Terkutuk dan Terpuji

Kita mengingat April itu tikus dan kota, bukan cuma hari coblosan kolosal di Indonesia. Di National Geographic-Indonesia edisi April 2019, kita membaca esai-esai bertema kota. Batavia jadi tulisan diampuhkan untuk mengenang 400 tahun tempat bersejarah di Nusantara. Pakar Batavia asal Indonesia, Belanda, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat sudah sering menulis artikel dan buku. Kita membaca merasa ada pengulangan dan hampir jenuh. Kita merindukan kota-kota berbeda di Nusantara untuk diceritakan secara memukau digenapi gambar dan foto.

Kita membaca saja artikel berjudul “Di Bayang-Bayang Kota” oleh Emma Maris. Kita sudah terkejut di kalimat awal: “Di mana ada manusia, di situ ada tikus, yang hidup makmur di tengah sampah.” Kota-kota di Indonesia pusing memikirkan sampah. Hari demi hari, jumlah sampah bertambah. Eh, tempat untuk menampung atau mengolah sampah masih mustahil memadai. Hidup di kota memang bersampah dengan hitungan ton, menit demi menit.

Di pelbagai negeri, tikus itu musuh terbesar di perang selama ribuan tahun. Tikus harus musnah. Pelbagai rumus, mantra, obat, dan teknologi dihasilkan manusia tapi tikus merajalela. Bumi menjadi ruang perburuan mereka bersantap pelbagai makanan. Pemberi makanan sering manusia. Perang manusia melawan tikus adalah perang terpanjang, mengalahkan durasi film Avengers: Endgame keluaran Marvel Studios.

Kita simak alinea di National Geographic-Indonesia: “South Georgia yang seluas 3.900 kilometer persegi, di dekat Antartika, adalah pemegang rekor saat ini. Pada bulan Mei 2018, pulau itu dinyatakan bebas tikus setelah helikopter menjatuhkan 300 ton racun selama lima tahun di lanskapnya yang tandus, dengan biaya Rp 80 miliar.” Kita menantikan perang sangar itu berlangsung di kota-kota di Indonesia? Fantastis! Ratusan ton racun memusnahkan tikus-tikus mungkin berjumlah jutaan. Duit puluhan miliar ikhlas digunakan demi pulau tanpa tikus. Kaum pembenci tikus bertepuk tangan dan bersorak. Dendam mereka terlunaskan. Oh, tikus melulu musuh besar dan sasaran kebencian absolut? Manusia sering melampaui batas: mencipta permusuhan abadi tanpa ada permakluman. Kita belum dolan ke Rajahsthan, India. Di sana, tikus hidup damai bersama manusia. Tikus malah disuguhi makanan dan susu.

Indonesia sulit mengadakan sensus tikus. Jumlah penduduk gampang diketahui tapi jumlah tikus tak tercatat. Tikus di sembarang tempat. Kota dan desa tak beda. Di situ, tikus berkeliaran, makan, bercumbu, membikin onar, dan beranak pinak. Kita diajari leluhur dalam mengusir dan membunuh tikus. Eh, tikus tetap masih ada. Kita belum rampung memberi kutukan pada tikus-tikus. Kita belum memiliki jurus paling mematikan. Abad XXI memberi kepastian bahwa kita “bodoh” dan “kalah” dalam perang melawan tikus di seantero Indonesia.

Kita mengingat sekian cara menangkap dan membunuh tikus. Kita membuka majalah Editor edisi 8 April 1989. Di sampul belakang, gambar tikus berukuran besar. Tikus itu berkumis. Satu kata pilihan jutaan orang ditaruh di atas: “Basmi”. Kaum pembasmi tikus diminta berjanji menunaikan misi besar dengan membeli Lem Tikus produksi PT Indira (Jakarta). Lem tikus itu aman dan bersih. Keunggulan seperti penjelasan produsen: “tak beracun”, “tanpa bau”, “tidak berbahaya bagi anak-anak dan binatang peliharaan.” Lem digunakan dalam pembasmian tikus. Kita tak sedang membuat kerajinan atau mengerjakan tugas dari guru. Lem itu berbeda dari lem untuk kertas dan kain. Lem jangan dimakan bikin sakit. Lem tikus dimakan mengartikan si pemakan mengidap keteledoran dan kebodohan akut. Dulu, lem itu dibeli ribuan orang merawat benci banget pada tikus-tikus di rumah, kantor, toko, dan sekolah.

Pada 1990-an, ikhtiar besar membasmi tikus di Indonesia dilakukan dengan cara teknologis. Pembasmi tikus didatangkan dari Amerika Serikat. Orang-orang mengakui Amerika Serikat adalah negara kebablasan mencipta tokoh-tokoh hero di komik dan film. Nah, negara itu menghasilkan benda ajaib agar jadi hero di perang melawan tikus. Berkiblat ke Amerika Serikat, orang-orang ingin melihat tikus-tikus mati bergelimpangan atau lari ketakutan menanggung frustrasi berkepanjangan.

