Tuan Budiman Tersesat di Hutan

Tuan Budiman yang sangat beriman kepada Tuhan suatu ketika tersesat di hutan hujan. Dia berjalan dan terus berjalan sambil berdoa memohon keselamatan. Dia sangat yakin bahwa dengan cara yang entah bagaimana Tuhan akan menolongnya. Sayang, pada kenyataannya Tuan Budiman berjalan ke arah yang salah. Jadi semakin jauh kaki-kaki lelahnya melangkah, semakin dia masuk ke rimba raya. Namun dia tetap percaya, Tuhan akan menolong entah bagaimana.

Banyak orang yang menyebut hutan hujan dengan sebutan spektakuler bernada positif seperti paru-paru dunia (karena kemampuannya menyerap karbondioksida dan menyemburkan oksigen yang sangat kita butuhkan untuk pernapasan), atau zamrud khatulistiwa karena hijaunya yang sarat dengan keanekaragaman hayati. Itu benar, tapi jika dideskripsikan dari kejauhan. Tapi begitu seseorang tersesat di dalamnya, dia sebenarnya tengah berada di neraka hijau. Sekalian makhluk siap menjadi musuhnya. Apa yang tidak membunuhnya, telah siap menyakitinya dengan sangat.

Matahari terus bergulir di atas kepala Tuan Budiman: terbit, meninggi, lalu tergelincir kembali. Dua, atau mungkin tiga hari sudah berlalu. Makanan dan minuman yang dia bawa dalam ranselnya sudah habis. Perutnya keroncongan dan kakinya kesemutan. Dia mutlak sudah tidak bisa berjalan lebih jauh lagi. Tak punya pilihan, Tuan Budiman memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon trembesi besar. Akarnya menyembul dan membentuk sudut tumpul di atas tanah, seperti lutut, cocok untuk duduk sambil melunturkan nyeri-nyeri di kaki.

Dia membayang-bayangkan, apa yang dia lakukan sekarang seandainya tidak sedang tersesat di hutan. Biasanya dia mengingatkan orang-orang agar senantiasa mengingat Tuhan bersamanya, mengagungkan nama-Nya serta memuji tindakan-tindakan-Nya di dunia. “Saudara-saudara sekalian, Tuhan itu Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Dia tidak akan pernah menguji kita melewati batas kemampuan kita. Konsekuensinya, kegagalan manusia dalam menghadapi cobaan dari-Nya adalah karena manusia itu sendiri. Kitalah yang perlu banyak-banyak mengambil pelajaran ketika sedang diuji,” begitulah yang akan dia sampaikan dari atas mimbar. Dengan dia tersesat di hutan hujan, dia seperti mendapat tuntutan untuk membuktikan kata-kata tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di semak-semak tak jauh dari tempatnya duduk. Lamunan Tuan Budiman buyar. Kaki-kakinya masih lemas dan dia merasa cemas. Tapi pelan-pelan berusaha menghalau rasa itu dari hatinya. Tuan Budiman punya sesosok Pelindung yang tidak akan membiarkannya celaka begitu saja. Jadi dia mulai memanjatkan doa, semoga semak bergemerisik itu bukan harimau lapar yang sedang mencari mangsa.

Memang bukan macan! Tapi binatang itu adalah celeng jantan yang sangat besar. Salah satu calingnya patah di ujung dan segaris codet permanen menyilang di dahinya. Sekali melihat orang, wajahnya sudah kelihatan tidak bersahabat. Melalui dengkur-dengkur menantang dan kaki depan yang tampak menggaruk-garuk tanah, Tuan Budiman tahu binatang liar itu sudah siap menyeruduk. Nyawanya masih terancam meski bukan oleh macan kelaparan. Tapi bagaimanapun, berusaha lari juga percuma. Sekujur tubuhnya tidak mau diajak bekerja sama. Jadi dia kembali berdoa sambil pasrah saja. Dia menunjukkan ketenangan dan tidak menunjukkan ketakutan. Konon, begitulah cara menghadapi binatang liar: sikap tenang menyurutkan keinginan mereka untuk menyerang.

Si celeng melompat maju. Dengan segera, derap langkahnya terdengar semakin kencang, sekencang degup jantung Tuan Budiman memompa darah ke seluruh tubuhnya. “Tuhan,” batinnya berkata. “Jika memang benang hidupku harus terputus di sini, maka aku siap.”

Namun selangkah lagi caling celeng itu merobek dada Tuan Budiman, tubuhnya terpelanting ke samping. Binatang itu seperti di dorong dengan kuat sampai terpeleset dan tidak jadi melukai Tuan Budiman. Tiga tombak menusuk lambungnya secara bersamaan. Darah mengucur bersama erangan memilukan. Alih-alih Tuan Budiman, justru celeng itulah yang meregang nyawa, lalu mati.

