Transparan

in Tajalli by
thewallpaper.co

Konotasi dari judul di atas sebenarnya menunjuk kepada dua idiom gabungan, al-fath al-mubin, sebagaimana termaktub dalam Qur’an surat al-Fath ayat pertama.

Menurut Syaikh Ruzbihan al-Baqli (wafat pada 606 H) dalam kitab tafsirnya, ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an, di samping ayat itu mengabarkan tentang karunia terbesar yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Saw., juga di dalamnya terkandung rahasia yang sangat mengagumkan.

Dan hal itu tak lain adalah bahwa ketika pintu-pintu al-qidam (kemahaterdahuluan Allah Ta’ala, tidak didahului oleh apa pun yang lain, termasuk juga oleh waktu) itu tertutup bagi seluruh makhluk, tak ada satu makhluk pun yang sanggup menyaksikan “zaman” azal, Dia dengan penuh kemurahan membukakan pintu-pintu paling sakral itu bagi Nabi Muhammad Saw. sehingga beliau bisa menyaksikan segala yang dikandung oleh “zaman” azal itu dengan gamblang.

Zaman azal adalah sebuah “fase” di mana segala sesuatu belum direalisasikan, masih merupakan gambaran-gambaran semata yang bersemayam dengan rapi di dalam hadiratNya. Itulah fase yang kelam bagi seluruh makhluk yang lain, tapi secara spesifik dibukakan untuk Imam al-Anbiya wa al-Mursalin Saw.

Dan ketika seluruh yang dikandung zaman azal begitu benderang bagi beliau, demikian pula sangat nyata bagi beliau segala seluk-beluk zaman keabadian, seluruh yang dikandung oleh surga dan neraka. Secara detail, rahasia keduanya tersingkap dengan terang dan digenggam dengan sangat meyakinkan oleh beliau.

Tidak saja dianugerahi kesanggupan yang sangat menakjubkan di dalam melihat dua ujung awal dan akhir yang tidak bertepi itu, akan tetapi juga Allah Ta’ala membukakan pendengaran beliau sehingga sanggup menangkap firmanNya yang sama sekali tidak tersentuh baik oleh huruf maupun oleh suara.

Di dalam filsafat logika, tak mungkin sesuatu yang nisbi menjangkau sesuatu yang mutlak. Keduanya berada tidak saja pada posisi yang berbeda, tapi juga sepenuhnya berseberangan. Dan di antara sekian yang nisbi itu tak lain adalah Nabi Muhammad Saw. Tapi pasti bahwa itulah nisbi yang paling berdekatan dengan yang mutlak. Karena itu, beliau disebut aqrab al-wasail ila Allah, paling dekatnya perantara kepada hadiratNya.

Kesanggupan Sang Nabi akhir zaman di dalam menembus pintu-pintu azaliah dan abadiah itu tak lain karena beliau diperankan oleh Allah Ta’ala. Tidak mungkin tidak. Karenanya, segala sesuatu menjadi transparan bagi beliau atas perkenan hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.