Tikus-tikus tampak takut pada benda made in Amerika Serikat. “Tikus tidak pergi, uang Anda kembali,” janji dari produsen. Iklan itu dimuat di majalah Tempo, 2 Oktober 1993. Konsumen diajak membuktikan dengan membeli benda sakti bernama Pest A Cator (PAC). Petunjuk kesaktian: “Alat canggih pengusir tikus dengan sistem medan magnet, telah terbukti ampuh mengusir tikus. PAC aman dan tidak mempunyai efek terhadap manusia, komputer, alat-alat elektronik, dan hewan peliharaan.” Benda itu diharuskan dipasang pada stop kontak 220 volt. Rumah belum berlistrik jangan harap melakukan pertempuran melawan tikus.

* * *

Kita membenci tikus tapi menginginkan tikus memberi kelucuan dan keharuan saat dijadikan tokoh dalam buku cerita dan film. Siapa ingat tikus menggemaskan suka memasak? Bocah-bocah mengenali tikus itu dengan membaca buku berjudul Ratatouille (2007) susunan Victoria Saxon dengan ilustrasi oleh Scott Tilley dan Jean-Paul Orpinas. Tikus bernama Remy memiliki keunggulan di indra pencium. Ia suka mencicipi pelbagai masakan. Di Paris, tikus itu bermimpi jadi koki.

Eh, bapak malah menugasi Remy melakukan pemilahan makanan masih enak disantap dan racun di tumpukan sampah. Pekerjaan kurang bergengsi. Ia malas menjalani rutinitas tak sesuai keinginan menjadi koki. Pada suatu hari, manusia melakukan penggerebekan dan pembasmian, para tikus melarikan diri. Mereka tak mau dimatikan manusia. Pelarian Remy sampai ke restoran terkenal di Paris. Ia terpisah dari keluarga. Di situ, ia mengingat koki pujaan bernama Auguste Gusteau.

Di restoran, ia beruntung. Kita mengutip di buku: “Tapi Remy bahagia. Dia memang merindukan keluarganya, tapi dia telah menemukan tempat yang paling cocok baginya. Bersama Linguini, Remy memasak makanan enak, meskipun tetap harus bersembunyi. Koki-koki manusia tidak ingin ada tikus dalam dapur mereka.” Tikus berselera tinggi. Tikus memasak, bukan cuma mencari makanan-makanan sisa di tong atau tumpukan sampah. Cerita itu dikenang di buku tapi mengharukan saat ditonton jutaan bocah di film dengan gambar, warna, dan musik apik. Oh, itu tikus Eropa, bukan tikus di Indonesia.

Heroisme tikus ada di Tibet. Di negeri jauh, tikus terpuji atau terhormat. Kita mengingat tikus di Tibet dengan membaca buku berjudul Balas Budi Seekor Tikus (2003) diceritakan ulang oleh Lindung Ratwiawan. Pada suatu hari kaum tikus berduka dan takut kelaparan. Beras mulai sulit ditemukan. Kaum tikus pun rapat akbar. Dikirimlah utusan menemui raja untuk minta bantuan. Di hadapan raja, si tikus itu berani minta berutang 100 karung beras. Kaum tikus belum ingin mati. Raja memenuhi permintaan utusan kaum tikus. Utang itu ingin dilunasi sebulan kemudian. Kaum tikus berhasil memenuhi janji. Raja memberi pujian.

Eh, kerajaan sedang diserang musuh. Di perbatasan, kaum musuh sudah bersiap menghancurkan kerajaan dengan kekuatan besar. Raja bingung dan meramalkan kerajaan bakal kalah. Penasihat mengusulkan agar raja meminta bantuan kaum tikus. Nah, kaum tikus bersedia membantu dengan ikhlas. Mereka meminta prajurit membuat potongan-potongan bambu sejumlah ribuan di sungai perbatasan kerajaan. Pasukan tikus bergerak malam hari. Tikus menumpangi potongan bambu menuju perkemahan musuh. Di sana, tikus-tikus berbarengan mengangkut senjata-senjata musuh. Sekian tikus memiliki tugas berat: memakan habis semua makanan di perkemahan musuh.

Keesokan hari, pasukan musuh kebingungan kehilangan senjata. Mereka pun kehabisan makanan. Pasukan itu memilih mundur ketimbang kalah di pertempuran. Perang tanpa senjata dan perut seribu prajurit kelaparan tentu sulit meraih menang. Mereka malu dikalahkan kaum tikus. Siasat mengalahkan tanpa pengorbanan berlebihan dan korban bergelimpangan. Kaum tikus menghadap raja. Mereka mendapat pujian. Raja pun berjanji bakal memunhi segala permintaan kaum tikus. Permintaa tak muluk: “Kami cuma ingin damai. Kami minta dilindungi dari kejaran kucing-kucing pemangsa tikus. Kami ingin hidup tenang.” Di situ, para tikus terpuji dan emoh oportunis.

