Tu(h)an yang Pantas untuk Paman Coki

Dalam sebuah keluarga selalu ada satu anggotanya yang menjadi pecundang. Dalam keluarga ibuku, peran itu dimainkan oleh Paman Coki. Ia adalah adik ragil ibuku, lahir setelah gegeran ’65. Tidak, aku tidak menulis kisah bertema genosida ’65 kali ini. Sudah banyak kutulis mengenai itu pada cerita-cerita terdahulu meski barangkali kau tak baca. Jika kau ingin baca, kapan-kapan singgahlah ke rumahku di dunia maya. Nanti kujapri alamatnya.

Paman Coki tidak bertuhan meski keluarga besar kami menganut suatu agama monoteis dengan fanatik. Salah satu bibiku berjilbab lebar meski itu dilakukannya setelah suaminya bangkrut dan terlilit utang. Pamanku yang lain rajin membayar perpuluhan meski semua tahu itu untuk membayar rasa bersalahnya atas perilaku korup di kantornya. Sepupu Yahudi-ku selalu mengonsumsi makanan kosher meski aku tahu dia tidak melewatkan Minggu malam tanpa berzina dengan pacarnya di kamar kost. Akan tetapi, mereka jauh lebih baik daripada Paman Coki yang kafir.

Dalam hal pekerjaan pun aku tak tahu pasti apa profesi Paman Coki. Dia selalu mengaku dirinya adalah seniman yang bekerja sesuai inspirasi jiwa seninya. Tapi, sepanjang interaksiku dengannya hanya pernah kujumpai beberapa potong lukisan wanita telanjang di rumah paman. Paman juga pernah mendaku diri sebagai penulis meski hanya menulis puisi yang dimuat dalam koran lokal tak berhonor atau berhonor kecil.

“Coba kalau dia selesaikan sekolahnya dulu di IKIP, sudah jadi pegawai negeri dia sekarang. Tak perlu aku kirim uang dan beras untuk membantu hidupnya sehari-hari,” kata Ibu suatu kali.

Di antara saudara-saudaranya, hanya ibuku yang masih memperhatikan paman di usianya yang hampir setengah abad ini. Bahkan ibu belum menyerah dalam membujuknya untuk beragama dan berumah tangga.

“Memangnya ada perempuan yang mau sama Paman?”

Ada satu perempuan yang diincar ibuku untuk dijodohkan dengan paman. Perempuan itu memang sudah tidak muda dan cantik dengan anak-anak yang beranjak dewasa. Justru karena itu ibuku pikir dia akan cocok dengan paman. Di luar dugaan kami, Paman Coki menolak dengan angkuhnya.

“Bukan karena dia janda atau sudah tua, tapi dia tak akan bisa mengimbangi pemikiranku. Istilah anak sekarang tidak sefrekuensi. Kalau sekadar teman tidur dan melayaniku, aku tidak butuh itu.”

“Kalau begitu kembalilah beragama, Coki. Mari ikut menyembah Tuhan di masjid kami. Tak mengapa kau sengsara di dunia asal jangan sengsara di akhirat. Nanti aku akan menambah uang santunan untukmu,” bujuk ibuku tak kenal lelah.

Paman Coki tersedak kopi yang sedang diteguknya karena terbahak. “Aku tidak pernah mengemis bantuan padamu. Tetapi kau sendirilah yang mengirim segala macam paket sembako dan barang-barang itu ke rumahku. Jika kutolak, kau pasti menganggap itu hinaan, bukan?”

Kalau kupikir-pikir, Paman Coki benar juga. Seingatku dia tidak pernah datang kepada ibu dengan muka memelas mengharap santunan. Dia selalu bertandang dengan gagah dan membawakanku buku-buku tebal untuk mengisi meja belajarku. Ibulah yang selalu memaksanya membawa hasil kebun dan menjejalkan sejumlah uang ke sakunya. Ia beralasan itu adalah hasil penjualan sarang walet yang merupakan usaha keluarga besar.

“Aku juga tak tertarik beribadah di masjidmu kalau ajarannya adalah hanya membantu mereka yang seiman atau sealiran. Aku punya Tuhan idealku sendiri,” bantah paman lagi.