Tiga orang berbadan kekar telah menyelamatkan Tuan Budiman. Sudah sewajarnya dia bersyukur, tapi dia memilih untuk menundanya sementara. Jangan-jangan nyawanya masih terancam. Ketiga orang ini hanya mengenakan cawat yang dibuat dari serat-serat tumbuhan yang dikeringkan. Dada mereka ditato dengan gambar yang sama, polanya asing tapi jelas-jelas merupakan simbol tertentu. Mereka pasti para pemburu dari suatu suku primitif yang tinggal di dalam hutan. Tuan Budiman pernah membaca tentang suku-suku beranggotakan manusia-manusia kanibal yang tinggal di dalam hutan hujan, meskipun dia juga tahu tidak semua suku hutan berperilaku demikian. Masalahnya, ketiga orang berbadan kekar ini termasuk yang mana? Akankah mereka mengikat tangan dan kaki Tuan Budiman lalu mengangkutnya untuk dijadikan makan malam tambahan?

Jawabannya tidak. Lagi-lagi Tuan Budiman selamat karena alih-alih mengikat dan mengangkutnya, mereka bertiga justru menampakkan raut-raut wajah ramah dan tampak kegirangan. Dalam bahasa yang saat itu masih belum bisa dia pahami, namun maksudnya bisa dimengerti, mereka mengajaknya mengunjungi pemukiman mereka. Tuan Budiman setuju. Tuhan telah memberkatinya dengan keselamatan lewat ketiga orang ini, jadi sudah selayaknya dia menghormati mereka dengan memenuhi undangan itu. Lagi pula, dengan begitu dia akan lebih aman.

Demikianlah Tuan Budiman mencoba membaur. Mau tak mau dia perlu beradaptasi dengan adat istiadat suku hutan: dengan cara mereka makan, dengan cara mereka minum dan cara mereka membersihkan badan. Dia dijamu oleh kepala suku. Ke hadapannya disajikan makanan kehormatan, dalam mangkuk dari batok kelapa. Tuan Budiman meneguk hidangan yang terlihat seperti bubur itu tanpa curiga. Kemudian setelah lidahnya merasakan gurih tak terkira, dia bersumpah bahwa apa yang baru saja disantapnya adalah bubur paling enak sedunia. “Ini pasti terbuat dari tepung sagu hutan yang bebas dari pupuk buatan,” terka Tuan Budiman.

Sayangnya, kepala suku yang lugu itu lalu menunjukkan bahwa hidangan kehormatannya terbuat dari larva kumbang jenis tertentu, yang dilumat dan diberi sedikit perasa. Kerongkongan Tuan Budiman terasa geli, tapi perutnya tak sampai mual. Rasanya memang jauh lebih lezat dibanding apa yang terbayang ketika mendengar “lumatan larva kumbang”.

Larva itu bahkan terlalu lezat sampai-sampai Tuan budiman mengesampingkan perintah Tuhan, bahwa binatang tanpa tulang tidak boleh dimakan. Dia beralasan, karena dirinya sedang berada di tengah hutan maka dia tak punya pilihan. Lebih jauh, lezat dan gurihnya larva itu membuat Tuan Budiman ketagihan. Kapan pun anggota suku hendak berburu larva, dia pasti berada di barisan paling depan. Tuan Budiman kemudian enggan menyentuh hidangan lainnya.

Bersama suku hutan, Tuan Budiman menyisir akar-akar dari tunggul pohon yang sudah tak bernyawa. Dia juga membongkar batang-batang pohon yang telah lapuk. Siapa tahu jemarinya akan menemukan larva yang gemuk-gemuk. Terkadang dia mujur, tapi terkadang juga dia kembali ke perkampungan dengan tangan kosong, gigit jari.

Demikianlah … Tuan Budiman sudah mulai sesuai dengan budaya dan adat istiadat suku hutan. Sebaliknya, kehadiran Tuan Budiman di antara suku hutan juga mengubah mereka pelan-pelan. Mereka mulai bersentuhan dengan teknologi.

Tuan Budiman membawa kamera yang bisa diisi baterainya menggunakan pengisi daya bertenaga surya. Dia mengambil gambar pemukiman mereka, mengajak semua anggota suku untuk selfie dan mengabadikan gambar-gambar mereka dalam citra-citra digital. Mereka yang tidak pernah mengenal teknologi lebih jauh daripada busur panah dan sumpit itu merasa terkagum-kagum dengan kamera. Dia segera dianggap sosok setengah dewa dan semakin dihormati.

Tuan Budiman merasa cocok dengan segala aspek dari suku yang telah menyambutnya dengan hangat itu kecuali satu, yaitu keyakinan. Suku hutan menyembah Ruh Hutan, dan itu bukan Tuhan, khususnya bukan Tuhan Tuan Budiman.

