Venom (2018) yang Sedingin Mi Goreng Telur Asin

in Hibernasi by

Jika Anda berharap lebih terhadap film Marvel karena mereka selalu menampilkan kualitas serta kisah yang menawan maka lewatkanlah Venom. Sony masih mempertahankan sekaligus menunjukkan jika mereka bisa membuat film tanpa campur raksasa tikus. Namun daya mereka terlalu lemah. Laman seperti tomat busuk tidak bisa membantu saat Venom premiere di seluruh dunia karena ratingnya jauh dari film Marvel produksi Disney. Terlebih, saat mereka mendapat berita buruk dari fan Lady Gaga yang mencela film ini karena takut bersaing dengan film biografi Lady Gaga, A Star Is Born, yang tayang di Minggu yang sama. Setidaknya, fan Lady Gaga tidak salah kok.

Venom memberi kekecewaan bagi para penggemar MCU yang suka memberi standar bagi film terbaru Marvel. Setidaknya, jangan lagi terlihat bodoh dan culun layaknya Amazing Spider-man 2, X-men 3, Wolverine 2, Elektra, atau yang terburuk Fant4stic.

Cerita dimulai dari Eddie Brock, seorang wartawan yang disuruh mewawancarai seorang ilmuwan kaya Elon Musk Drake. Wawancara tersebut gagal karena Eddie tahu perusahaan Drake, Life Foundation, punya catatan buruk karena membunuh para orang miskin tanpa diketahui hukum. Dari sini, cerita masih agak wajar sampai 45 menit pertama. Sosok Venom belum muncul hingga saat salah seorang pegawai Life Foundation menghubungi Eddie untuk membocorkan rahasia perusahaan. Eddie berhasil memasuki perusahaan dan akhirnya terinfeksi oleh simbiot—alien dari luar angkasa yang bertemu seperti rumput laut yang berjalan.

Saat Eddie terinfeksi, sempat terlintas jika dia ini mirip Peter Parker sewaktu pertama kali tergigit laba-laba—yang dihancurkan di Amazing Spider-Man 2 karena laba-laba itu hanya bisa menggigit Peter Parker sebab ayahnyalah yang membuat laba-laba radioaktif tersebut. Eddie yang berada di dunia komik adalah rival Peter Parker dalam pekerjaan maupun saat memakai kostum, diubah di film ini.

Kemunculan Venom dalam Spider-Man 3 besutan Sam Raimi banyak orang yang membenci maupun menyukainya. Terlebih saat Venom mulai merasuki tubuh Peter Parker yang galau dan menjadi meme Emo Parker yang terkenal, menurut penulis, masih wajar. Venom di Spider-Man 3 mengubah watak Peter Parker, sedang Venom di Venom sebagai individu lain berwujud parasit yang membutuhkan inangnya, Eddie Brock. Di sini, Venom bisa berbicara dengan Eddie selayaknya punya pikiran sendiri yang menahan kehendak tubuh inangnya.

Latar belakang Venom tidak ditonjolkan dengan sempurna. Mereka cuma digambarkan sebagai alien dari luar angkasa yang berhasil kabur dari pesawat antariksa sewaktu hampir sampai ke bumi. Yang menarik di sini adalah tempat jatuhnya pesawat antariksa adalah Malaysia. Entah apa yang terjadi kalau jatuh di Indonesia: tidak ada polisi yang datang ke TKP tapi yang ada beberapa netijen yang ingin panjat sosial sekaligus admin-admin penyebar hoaks sehingga alien-alien tersebut akan mudah berkeliaran secara bebas dan tak terlacak bahkan oleh CCTV swalayan sekalipun.

Beberapa alien yang diberi nama simbiot, masih bisa tertahan dan diteliti sampai akhirnya simbiot bernama Venom bersatu dengan Eddie. Sedangkan simbiot yang berhasil kabur pertama kali dan tidak masuk ke dalam laboratorium, berusaha mengumpulkan kawan-kawannya di bumi yang mempunyai keinginan untuk kembali ke tempat asal mereka dan membawa kaum-kaum alien simbiot ke bumi.

Ini menjadi agak kabur karena simbiot ini punya kehendak, pikiran serta kemauan namun masih butuh inang sementara manusia juga butuh mereka. Elon Musk Drake awalnya membutuhkan simbiot agar menjadi sarana manusia bisa menjelajah sekaligus mengeksploitasi luar angkasa. Jadi siapakah dari kedua makhluk ini yang bertabiat membawa petaka?

Sampai pada akhirnya, simbiot terkuat sekaligus pemimpin bernama Riot bergabung dengan Drake sementara simbiot pecundang di koloninya Venom bergabung dengan Eddie yang sedang terpuruk di kehidupannya. Masing-masing dari mereka punya tujuan dan kehendak yang berbeda namun untuk apa harus membutuhkan satu dengan lainnya yang pada akhirnya memosisikan diri mereka menjadi makhluk yang terasing?

Andai kata film ini bisa mengambil sudut pandang tentang kompleksitas pandangan masing-masing makhluk, ceritanya akan lebih menarik dan berat namun pastinya tidak akan menjual tiket orang-orang yang hanya ingin melihat aksi serta penampakan Mbah Stan Lee.

Terlepas dari itu, Tom Hardy bermain receh di sini. Lupakan jika ingin melihat karakter Bane yang bengis—padahal penulis juga ingin melihat apakah Venom bisa sebengis Bane, Venom masih menyisakan humor kering. Riz Ahmed sebagai Elon Musk Drake, sosok antagonis pun juga terlihat membosankan. Chemistry kedua tokoh ini sama datarnya dengan hubungan Annie dan Eddie serta Eddie dengan Venom. Karakter-karakter yang serbananggung harus diperankan di cerita yang nanggung. Kurang maksimalnya penokohan, cerita yang serbaringkas, tidak terkatrol dengan CGI Venom yang menarik, pemeran Annie yang cantik, soundtrack yang asyik dari Eminem dan Run The Jewel. Terlebih pertempuran akhir antara Venom dan Riot yang harusnya bisa jadi titik puncak sebuah film superhero juga disajikan sedingin mi goreng telur asin.

Moral cerita yang bisa diambil dari film ini adalah jangan pernah membuat patah hati dan kecewa ilmuwan kaya karena mereka bisa saja menghancurkan dunia dengan mudah. Juga, jika Anda merasa hidup Anda pecundang… jangan khawatir. Di luar sana, di galaksi yang paling jauh yang pernah Anda bayangkan ada organisme yang sama pecundangnya dengan Anda. Berharap saja ada produser mau memperkenalkan kalian dan kalian langsung jadi makhluk terkuat dan tidak pecundang lagi hingga hidup Anda jauh lebih berarti. Tidak di bumi tentunya.

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian

Leave a Reply

Your email address will not be published.