Kini, semakin dewasa aku semakin tahu jenis orang seperti apa pamanku itu. Dia bukan pecundang seperti yang keluargaku labeli hanya karena dia tak mengikuti standar normal orang-orang: menikah dan punya pekerjaan tetap.

Aku baru tahu kalau ternyata pamanku adalah orang hebat setelah videonya viral di media sosial. Dalam video itu dia melontarkan makian kepada Pak Lurah pada suatu forum diskusi. Forum itu membahas kebijakan Pak Lurah yang hendak membangun hutan desa yang sakral untuk dijadikan pasar malam dan pusat hiburan. Dia beradu argumentasi dengan orang-orang yang pro kebijakan Pak Lurah.

“Mengubah hutan desa menjadi pasar malam bukan solusi untuk kemajuan desa. Itu kebijakan tolol yang lahir hari pemikiran tolol!” begitu bunyi potongan video yang luas beredar melalui berbagai jenis media sosial itu.

Lalu, Paman dilaporkan ke polisi atas pasal penghinaan dan ujaran kebencian. Namun, hebatnya dia bisa lolos dari tuntutan berkat argumentasinya dengan para hakim dan jaksa. Paman Coki urung masuk penjara.

Sejak itulah Paman Coki menjadi terkenal dan diundang banyak forum untuk berdebat atau memberi kuliah umum. Dia bukan pelawak, tetapi selalu bisa membuat suasana segar dengan celetukan-celetukan satirnya. Wartawan juga banyak mencarinya. Ia mulai banyak penggemar selain juga banyak pembenci yang melaporkan dia ke polisi.

Akan tetapi, orang-orang yang dulu melaporkan Paman Coki kini berbalik mendukungnya dan turut mengumpat kebijakan-kebijakan Pak Lurah. Apalagi setelah Pak Lurah membuat peraturan konyol yang meloloskan anaknya untuk maju pada pemilihan kepala desa mendatang.

Ketua Dewan Adat yang masih sepupu jauh Pak Lurah membuat aturan baru yang membolehkan calon kepala desa berusia kurang dari 21 tahun asal sudah menikah. “Anggap saja pengalaman memimpin rumah tangga itu jadi bekal untuk memimpin desa,” katanya.

Sesuai prediksi, Galih Perbawa, putra sulung Pak Lurah itu gagal meraih suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa. Ia bahkan tidak lolos pada putaran pertama. Pildes putaran kedua ternyata memenangkan kandidat yang didukung paman. Dia adalah pensiunan dosen bergelar doktor. Meski tak lulus S-1, Paman Coki justru menjadi kawan diskusi sang akademisi.

Namun, ibuku tak habis pikir kenapa Paman Coki masih terlihat menganggur setelah si doktor nyaman menduduki takhta kepala desa. Memangnya tidak ada proyek untuknya?

Paman Coki meledak tertawa ketika mendengar pertanyaannya. Hampir saja dia tersedak kopi panas yang tengah dihirupnya.

“Kau pikir aku merapat ke dia supaya kecipratan jabatan? Kau pikir aku mau jadi budaknya setelah dia jadi penguasa di desa ini? Maaf, aku hanya akan mengabdi pada akal sehat. Kalau dia bikin kebijakan-kebijakan tolol seperti Pak Lurah yang dulu, aku tak akan segan memakinya!”

Paman Coki kembali menjalani kehidupan normalnya setelah gegap-gempita pesta rakyat usai. Normal dalam standar dia maksudnya. Kadang-kadang dia menulis di koran-koran lokal, kadang-kadang dia mendaki gunung di akhir pekan.

Setelah perselisihan terakhir itu, ibuku tak lagi menyuplai logistik ke rumah Paman Coki. Ia marah ketika tahu bahwa paman menolak diangkat menjadi sekretaris desa dan bertekad memberinya pelajaran.

Kupikir, paman pasti tak bisa mencukupi kebutuhannya, sebab kulihat bajunya itu-itu saja. Bahkan pernah dia datang ke kondangan dengan memakai celana kargo dan kaus ketat berkerah. Di rumahnya juga tak ada barang-barang mewah. Tempat tidurnya di loteng dan hanya beralas selembar kasur tipis dengan bantal buku-buku tebal.

Herannya, buku-buku di rumahnya bertambah setiap harinya. Buku-buku itu tidak cukup lagi ditampung rak. Mereka menghuni kursi tamu, meja, sofa hingga anak tangga. Jika aku berkunjung ke rumahnya, aku harus berbagi tempat dengan benda-benda itu.

