Tha Ha

Abdullah Shakoor

Di dalam perspektif dan kalkulasi tafsir Syaikh Muhyiddin ibn ‘Arabi (1165-1240) di dalam kitab tafsirnya (Tafsir Ibn ‘Arabi, terdiri dari dua jilid), judul di atas yang sebenarnya merupakan awal dari surat Thaha tak lain menunjuk kepada Nabi Muhammad Saw.

Tha’ itu merupakan singkatan dari Thahir, Sang Nabi yang suci. Sedang Ha’ merupakan singkatan dari Hadi, beliau yang diutus sebagai penunjuk jalan bagi umat manusia kepada Allah Ta’ala.

Beliau adalah uswah, seorang tauladan yang sangat terpuji, baik dalam kata-kata maupun perilakunya, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Maka secara ideal, untuk menjadi penunjuk jalan kepada Tuhan Yang Mahasuci, siapa pun semestinya menyucikan dirinya terlebih dahulu, dari berbagai dosa dan ketergiuran kepada segala sesuatu yang selain hadiratNya.

Artinya adalah bahwa seorang penunjuk jalan bagi umat manusia kepada hadiratNya itu mesti terlebih dahulu tampil sebagai personifikasi dari kehadiran Tuhan Yang Mahasuci, menjadi cermin rohani yang konkret di tengah deru sejarah kehidupan manusia. Sehingga seruan yang disampaikan kepada umat dengan lisannya seiring dan seirama perbuatan dan perilakunya.

Dan, Sang Nabi merupakan lokomotif bagi ketauladanan terpuji itu. Sungguh pun demikian, beliau yang merupakan pengejawantahan paling sempurna dari rahmat dan cinta ilahiat itu tetap saja tidak sepenuhnya digubris oleh umatnya sendiri. Terutama pada periode awal kerasulannya. Banyak di antara mereka yang bahkan membangkang dan menabuh genderang pengingkaran kepada beliau.

Sang Nabi sangat terpukul. Beliau sedih sekali memikirkan nasib umatnya. Beliau bersungguh-sungguh lahir dan batin agar sanggup membetotkan keimanan di relung batin mereka yang terdalam.

Begitulah semestinya: siapa pun yang meletakkan diri di jalan dakwah dalam rangka mengajak umat kepada Allah Ta’ala mesti memiliki luapan cinta dan kasih-sayang yang senantiasa tumpah dan meluber kepada mereka. Bukan dengan sebaliknya: merasa dirinya lebih suci, memandang rendah mereka dan minta dihormati.

Di dalam ketekunan Sang Nabi beribadah kepada hadiratNya, beliau tidak semata memikirkan keselamatan diri sendiri, tapi yang tak kalah pentingnya adalah beliau senantiasa memperjuangkan nasib umatnya agar mereka selamat dan berbahagia, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Cerminan kesucian beliau terpantul kuat di dalam akhlak dan interaksi beliau dengan sesama dari kalangan umatnya. Cinta dan kasih-sayang beliau terhadap mereka diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang begitu gamblang dan memesona. Sehingga siapa pun di antara mereka yang masih terbuka hatinya walaupun sedikit, pastilah merasakan adanya cinta dan kasih-sayang yang teramat sakral dari beliau.

Moga kita semua termasuk di antara umatnya yang istimewa, diakui, dan mendapatkan rida beliau. Amin.Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.