Ritual mereka juga sama sekali tidak mirip dengan ritual agama Tuan Budiman. Pada malam bulan purnama, mereka mendatangi sebuah pohon besar yang dipercayai sebagai tempat bersemayam Ruh Hutan. Mereka mengikatnya dengan tambang yang terbuat dari tanaman rambat dan menyusun bebatuan di sekeliling pohon tersebut, membentuk dinding persegi setinggi lutut. Lalu di keempat sudutnya disulut api berbahan bakar dedaunan kering dan ranting-ranting kecil. Asap mengepul, mereka berkumpul. Mereka menari-nari tanpa irama, berteriak-teriak tak keruan mengungkapkan sukacita.

Di mata Tuan Budiman ini adalah kesesatan yang tidak bisa dibiarkan. Ini adalah kebodohan yang menyala-nyala dan harus dipadamkan dengan cahaya pengetahuan akan Tuhan. Ini adalah iman yang salah arah, salah tempat. Para pelakunya mutlak harus bertobat. Meskipun begitu, dia sadar bahwa untuk mengubah keyakinan orang lain, apalagi jumlah mereka banyak, tidak bisa dilakukan asal-asalan. Jika dia mencela Tuhan palsu mereka sekarang, dia tentu akan dicincang di muka umum. Dia membaur lebih jauh lagi dengan mereka, namun sambil kemudian melakukan ritual-ritual asing yang tidak pernah dikenal di suku itu. Semakin lama semakin tampak jelas bedanya. Dia mencoba membuat mereka penasaran dan berhasil. Mereka bertanya-tanya tentang ritual yang dilakukannya.

“Ini adalah cara menyembah Tuhan,” katanya pada Kepala Suku, disaksikan semua orang.

“Melihat ritual Tuan yang begitu khidmat, Tuhan Tuan pastilah sangat hebat. Bukan begitu?” tanya Kepala Suku dengan lugu.

“Begitulah, Kepala Suku. Tuhanku yang menciptakan dunia dan seisinya, yang menciptakan batu dan pepohonan, yang mengalirkan air di sungai-sungai, yang menumbuhkan buah-buah ranum, yang menciptakan langit, bulan dan bintang-bintang malam. Tuhanku pula yang menjalankan matahari dari fajar hingga petang, setiap hari.”

Kepala Suku percaya saja. “Hebat …. Hebat sekali. Kekuasaan Tuhan Tuan Budiman mencakup segalanya, sementara kekuasaan Ruh Hutan yang kami sembah hanya mencakup seisi hutan saja. Sejujurnya, tak pernah terpikir oleh kami bahwa ada yang lebih hebat dari Ruh Hutan. Ini sungguh adalah pengetahuan yang mencerahkan.”

Tuan Budiman tersenyum simpul. “Itulah kenapa menyembah Tuhanku akan memberikan keuntungan yang sangat banyak.”

“Apa sajakah keuntungan itu, Tuan Budiman?”

Tuan Budiman berpikir sejenak. Nikmat Tuhan pada manusia itu tak terbilang jumlahnya. Jika dijabarkan semua, akan butuh waktu berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu. Karena itu, dia akan memilih beberapa yang paling penting untuk disampaikan. “Ehm … Kalian akan diberi bahan makanan yang melimpah. Kalian akan diberi perlindungan dari marabahaya, sehingga keselamatan kalian terjamin. Singkat kata, kalian akan mendapat ‘petunjuk’ sehingga apa pun yang kalian lakukan akan terberkati.”

“Tapi, Tuan, dengan menyembah Ruh Hutan, bukankah kami sekarang sudah mendapatkan semua itu?”

Tuan Budiman pun terdiam. Kepala suku yang lugu itu berkata benar. Untuk makan mereka hanya perlu berburu dan mengumpulkan binatang dan tumbuhan hutan yang jumlahnya seolah tidak berkurang dijarah setiap hari. Mereka tidak perlu susah bercocok tanam atau beternak dan menunggu panen. Untuk perlindungan, ancaman terbesar datang dari binatang buas dan mereka dapat menghadapinya bersama-sama dengan peralatan-peralatan buatan sesederhana panah dan sumpit beracun. Jadi mereka cukup aman. Ironinya, Tuan Budiman-lah yang malah luput dari semua itu. Di sini dia masih satu-satunya orang yang menyembah Tuhan, tapi justru dialah yang paling tidak aman. Dia tersesat di hutan hujan, jauh dari sanak dan saudara. Setiap makhluk bernyawa siap untuk melukai atau membunuhnya. Dia juga tidak dapat menghubungi orang di luar hutan untuk menjemputnya dan tidak tahu jalan sehingga tidak bisa kembali.

Hari TS
Latest posts by Hari TS (see all)

Comments

  1. Bio Reply

    Bayangkan tersesat di tempat asing. Tuan Budiman juga sepertinya tidak diperbolehkan untuk pulang ya sama suku itu

  2. anya febrianti Reply

    wow…..
    definisi sederhana….keren

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!