“Paman kan tidak bekerja, bagaimana Paman mencukupi kebutuhan dan membeli ribuan buku itu?”

“Tergantung definisi kebutuhan itu seperti apa. Apa yang kau pikir perlu untuk dibeli, belum tentu buatku penting untuk dimiliki. Sebaliknya, apa yang kauanggap tak berguna, buatku bisa jadi berharga. Seperti buku-buku ini. Kau tak pernah baca buku-buku yang kuhadiahkan, kan?”

Aku tersenyum tipis mendengar sindiran Paman Coki.

“Lagi pula, siapa bilang aku tak bekerja. Aku hanya tak mau punya tuan. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menjadi majikanku. Tidak manusia, tidak juga sistem. Aku manusia paling merdeka di negeri ini,” pungkas Paman.

Beberapa bulan setelah percakapan itu, pamanku mati. Setidaknya begitulah yang kami yakini. Ia menjadi salah satu korban erupsi Gunung Marapi. Suatu kali di bulan April, paman terbang ke Sumatra Barat untuk mendaki gunung-gunung di sana bersama para mahasiswa. Di luar prediksi PVMBG, gunung itu memuntahkan lahar ketika paman dan para mahasiswa sedang menyambanginya.

Meski telah lama mengabaikan paman, keluarga besar turut prihatin atas apa yang menimpanya. Mereka mengutus aku dan sepupu Yahudi-ku sebagai perwakilan keluarga untuk menyambut jenazah Paman Coki nanti setelah berhasil dievakuasi oleh tim SAR setempat.

Namun, anehnya dari ke-27 pendaki itu, hanya jenazah paman yang tidak ditemukan. Padahal petugas reservasi yakin betul mencatat nama pamanku saat ia mendaftar. Ia bahkan menunjukkan swafotonya bersama Paman Coki. Hingga hari kedelapan, tim SAR masih mencari paman sebelum akhirnya menyerah dan menyatakan dia telah hilang.

Aku dan sepupu Yahudi-ku kembali ke rumah dengan wajah kuyu. Keluarga besar juga menyambut dengan tangis pilu.

“Coki … kenapa kau secepat ini pergi?” tangis seorang bibi. “Aku tak akan melupakan kebaikanmu. Kau pernah menyelamatkan anakku dengan menyuplai susu saat suamiku kena PHK …”

Keluarga besar kami sepakat untuk menyelenggarakan upacara keagamaan untuk menghormati Paman Coki. Keluargaku yang menganut Islam fanatik menyelenggarakan salat gaib dan pengajian selama tujuh hari. Sedangkan keluarga pamanku yang Kristen menggelar misa arwah di rumahnya. Begitu juga tanteku yang Yahudi, punya ritual sendiri untuk melepas paman.

Hanya aku sendiri yang merasa tak yakin harus dengan cara apa melepas kepergian Paman. Sebab aku tahu betul, tak akan pernah ada Tu(h)an yang pantas untuk Paman Coki. ***

Mayang Mangurai, Desember 2023

Linggar Rimbawati
Latest posts by Linggar Rimbawati (see all)

Comments

  1. IrjanMosato Reply

    Terbaik sayangku Mylingling….semangat dengan karya2nya yah…. God Bless, love you

    • Admin Reply

      admin baca komen ini: kpn y 🙁

      • Linggar Rimbawati Reply

        Arap maklum ya, min. Kita pengantin baru 🤣

      • Ariana Nur Khoerunnisa Reply

        Always cool, MashaAllah. Ditunggu karya-karya berikutnya Kak, Ling ❤️

    • Ricardo Reply

      Baru tahu Ling sudah menikah. Bahagia selalu ya.

      • Linggar Rimbawati Reply

        Bukan, Bang. Itu pacaaar…. 😁

  2. Linggar Rimbawati Reply

    Kapan apa min?

  3. Rory Reply

    Positif ini Paman Coki moksha

  4. Cubeck Reply

    saya jadi kepikiran, siapa tokoh coki ini 🙂

  5. Ain Reply

    Wah, cerita yang menarik!!
    Saya rasanya kok tidak asing dengan tokoh paman Coki ini ya haha
    Keren keren!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!