Urgensi Literasi Digital untuk Keluarga

@avifahve

Apakah ada yang hilang dari keluarga kita? Saya tak mau menjawabnya. Saya hanya menyodorkan fakta di mana pada peringatan hari Anak tahun ini, berbagai media mengangkat laporan khusus tentang kecanduan anak terhadap gawai. Kompas, misalnya, mengangkat kisah 11 orang anak di Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi Kabupaten Bondowoso, Jatim (26/07) yang dirawat secara intensif karena adiksi gawai. Dikisahkan, karena gawai, selama tiga hari dua malam anak itu tetap saja sibuk dengan gadget tanpa makan dan tidur. Jika dilarang orang tuanya, anak itu bisa marah, bahkan sampai membenturkan kepalanya ke tembok.

Hampir pada saat yang bersamaan, Globe Asia juga mengeluarkan hasil temuannya di mana empat orang pegiat start up Indonesia berhasil masuk menjadi orang-muda kaya baru dalam jajaran 150 orang terkaya di Indonesia. Umur mereka masih muda. Mereka adalah Ferry Unardi (Traveloka), William Tanuwijaya (Tokpedia), Achmad Zaky (Bukalapak), dan Nadiem Makarim (Go-Jek). Seseharinya, mereka bergelut dengan gawai. Bahkan, gawai menjadi hidup mereka. Tanpa gawai, mereka tak akan menjadi orang kaya seperti saat ini.

Kedua kisah berbeda di atas pada dasarnya mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama candu gawai meski dalam pemahaman yang berbeda. Yang satu candu gawai hanya untuk bersenang-senang, sementara yang satu lagi candu gawai untuk kegiatan produktif. Yang satu candu gawai untuk menghabiskan waktu, sementara yang satu lagi untuk benar-benar mengisi waktu. Singkatnya, gawai sebenarnya bukanlah hal buruk meski belakangan sering disalahtafsirkan menjadi sesuatu yang hampir selalu berdampak sangat buruk, bahkan bagi sebuah keluarga inti sekalipun.

Tak Sadar
Sebab, seperti kita ketahui bersama, karena gawai, kemelekatan kekeluargaan sering jadi pudar. Sebuah keluarga bisa tak saling sapa lagi di dunia nyata. Anak, misalnya, tak lagi permisi ketika hendak pergi ke sekolah. Anak juga tak meminta uang saku lagi melalui bahasa verbal kepada orang tuanya, dengan mulutnya, dengan tangannya, tetapi cukup dengan tekan tombol dari salah satu aplikasi messenger, maka pesan langsung tersampaikan. Uang saku itu bahkan tak lagi diberikan secara ragawi. Cukup pergi ke ATM, ketik nomor yang dituju, maka uang akan segera terkirim. Memberi dan menerima tak lagi melibatkan tangan.

Memang, dengan gawai, komunikasi menjadi sangat lancar. Tetapi, dengan gawai juga, pertemuan di antara sebuah keluarga menjadi dangkal. Mereka tinggal di rumah yang sama, tetapi tak serumah. Satu sibuk di ruang tamu dengan gawai, satunya lagi di kamar, yang satunya lagi sibuk di teras. Mereka berbicara satu sama lain melalui aplikasi, bukan lagi melalui mulut. Mereka tertawa atau sedih dengan fitur emoticon, bukan lagi dengan mimik dan bibir. Mereka membuat grup keluarga di gawai, bukan lagi di ruang tamu. Di grup keluarga itu, segala tema dibicarakan, mulai dari arisan hingga rencana jalan-jalan, tamasya, dan nongkrong.

Di grup itu, misalnya, digagaslah makan bersama ke sebuah kafe. Detail kegiatannya pun dibuat. Lalu, tibalah waktunya, mereka berangkat. Sayangnya, dalam perjalanan, mereka saling mendiami. Mereka sibuk dengan gawai. Masing-masing dari mereka memang akan membuat status dan saling menandai di media sosial: otw bersama keluarga untuk makan bareng. #qualitytime. Sayangnya, justru dari sinilah masalah itu mulai bertumbuh sehingga quality time hanya mimpi. Pasalnya, setelah kalimat itu diketik lalu dikirim, maka sejak itulah mulut mereka untuk bicara digantikan jempol.

Sejak itu, mereka sibuk sendiri karena orang lain yang entah dari mana ikut nimbrung mengomentari. Sesama mereka juga saling mengomentari di dunia maya itu. Tetapi, di dalam perjalanan itu, komentar mereka hanyalah konsumsi mata, bukan konsumsi telinga. Setiba di lokasi tujuan, dengan sigap, mereka langsung menuju meja yang sama. Mereka duduk saling bersisian hingga saling hadap. Sebelum memesan, mereka akan berfoto dulu. Setelah makanan tiba, doa makan juga akan digantikan dengan foto makanan dulu. Lalu, dalam sekejap, foto itu pun kembali disebar ke media sosial.

