberapa artis ibu kota, dekat dengan elit-elit politik, bolak-balik ke Singapura, berfoto bersama beberapa ulama, dan lebih dari itu ia sering pula menampilkan video dirinya tengah bernyanyi dengan baik. Segala pencapaiannya memang tak pernah bisa kita ikuti sehingga wajar jika sebagian dari kita menaruh cemburu kepadanya seakan-akan kita adalah istrinya juga. Jangan kita bercerai dari dia karena cemburu. Kadang-kadang kita perlu dana juga untuk kopi kumpul-kumpul kita. Biarlah dia begitu kaya dan kesepian belakangan ini sepanjang kita masih bisa menghibur dia dengan cara kita masing-masing. []

Arip Senjaya
Latest posts by Arip Senjaya (see all)

Comments

  1. Nadya Tifa Reply

    meskipun seseorang itu dia kaya raya dan dapat mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi dia pasti akan pernah merasakan kesepian pada dirinya. kesepian dalam segala bentuk.

  2. M Z Reply

    Ternyata teman kita ada yang seperti itu.

  3. Desmita Reply

    Bagaimana caranya supaya bisa terbitin tulisan disini? Sering baca cerpen dan puisi disini jadi pengen coba ngirim juga siapa tau bisa terbit juga😥

    • M Z Reply

      Ada di beranda website.
      Coba aja ngirim, mungkin bisa diulas nanti. Seru juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published.