Bocah-bocah di Indonesia ingin ada tikus sebagai tokoh lucu meski sulit mendapat tikus terpuji. Para pengarang di Indonesia sering memusuhi dan memberi sifat-sifat jelek ke tikus. Selama puluhan tahun, bocah-bocah jarang mendapatkan tikus “pujaan” di gubahan cerita atau film. Di lagu-lagu, tikus tetap saja buruk. Para seniman terbatas imajinasi, menaruh ketokohan tikus cuma di korupsi. Duh, pengisahan tikus di Indonesia ketinggalan jauh dari negara-negara maju.

Maria Amin menulis buku berjudul Tikus Berpantun (1976). Buku diterbitkan Balai Pustaka dengan sederhana. Gambar-gambar kurang menarik. Buku itu beruntung, mengalami cetak ulang, sejak 1976 sampai 2008: lima kali. Kita membaca pengisahan tikus, Lina, dan kucing. Lina mau berulang tahun. Dibelilah kue untuk dibagikan ke teman-teman! Kue ditaruh di meja tanpa penutup dan penjaga. Peristiwa buruk terjadi: Kue yang enak dan gurih itu,/ tercium juga oleh tikus jantan./ Diam-diam ia pergi ke situ,/ memanjat ke meja perlahan-lahan.// Tak tahan melihat kuenya,/ air ludahnya menetes-netes./ Alangkah enak dan gurih rasanya,/ pasti kue kumakan habis.// Mulailah kue dimakan tikus./ tak lama kue pun berlubang./ Rupanya ia sangat rakus,/ kadang-kadang ia tercengang. Tikus itu memilih berdiam di kue. Ia merasa senang dan ingin menghabiskan kue. Takut bukan milik tikus gara-gara tempat itu kelam alias malam belum selesai. Ia berpikiran si pemilik tidur. Menit demi menit berlalu, tikus itu masih mendekam di kue menuruti rakus.

Hari telah terang. Lina menengok kue, tak sabar ingin lekas mengundang teman-teman dan makan bersama. Di meja, Lina melihat kue tak lagi utuh: Lalu dilihatnya ekor yang panjang,/ keluar dari kue itu juga./ Heran ia tercengang-cengang./ “Ini pasti tikus di dalamnya.” Lina berpikir keras mau membalas dendam ulah jahat si tikus. Ia penakut tapi tak terima jika kue dihabiskan tikus.

Akal bergerak cepat. Tindakan Lina cukup kejam: Lalu dicarinya kucing yang garang./ diletakannya di dekat itu./ Ditarik ekor tikus agak kencang,/ tikus pun meloncat dari situ.// Untung ada kucing di dekatnya, matanya menatap tak lepas./ Begitu terlihat mangsanya,/ tikus diterkamnya dengan ganas. Di depan mata, Lina melihat tikus berhasil menangkap-memangsa tikus. Wah, pekerjaan hebat! Tikus itu mampus. Perang singkat dan menuntaskan dendam Lina.

Cerita belum usai. Di akhir, kita mungkin agak jijik dan khawatir. Lina tak ada maksud membuang kue sudah sebagian disantap tikus. Maria Amin: Habislah riwayat tikus itu,/ untung kue bersisa jua,/ Jika habis tentu lina malu,/ tetapi sekarang hanya sedikit kecewa. Pembaca menduga kue tetap bakal dibagikan ke teman-teman. Kue itu dimakan bersama di peringatan ulang tahun Lina. Kamu mau makan kue bersama Lina, setelah melantunkan lagu dan tepuk tangan?

* * *

Duh, kue itu dimakan anak-anak! Makan tikus saja! Lho, ajakan agak membikin gemetar dan merinding. Kemarahan pada tikus pernah jadi berita-berita menghebohkan di koran dan majalah masa 1980-an. Intelektual kondang dan ahli kependudukan bernama Masri Singarimbun pernah menulis kolom mengejutkan berjudul “Tikus” di Tempo, 14 September 1985. Ia prihatin mendengar nasib para petani merugi gara-gara tanaman padi diserang hama tikus. Petani menjadi merana tapi kewalahan dalam mengusir atau membasmi tikus. Pemerintah sudah mengajak tentara turun ke sawah demi perang penghabisan melawan tikus. Eh, tikus tetap saja mewabah di sawah-sawah. Petani dan tentara terbukti kalah dalam perang melelahkan, dari hari ke hari.

Masri Singarimbun malah menasihati: “Tidak mustahil salah satu pemecahannya adalah dengan jalan damai, dengan jalan mencintai tikus. Mencintai dagingnya, lelau mempopulerkan lauk tikus: tikus bakar, sate tikus, soto tikus, sop tikus, semur tikus. Malah, kalau perlu, dikembangkan peternakan tikus. Konon, daging tikus lebih enak dari daging ayam. Lebih enak dari daging kelinci.” Waduh, nasihat bijak itu agak sulit terlaksana di Indonesia setelah “berhasil” mencapai swasembada beras (1984). Orang-orang Indonesia masih memiliki pilihan daging-daging enak di piring. Tikus belum pilihan meski di sekian daerah makan daging tikus itu sudah biasa. Kita emoh mengikuti jejak Soeharto dengan kerja dan pengumunan bahwa Indonesia berhasil swasembada tikus. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    tangkap tikus dan kita mulai acara bakar besar pesta demos-nasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.