Ditulislah, misalnya, kata-kata bergairah tentang sebuah keluarga harmonis. Mereka tak sadar bahwa setelah tiba di tempat itu, mereka ternyata bukan lagi keluarga. Mereka menjadi diri sendiri sehingga anggota keluarga lain hanya pemeran sampingan. Tempat tongkrongan pun sebatas latar belakang. Dengan kata lain, inti pertemuan itu adalah mengunggah kenyataan ke dunia tak nyata oleh diri masing-masing tubuh dalam keluarga itu. Harapan mereka sangat sederhana: sobat-sobat media sosial diharapkan saling berkomentar. Berimajinasi agar ada yang mengatakan, wah, sungguh sebuah keluarga yang romantis.

Di sini, ukuran keluarga harmonis dan romantis hanya dilihat dari foto, bukan lagi dari komunikasi dan sentuhan. Oh, tak terasa, malam sudah larut. Makanan sudah habis. Komentar dari dunia maya sudah lesu. Mereka pun pulang. Skemanya menggetirkan. Betapa tidak, detail acara makan bareng ternyata hanya foto bareng. Sayangnya lagi, setiba di rumah, mereka langsung menuju kamar masing-masing. Di kamar masing-masing itu, ribuan informasi merangsek. Sambil golek-golek, mereka membaca lalu mengirimkannya ke berbagai grup.
Malam semakin larut, mereka pun tertidur. Mereka pulas bersama dengan gawai yang di dalamnya ada ribuan berita yang masuk. Keesokan paginya, selekas bangun, gawai langsung diperiksa. Berbagai informasi dan komentar ternyata sudah menanti. Maka, sambil golek-golek, mereka membaca berita itu dan mengirimkannya ke berbagai kontak. Soal sarapan pagi tak perlu dipikirkan. Dapur sudah menjadi pekerjaan Go-Food. Lapar, maka klik aplikasi, makanan akan langsung tiba. Sebelum makanan tiba, mereka akan memanjakan diri dengan berbagai fitur gawai, mulai dari game hingga googling. Mereka bisa main game dengan sesuka hatinya.

Komunikasi Keluarga
Kurang lebih, demikianlah kisah gawai menghancurkan komunikasi sebuah keluarga. Itu masih keluarga. Kita belum melihat dampaknya kepada tetangga. Kita bahkan belum melihat dampak karena banyaknya informasi hoax, maka perkelahian di dunia maya acap kali malah beranjak ke dunia nyata. Isu kebencian di dunia maya juga tak jarang justru meledak di dunia nyata, seperti yang terjadi di Tanjung Balai Sumatera Utara. Itu semua terjadi justru dari ruang keluarga yang sepi kata-kata itu. Sebab, dari ruang tamu, dari tempat tidur, dari kamar mandi, setiap anggota keluarga bisa menyebarkan berita-berita hoax dan kebencian.

Dari ruang tamu, dari tempat tidur, dari kamar mandi, setiap anggota keluarga juga bisa mengakses konten-konten negatif hingga konten radikal. Ironisnya, melihat berbagai data, penetrasi gawai ke masyarakat justru semakin gencar. Ini artinya bahwa komunikasi sebuah keluarga juga akan semakin terancam. Ini semakin diperparah karena masyarakat kita menggunakan gawai cenderung untuk hal-hal improduktif. APJII setidaknya menunjukkan bahwa pada 2017, kegiatan internet untuk kegiatan produktif hanya 16,83-45,14 persen. Ini semakin parah lagi karena kualitas manusia kita sangat rendah, terutama dalam hal literasi.

Karena itu, sudah selayaknya pemerintah menggenjot literasi digital kepada keluarga. Seperti di awal tulisan ini disebutkan, gawai bisa merusak, bisa juga membangun. Adalah fakta saat ini, mengutip Kompas (26,07), sebanyak 53,5 persen orang tua memang mendampingi anak, tetapi hanya 49,1 yang memeriksa konten yang dibuka anak. Pertanyaannya, bagaimana menggenjot literasi kepada keluarga? Cara utama dan pertama adalah menggairahkan komunikasi yang lancar di keluarga. Sebab, merawat keluarga itu setara dengan merawat negara.

Dalam hal ini, keluarga—ayah, ibu, anak—harus saling bersentuhan dan berbicara secara verbal setiap harinya. Ini tentu hanya akan bisa dilakukan jika kemelekatan sebuah keluarga sudah baik. Kemelekatan ini bisa dibangun, bahkan dirangsang. Caranya, berikan waktu khusus setiap pagi atau malam harinya untuk bercengkerama, curhat, dengan sesama anggota keluarga lainnya. Untuk itu, kita harus membuat sebuah mata pelajaran baru di sekolah: komunikasi keluarga. Teknisnya, guru harus memberikan PR yang harus dikerjakan melalui curhat dengan keluarga. Saya yakin, kalau ada PR seperti ini, komunikasi anggota keluarga akan semakin berdenyut, dan dengan sendirinya, literasi digital pun akan semakin produktif. Semoga!

Riduan Situmorang

Pegiat Literasi, Aktif di Pusat Latihan Opera Batak Medan, serta Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan.
Riduan Situmorang

Latest posts by Riduan Situmorang (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    ckckck….mantep tenan.

  2. Fandy Saputra Reply

    mata pelajaran baru: komunikasi keluarga.
    sungguh sebuah ide yang layak diaplikasikan pada masa sekarang ini!

  3. Anonymous Reply

    setujuuu

  4. Nuriska13 Reply

    Inspiring … !

Leave a Reply

Your email address will not be published.